ILMIAH DAN PERSAHABATAN: Tradisi Mulia Ulama Hadis dalam Wacana Kaedah al-Jarh wa al-Ta’dil; Qaul (Jarh) al-Mu’ashir ‘ala al-Mu’ashir laa Yuqbal

Ilmiah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu bersifat ilmu atau memenuhi syarat ilmu pengetahuan, sementara kata persahabatan adalah perhubungan selaku sahabat atau teman. Dua kata yang berlainan ini secara faktual telah ikut memberikan sumbangsih bagi tradisi mulia studi Islam khususnya studi hadis. Tradisi ilmiah ulama hadis dalam menjaga sebuah ilmu dengan berbagai cara seperti dialog ilmiah, kritis terhadap karya orang lain serta menjaga dan menghargai keorisinilan pendapat atau ide seseorang sehingga plagiasi yang di zaman kini menjadi musuh bagi semua civitas akademika tidak memperoleh tempat bagi ahli hadis.

Persahabatan dapat terjadi bagi mereka yang hidup sezaman atau hidup di satu masa yang sama. Akan tetapi disebabkan beberapa faktor, seperti perbedaan ideologi, mazhab, kepentingan dan sebagainya maka terkadang persahabatan di antara ulama mengalami pasang surut. Fenomena ini merupakan salah satu faktor munculnya kaedah Qaul (Jarh) al-Mu’ashir ‘ala al-Mu’ashir laa Yuqbal bahwa kritikan seorang ulama kepada ulama lainnya yang hidup semasa tidak dapat diterima; kritikannya sia-sia. Meski demikian tak semua kritikan antara sesama ulama ditolak, sebab di antara kritikan tersebut tentu ada yang bersifat ilmiah. Isyarat ini telah al-Laknawi (w. 1304 H) kemukakan dalam karyanya al-Raf’u wa al-Takmil fi al-Jarh wa al-Ta’dil, meski tak terlalu merinci lebih detail tentang apa sesungguhnya kritikan yang dapat ditolak dan yang diterima, namun menurut ahli hadis bermazhab Hanafi asal India tersebut, kritikan tersebut tetap dapat diterima bila memiliki dalil dan keterangan.   

Aspek ilmiah menjadi barometer utama dalam kritik sesama ulama hadis yang hidup sezaman. Kaedah al-Jarh wa al-ta’dil di atas harus dipahami bahwa kritikan yang hanya berdasar sengketa pribadi antara dua orang ulama seperti Imam Malik (w. 179 H) dengan Ibn Abi Dzi’ib (w. 159 H) atau  antara al-Sakhawi (w. 902 H/1497 M) dengan al-Suyuthi (w. 911 H) tidak berlaku. Demikian pula karena perbedaan mazhab seperti antara al-Tsauri (w. 161 H) dengan Imam Hanafi (w. 150 H), atau sebab-sebab lain yang tidak ilmiah. Memang terkadang sikap ilmiah dalam sejarah ulama hadis juga memiliki bentuk yang antagonis, yang dapat disebutkan yaitu: (1) sesuatu yang bersifat mengembangkan keilmuan tidaklah menjadikan persahabatan antara mereka menjadi renggang; (2), sebaliknya persahabatan menjadi cedera lantaran sikap ilmiah tidak dijaga; (3) Selain itu, lantaran persahabatan pula menjadikan sikap ilmiah mereka seolah tersandera. Dalam sejarah ulama hadis, ilmiah dan persahabatan yang tetap berpijak pada kaedah al-Jarh wa al-Ta’dil di atas dapat dilihat dalam kisah dialog al-Syafi’i (w. 204 H), ketegasan al-Suyuthi (w. 911 H) atas tindakan plagiasi, dan kritikan ilmiah Ibn Hajar (w. 852 H).

Dialog Imam Syafi’i (w. 204 H) dengan al-Syaibani (w. 189 H)

Kedua orang tersebut dalam lembaran-lembaran sejarah telah menampilkan keunikan-keunikan, di mana terjadi dialog yang sangat tajam bahkan terkesan menjatuhkan antara kedua tokoh yang berbeda mazhab fiqh tersebut (Tarikh Baqdad, Tarikh Ibn al-Wardiy, Nur al-Abshar…). Namun kemesraan dan hubungan antara keduanya tetap terjaga bahkan al-Syafi’iy bersikap obyektif dengan memuji kelebihan al-Syaibaniy tentang kefasihan bahasanya sangat mirip dengan bahasa yang ada dalam al-Qur’an (Syadzarat al-Dzahab…).

Meski terdapat beberapa laporan bahwa di antara mereka berdua terjadi persaingan yang tidak sehat, tetapi berita tersebut menurut Syu’aib al-Arnawuth (w. 1438 H/2016 M) mengutip Ibn Katsir (w. 774 H) dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, tidaklah demikian adanya, atau apa yang digambarkan tentang permusuhan mereka berdua sesungguhnya tidak seperti itu (dalam Tahqiq Siyar A’lam al-Nubala). Apa yang ditampilkan dalam fragmen-fragmen dialog al-Syafi’iy dengan al-Syaibaniy sesungguhnya menjadi spirit utama dalam obyektiftas sebuah karya dan dialog ilmiah. Tidak sedikit ulama dahulu berdialog, debat bahkan menulis kitab dengan judul menolak pandangan atau pendapat  (al-Raddu ‘ala…). Tradisi ini seharusnya lebih terasa di zaman kini karena kelengkapan media social dan elektronik.

