KONTRIBUSI ORIENTALIS, A.J. WENSINCK, TERHADAP KEILMUAN HADIS DI DUNIA INTERNASIONAL

Dalam kegiatan takhrij al-hadis dikenal istilah beragam pencarian hadis yang jumlah metodenya sebanyak lima macam. Dua metode dalam pencarian tersebut dikenalkan oleh orientalis, yaitu metode poencarian kata-kata dalam sebuah kalimat hadis dan tema  dari sebuah hadis. Kedua kitab yang dihasilkan oleh A.J. Wensinck  dibahas dalam artikel singkat ini. Kedua kitab tersebut dikenal dengan al-Mu’jam Mufahras li Alfaz al-Hadis al-Nabawi dan Miftah Kunuz al-Sunnah. Kedua kitab tersebut asalnya berbahasa lain. Adapun yang berjasa dalam mengubah ke dalam Bahasa Arab adalah Muhammad Fuad Abdul Baqi.

Orientalis yang berjasa dalam dunia hadis adalah A.J Weinsinck. Ia seorang ilmuwan yang lahir di Aarlanderveen, Belanda pada tahun 1882. Kiprah inteltualnya dilaluinya dengan menjadi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda sejak tahun 2917. Ia terpikat pada bidang kajian mistisisme kristen maupun Islam, yang dikemudian hari menulis karya akbar yang bermanfaat bagi keilmuan Islam secara umum, dan hadis secara khusus. Di tahun 1927 pun ia menggantikan seniornya yang lebih dulu terfokus pada kajian keislaman, Snouck Hurgronje, untuk menjadi Ketua Studi Bahasa Arab di Universitas Leiden.

A.J. Weinsinck berhasil memberikan pengaruh serta kontribusi bagi keilmuan hadis, diantaranya ia menyusun buku indeks yang berjudul A Handbook of Early Muhammadan Tradition : Alphabetically Arranged yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa arab oleh Muhammad Fuad al Baqi menjadi Miftah Kunuz as Sunnah. Dalam indeks ini, kita dapat mencari periwayat hadis, kutipan mengenai teks (matan) hadis tanpa perlu mencari satu persatu di kitab-kitab hadis. Dengan mencari kata kunci atau inti kalimat pada suatu teks (matan) hadis, kita bisa mudah menemukannya serta mengetahui letak hadis tersebut dan dilanjutkan dengan klarifikasi pada kitab yang dituju.

Memang suatu produk tidak terlepas dari kekurangan, ini pun menyertai karya A.J. Weinsinck tersebut. Dikarenakan dalam kitab indeks ini memuat kitab-kitab (turats) cetakan sebelum tahun 1939, sementara kitab-kitab tersebut sudah mengalami reproduksi massal dengan berbagai edisi, yang memungkinkan pula terjadi perubahan dari aspek halaman, jilid dan sebagainya, sehingga terkadang petunjuk yang kita temukan dalam kitab karya Weinsinck tersebut tidak lagi sama persis dengan kitab-kitab yang telah di terbit ulang tersebut.

Selain itu, karya A.J. Weinsinck yang fenomenal adalah al Mu’jam al Mufahraz li Alfaz al Hadis al Nabawi. Kitab ini berisi tentang kamus hadis yang merujuk pada kitab hadis primer yang masyhur seperti Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan at Tirmidzi, Sunan an Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Muwattha’ Imam Malik yang terdiri dari tujuh jilid. Dengan menggunakan kitab Mu’jam ini, pengkaji hadis tidak akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan hadis (takhrij) yang diinginkan, karena didalamnya memuat letak hadis-hadis yang dicari.

Bila dilacak dari aspek historis, gagasan untuk penyusunan kitab Mu’jam ini sudah ada sejak tahun 1916. Latar belakang disusunnya Mu’jam ini pun adalah dampak dari kesulitan-kesulitan yang ditemui oleh para pengkaji hadis, terkhusus di Barat, dalam menemukan dan menghimpun hadis-hadis yang ingin dikaji yang tersebar dalam koleksi kitab-kitab hadis. Walaupun pada kenyataannya, hadis-hadis dalam kitab-kitab hadis telah disusuk sedemikian rupa dalam sub bahsan yang khusus, namun tetap saja para pengkajinya sulit untuk mengumpulkan hadis-hadis tersebut secara kolektif.

Dalam penyusunannya, A.J. Weinsinck pun melakukan berbagai usaha untuk merealisasikan megaproyeknya ini. Pertama, ia memperkenalkan gagasan melalui sosialisasi massal kepada dunia akademik internasional. Kedua, ia mengundang para akademisi internasional, sarjana-sarjana barat untuk turut andil dalam penyusunan kitab ini. Ketiga, mengorganisir kerja dalam tim yang ia dapatkan dan ia bentuk untuk mendapatkan sebuah karya yang sistematis. Keempat, melakukan penggalangan dana untuk proyeknya tersebut.

Dapat dibilang, karya yang bermula dari gagasan Weinsinck ini adalah prestasi yang gemilang bagi kesarjanaan barat secara umum. Dikarenakan hal ini terjadi pada saat masa-masa Perang Dunia ke-I yang mana saat itu kajian ketimuran sedang mengalami kemunduran yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya para orientalis maupun calon sarjana oriental saat itu, kurangnya dana penelitian, hingga problem dalam negeri (domestik) yang dialami negara-negara eropa.

Dalam hal ini, hendaknya kita pun sebagai peneliti dan pengkaji terhadap keilmuan hadis, dapat berkontribusi dalam keilmuan hadis yang masih banyak belum dikenal dan dimasifkan kepada dunia dengan meniru misi A.J. Weinsinck diatas. Tentunya dapat diakui secara metodologis ilmiah akan menjadikan hadis menjadi objek yang cukup vital untuk dikaji, sehingga hasil dari penelitian tersebut dapat bermanfaat untuk keilmuan hadis itu sendiri, maupun keilmuan internasional secara umum. Dari titik inilah, akan muncul secara berkelanjutan potensi dan eksistensi islam di kancah keilmuan dunia. (PPP)

 

Perdana Putra Pangestu

Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

tahun Angkatan 2018

447 total views, 6 views today

Posted in Kajian.