Tangan Sebagai Medium Bahasa Tanpa Batas di Era Digital

Bahasa adalah medium tanpa batas yang dapat membawa segala sesuatu didalamnya, yaitu segala sesuatu mampu termuat dalam lapangan pemahaman manusia. Oleh karena itu ketika kita  memahami bahasa akan sangat mungkin untuk kita bisa memahami bentuk-bentuk pemahaman manusia. Bahasa juga merupakan sebagai media manusia untuk berpikir secara abstrak dimana objek-objek faktual yang ditransformasikan. Oleh sebab itu, manusia dapat berpikir mengenai tentang sebuah objek, meskipun objek itu tidak terinderakan saat proses berpikir itu dilakukan olehnya.

Islam mengajarkan bagaimana kita berbicara yang baik, didalam Al-Qur’an menyebut komunikasi atau berbicara sebagai salah satu fitrah manusia. “Tuhan yang Maha pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur’an Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara”(QS. Al-Rahman :1-4). Dari ayat tersebut diartikan bahwa Allah swt menciptakan manusia untuk dapat berbicara dan mengetahui bagaimana manusia seharusya berkomunikasi yang baik dan benar.

Al-Qur’an memberikan kata kunci (keyconcept) yang berhubungan dengan hal berbicara. Misalnya, Al-Syaukani, mengartikan kata kunci al-bayan didalam ayat tersebut sebagai kemampuan berkomunikasi. Selain itu, kata kunci yang dipergunakan Al-Qur’an untuk komunikasi adalah al-qaul.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar” (QS. Al-Nisa’ [4]: 9). Dari al-qaul ini, Jalaluddin Rakhmat menguraikan prinsip, qaulan sadidan yakni kemampuan berkata benar. Kemudian al-Syaukani dalam Tafsir Fath al-Qadir mengartikan al-bayan sebagai kemampuan berkomunikasi, yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana orang-orang seharusnya berkomunikasi dengan melihat kaidah-kaidah yang benar (qaulan sadidan).

Namun dalam perkembangannya ternyata berbicara dapat kita lakukan tidak hanya dengan menggunakan mulut saja akan tetapi berbicara dapat dilakukan dengan menggunakan organ lain seperti tangan dan kaki. Hal tersebut terdapat dalam  Q.S. Yasin (22): 65 yang berbunyi: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berbicaralah kepada Kami tangn mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan

Hampir seluruh bagian dalam kehidupan manusia dilingkupi oleh bahasa sehingga bahasa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan budaya manusia. Segala aktivitas yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupannya tidak terlepas dari unsur bahasa di dalamnya. Untuk bisa berbicara, manusia menerima rangsang baik melalui organ reseptor umum maupun khusus, impulsnya di hantarkan  melalui saraf otak kemudian dilanjutkan ke area sensorik. Pengaruh sendorik disampaikan ke area motorik untuk kembali turun ke efektor yang menghasilkan aktifitas bicara.

Selama ini Tangan dikenal sebagai alat peraba, dan pemegang yang struktur ototnya sangat fleksibel karena dapat membentuk  kekuatan  secara otomatis tanpa di atur. Ternyata saat ini tangan menjadi juru bicara yang amat kredibel  dan terpercaya, baik melalui sidikjari, tudingan jari telunjuk, tanda tangan maupun hanya sekedar “Touching”. Untuk mengetahui identitas seseorang, Daktiloskopi suatu disiplin ilmu yang mempelajari sidik jari mampu menerangkan dengan akurasi yang tinggi, karena setiap orang memiliki garis dan guratan yang satu sama lain tidak sama, yang biasa dikenal dengan sebutan Whorl atau Swirl, Arch, Loop dan Thiradus.

Baca juga: https://www.asilha.com/2019/10/03/wujudkan-perdamaian-di-tengah-hingar-bingar-politik/

Jari kedua pada tangan disebut telunjuk, disini wibawa seseorang dipertaruhkan. Semakin tinggi status sosialnya semakin berwibawa jari telunjuknya. Contohnya, saat calon pembeli masuk ke sebuah toko lalu jari telunjuknya menunjuk barang tertentu, pelayan toko akan tergegas mengambilakan barang yang ia tunjuk, dan begitupun seorang bos dengan muka merah menunjuk nunjuk ke arah tertentu bisa di artikan bahwa ada persoalan penting yang harus diselesaikan.

Disamping sebagai pertanggung jawaban atas seseorang lakukan, Tandatangan juga bisa dipakai untuk mengetahui kepribadian, emosi dan kecerdasan. Konon tandatangan yang besar dibading tulisanya menunjukan bahwa yang bersangkutan memiliki rasa percaya diriyang tinggi, sedang bentuk miring  ke kanan pada tandatangan menujukan yang bersangkutan punya kepedulian tinggi.

Contoh lain misalnya, orang yang menyukai gadget baik yang berbasis Android maupun Windows Phone sangat akrab dengan teknologi sentuh. University of Toronto pada tahun pada tahun 1982, getol mengembangkan multi touch. Seiring perkembangnnya pada tahun 1990 an, ilmuwan komputer Andrew Sears  melakukan studi akademis tentang interaksi manusia dan komputer. Studi tersebut menjelaskan bagaimana gerakan Single Touch seperti memutar tombol, menggesek, dan menggeser untuk mengaktifkan, kemudian multi touch  untuk menghubungkan objek dan menekan untuk memilih.

Hari ini publik menyaksikan dan menikmati peran Touchscreen yang semakin maju dan fantastis dalam  hiruk pikuk lalulintas bicara antar sesama. Namun disatusisi, perkembangan multi touch atau Touchscreen juga dapat menjadikan dampak buruk dalam moralitas sosial dan masyarakat. Seperti contoh, ketika dalam perkumpulan, dijalan, dan di sekolahan. Penggunaan smart phone yang berlebihan ternyata dapat membuat pengguna semakin acuh dan tidak memperdulikan teman, sodara dan guru yang ada dihadapannya. Oleh sebab itu, dalam hal ini penting kiranya keseimbangan dalam perkembangan teknologi multi touch ( smart phone ) dengan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Hal tersebut bertujuan untuk kemaslahatan bersama. Dengan demikian, kemajuan teknologi bukan justru mengkikis moral dan nilai-nilai luhur sosial melainkan dapat menjadikan jalan dalam kesejahtraan masyarakat.

Dani Habibi, Mahasiswa SQH Pascasarjana Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

738 total views, 15 views today

Posted in Kajian.