Ketegasan al-Suyuthi atas Tindakan Plagiat

Rupanya plagiat yang di masa sekarang menjadi musuh di dunia pendidikan, bahkan dapat menganulir titel akademik seseorang, telah menjadi perhatian khusus ulama hadis dahulu. Begitu pentingnya menulis sumber asal dari mana kita memperoleh sebuah informasi mengharuskan seseorang bersikap hati-hati dan jujur. Terkadang ditemukan bentuk plagiat yang tidak langsung karena seseorang tidak mencantumkan sumber yang diambilnya namun dia menulis sumber yang tertera dalam catatan kaki atau daftar pustaka dari sebuah buku, jurnal tanpa menyebutkan penulis dari buku atau jurnal tersebut. Padahal dengan menyebut sumber pengambilan beserta penulisnya, di sana seseorang akan menghargai ide, pikiran, bahasa, terjemahan dari penulis yang telah mengubah dan menyederhanakan hal-hal tersebut dari sumber awal yang mungkin rumit.

Dalam konteks ini, al-Suyuthi seorang ulama terkenal pernah memarahi al-Qasthalaniy (w. 923 H) pengarang kitab Irsyad al-Sariy li Syarh Shahih al-Bukhari lantaran al-Qastahalniy menukil pendapat al-Baihaqi yang awalnya ada dalam tulisan al-Suyuthi, namun al-Qasthalaniy tidak menyebutkan bahwa ia menukil pendapat tersebut dari karya al-Suyuthi, sehingga seolah-olah al-Qasthalaniy menukil langsung dari al-Baihaqi, padahal tidak demikian faktanya. Bahkan persengketaan mereka dibawa sampai ke ulama senior saat itu; Syech Zakariyya al-Anshariy (823-926 H). Meski al-Suyuthi telah memberi maaf, konon ia tetap tidak mau bertemu dan tidak membukakan pintu saat al-Qasthalaniy berkunjung ke rumahnya (al-Nur al-Safir ‘an Akhbar al-Qarn al-‘Asyir).    

Kritikan Ilmiah Ibn Hajar al-Asqalani

Ulama hadis dengan gelar amir al-mu’minin fi al-hadis ini memiliki banyak karya di bidang studi hadis.  Sikap krtitis Ibn Hajar terlihat dari istidraknya (perbaikan dan lainnya) atas hasil takhirj gurunya yaitu al-Iraqiy (w. 806 H) terhadap hadis dalam kitab Ihya ‘Ulum al-Din, meski penilaian Ibn Hajar tersebut setelah gurunya wafat. Dalam konteks kritikan pada mereka yang sezaman, Ibn Hajar juga melayangkan aneka kritikan pada kitab Majma’ al-Zawaid wa manba’ al-Fawaid karya al-Haitsami (w. 807 H) yang tak lain adalah kakak seperguruan Ibn Hajar. Kritikan Ibn Hajar nampaknya hanya berupa komentar-komentar lepas, mungkin saat dia mengajar atau sedang dialog dengan murid-muridnya.

Sayangnya kritikan ilmiah Ibn Hajar terhenti karena melihat penilainnya membuat al-Haitsami merasa tak nyaman dan nampaknya sulit untuk menjawab secara ilmiah kritikan tersebut. Setelah menggambarkan kedekatannya dengan al-Haitsami, Ibn Hajar berkata: …”telah sampai padanya (al-Haitsami) bahwa aku mengikuti (mengamati, memeriksa) waham-wahamnya (kekeliruan) saat ia menilai hadis dalam karyanya, lalu ia menegurku maka aku tinggalkan hal itu sampai sekarang dan meneruskan (menyambung) tali cinta dan kasih saying…” (al-Dau‘u al-Lami‘). Persahabatan telah terjadi di antara al-Haitsami dan Ibn Hajar menyebabkan pengarang Fath al-Bariy tersebut ewuh pakewuh dan tidak melanjutkan kritik ilmiah sebab di antara mereka telah terjalin kasih sayang sebagai kakak beradik dari seorang guru.

Sikap ilmiah dan persahabatan dalam tiga kejadian di atas menjelaskan tentang pentingya melakukan dialog, kritikan dan tanggapan ilmiah pada mereka yang terbiasa melakukan hal tersebut tanpa mengubah persahabatan menjadi sebuah permusuhan, tidak boleh melanggar etika ilmiah dengan memanfaatkan sahabat sebagai lahan untuk bersikap curang (sariq ilm) dan bahwa persahabatan dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang. Tiga peristiwa empiris tersebut juga menegaskan akan logika kaedah Qaul (Jarh) al-Mu’ashir ‘ala al-Mu’ashir laa Yuqbal, tidak berlaku secara umum melainkan berlaku dengan alasan ilmiah

 

Kartasura, 31 Oktober 2019

Oleh: Ja’far Assagaf

(Anggota Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia Bidang Riset dan Pengembangan Ilmu)

1,260 total views, 6 views today

Posted in Kajian.