Perspektif Konsep Makki dan Madani pada Hadis Nabi saw.

Hadis sebagai ajaran Islam telah tersampaikan dari Rasulullah saw. kepada para sahabat yang menjadi pendengar serta pembela ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Perjalanan dakwah tersebut tidaklah pendek. Setidaknya, Rasulullah saw. menghabiskan waktu selama ±22 tahun terhitung sejak masa kenabian (nubuwwah). Fase tersebut selanjutnya dibagi dalam dua periode, yakni periode saat berada di kota Mekkah selama 12 tahun dan periode kedua saat di kota Madinah selama 10 tahun. Kedua durasi yang menjadi fase dakwah Rasulullah saw. tersebut dibatasi oleh peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. pada tahun 622 M.

Hal di atas kemudian menghasilkan teori Makki dan Madani sebagaimana yang berkembang di dunia studi ilmu al-Qur’an. Setidaknya  kajian atas hal tersebut dilakukan oleh beragam ulama klasik maupun kontemporer. Mereka itu Antara lain al-Suyuthi (w. 911 H.), al-Zarkashi (w. 794 H.) selanjutnya diikuti oleh al-Zarqani dan al-Qattan. Mereka menjadikan konsep  Makki Madani dalam tiga perspektif, yaitu masa turun (tartib zaman), tempat turun (tahdid makani) dan obyek pembicaraan (ta’yin shakhsi).

Perspektif yang pertama, tartib zaman, diambil dari asumsi waktu (zaman) dan peristiwa-peristiwa yang secara berurutan dihadapi Rasulullah saw. Dalam perspektif ini, peristiwa yang dialami Rasulullah saw. terbagi atas dua fase, yakni pra hijrah dan pasca hijrah (ke kota Madinah). Apabila merujuk pada konsep Makki Madani dalam Ulum al-Qur’an, maka akan ditemukan ayat-ayat yang diklasifikasikan ke dalam dua perspektif tersebut, yaitu ayat-ayat yang turun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah dan setelah hijrah.

Secara umum, peristiwa-peristiwa yang dialami Rasulullah saw. pada pra hijrah adalah masuk islamnya Hamzah dan Umar; wafatnya Abu Thalib dan Khadijah binti Khuwailid; hijrah ke Habasyah; kenabian (Nubuwwah); Isra’ dan Mi’raj; Baiat Aqabah 1&2; kisah terbunuhnya Sumayyah; dll. Sedangkan pada pasca hijrah meliputi Piagam Madinah; Perang Badr, Uhud, Khandaq, Khaibar, Tabuk; Perjanjian Hudaibiyah; Fath al Makkah; Haji Wada’ dan wafatnya Rasulullah. Semisal ayat dalam al-Quran yang dapat terkategorikan dalam perpektif yang pertama adalah Q.S. al-Nisa’ (4): 58 (peristiwa Fath al Makkah) adalah ayat Madaniyah walaupun tidak turun di kota Madinah.

Perpektif yang kedua, tahdid makani, dibangun atas pandangan tempat yang menjadi turunnya suatu ayat dalam Ulum al Qur’an. Apabila ayat turun di kota Mekkah ataupun sekitarnya (Mina, Hudaibiyah, dan Arafah) maka ayat tersbeut dikatakan Makkiyah. Begitupun sebaliknya bila ayat diturunkan di kota Madinah maupun sekitarnya (Uhud, Quba, Sul’a) maka ayat tersebut adalah Madaniyah. Namun pendapat ini terdapat titik kelemahannya, melihat banyak ayat yang tidak turun diantara dan/ atau jauh dari dua kota tersebut. Ahyat tersebut antara lain QS. al-Taubah (9): 42 yang turun di Tabuk; Q.S. al-Zukhruf (43) : 45 di diturunkan di Bayt al Muqaddas; QS. Al-Fath (48): 48 yang ditgurunkan di antara perjalanan Mekkah dan Madinah.

Ketiga adalah perspektif yang diambil dari obyek pembicaraan atau dengan diksi yang digunakan ayat pada mad’u. Diksi tersebut berupa yaa ayyuha an naas dan yaa ayyuha al mu’minuun. Dalam perspektif ini, kalimat seruan yang pertama merujuk pada Makkiyah, dikarenakan konteks kemasyarakatan saat itu adalah kaum Quraisy yang masih ingkar, sehingga diksi yang digunakan dalam ayat tersebut lebih universal. Sedangkan diksi seruan yang kedua merujuk pada Madani, karena konstruksi masyarakat yang menerima ajaran Rasulullah (mu’min), sehingga diksi yang dipakai lebih spesifik. Namun dalam perspektif ini pun terdapat kelemahan seperti dalam QS. al-Baqarah (2): 21 dan 168 yang diawali dengan diksi seruan pertama, namun melihat al Baqarah adalah surat Madaniyah.

Dari ketiga perspektif yang diambil dari pendekatan Makki Madani pada Ulum al Qur’an, perspektif pertama yang dirasa tepat karena tersistematis pada urutan peristiwa dan waktu yang dialami Rasulullah saw. ketika pra hijrah yang dikategorikan Makkiyah dan pasca hijrah yang dikategorikan Madaniyah. Hal ini menimbang dari perspektif kedua dan ketiga yang sulit bila dipraktikkan dalam konteks hadis Rasulullah saw.

Kedua, adalah pendekatan yang diambil dari periwayat pertama yang menjadi saksi langsung terhadap Rasulullah saw. Hadis yang dianggap Makkiyah bila, diriwayatkan oleh seorang sahabat yang meninggal sebelum Rasulullah hijrah, dalam hal ini adalah Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah) dan Abu Thalib (paman Rasulullah), diriwayatkan oleh sahabat yang tergolong assabiquna al awwalun dan menerima hadis sebelum hijrahnya Rasulullah, dalam hal ini seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab, semisal hadisnya mengenai masuknya Umar setelah Hamzah sebelum hijrahnya Rasulullah.

Sedangkan hadis yang dikategorikan dalam hadis Madaniyah apabila, (a) Diriwayatkan dari kaum Anshor, seperti Abu Darda’ (32 H.), Muadz bin Jabal (18 H.), Usamah bin Zaid (54 H.), Ubay bin Ka’ab (19 H.), dll.; (b) Diriwayatkan dari sahabat yang memeluk Islam setelah hijrah ke Madinah, seperti Abu Hurairah (58 H.), Amr bin ‘Ash (40 H.), Abdullah bin Salam (43 H.), dll.

Berdasarkan ulasan di atas  dapat ditarik kesimpulan bila bahasan Makki Madani pada hadis bisa mengambil dua pendekatan di atas.  Hal tersebut setidaknya menurut kaidah dalam Ulum al-Qur’an serta periwayat pertama yang menjadi saksi atas hadis Rasulullah saw. Namun, hal tersebut patut digarisbawahi untuk pendekatan menggunkan Ulum al-Qur’an bahwa al-Quran turun kepada Rasulullah saw. dan menyampaikan dakwahnya kepada para sahabat serta melihat fungsi bahwa hadis sebagai penguat al-Quran. Atas dasar itgulah, penerapan kaidah Makki Madani dalam al-Quran sah-sah saja bila diterapkan dalam kajian hadis. (PPP/MAS)

 

Perdana Putra Pangestu

Prodi Ilmu Hadis

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

711 total views, 3 views today

Posted in Kajian.