Wujudkan Perdamaian di Tengah Hingar Bingar Politik

Berbagai rentetan kasus intoleransi yang terjadi belakangan ini di daerah-daerah adalah sebuah signal terkikisnya moral, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pancasila sudah sepatutnya segera mengatasi kasus-kasus tersebut. Oleh karenanya, jangan sampai di kota-kota maupun di tempat lainnya di negeri ini diterpa persoalan sebagaiamana yang dikatakan al-Farabi disebut kota jahiliyah (al-mudun al-jahiliyyah). Sejatinya kita bisa berkaca pada mata air keteladanan Rasulullah SAW untuk mewujudkan The city of Tolerance.

Sejarah kehidupan manusia yang panjang telah melahirkan kreativitas budaya dalam berbagai hal, termasuk kreativitas spiritual. Dari kreativitas spiritualnya menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk spiritual (homo religius) (Amstrong, 1993, hal. xix). Setiap orang memiliki hak beragama sesuai dengan keyakinan individu masing-masing, oleh sebab itu memeluk agama merupakan pengejewantahan dari keyakinan akan adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Sebagai Orang hidup itu akan menemui kematian, sesuai dengan firman Allah: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan” (QS. Al-Ankabuut: 57).

Penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam dengan negara yang mampu mengayomi berbagai aliran agama sehingga keagamaan dan keberagamaan warga negaranya tercipta harmonis, bahkan memberikan pengakuan akan adanya berbagai aliran agama yang hidup dan berkembang di Indonesia. Tidak dipungkiri lagi hal demikian merupakan realitas yang tak terbantahkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Dengan keanekaragaman suku, agama, ras, dan antargolongan yang berbeda-beda, tetapi tetap satu “Bhineka Tunggal Ika”. Interpretasi dari kata ini mengandung pemaknaan akan fenomena sosial yang ada dan terjadi terhadap bangsa ini, di satu sisi adanya kesadaran akan perbedaan, dan di sisi lain perlunya persatuan dan kesatuan.

Kajian mengenai kerukunan beragama menjadi penting karena sentimen-sentimen keagamaan sering berujung pada konflik ketegangan dan pertikaian hingga berdarah-darah. Tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga di belahan bumi lainnya seperti di India antara kaum Sikh, Hindu, dan Islam; di negara bekas Yugoslavia antara Muslim-Bosnia dengan Kristen-Serbia, di Filipina Selatan antara kelompok Islam Moro dan kelompok Kristen, serta kerusuhan-kerusuhan di Libanon. Jika kita perdalam lagi bahwa kekisruhan antaragama pada awalnya didominasi oleh faktor dengan latar belakang politik-ekonomi dimana agama sering dijadikan sumbu untuk menggembor-gemborkan, sehingga tidak dipungkiri lagi agama di jadikan sebagai ajang konflik agama

Di Indonesia, kerap  terjadi kerusuhan yang disebabkan oleh isu-isu sentimen keagamaan dengan berbagai problematika yang beraneka ragam, sepertihalnya kasus Poso, Maluku, dan di tempat-tempat lainnya. Tidak bisa dipungkiri, meski faktor sosial, politik, ekonomi yang cukup menggoyahkan warga. Sangat disayangkan jika agama tidak bisa ditampik perannya dalam konflik sosial. Salah satu faktor dengan sikap kurangnya toleran terhadap pemeluk agama lain (TB. Simantupang, 1992, hal. 131).

Melihat kondisi ini, perlu diupayakan suatu cara yang dapat digunakan untuk memperbaiki hubungan antarumat beragama. Untuk menghindari disharmoni antarumat beragama, membutuhkan berbagai upaya seperti dialog antarumat beragama yang diikuti sikap saling rendah hati, terbuka, saling menghargai, menghormati, dan mengembangkan sikap saling toleransi .

Cara lain untuk menciptakan kerukunan umat beragama adalah mengkaji kerangka analisis epistemologi Islam tentang dasar-dasar kerukunan umat beragama. Epistemologi Islam berbeda dengan epistemologi Barat modern yang tidak mempercayai sumber kebenaran wahyu maupun intuisi (K.Bertens, 1996). Demikian juga kecerdasan spiritual yang menjadi salah satu piranti pencarian kebenaran. Epistemologi Islam mempercayai adanya sumber kebenaran wahyu, akal, empirik, dan intuisi. Metode dan alat yang digunakan dalam mencari kebenaran adalah rasio, empirik, intuisi, dan petunjuk wahyu.

Epistemologi Islam ini dijadikan sebagai pisau analisis atau landasan untuk menggali sumber-sumber kebenaran terkait dengan dasar-dasar kerukunan umat beragama dalam Hadits-hadits Nabi, dalam rangka menemukan dasar-dasar kerukunan hidup antar umat beragama, yang nantinya diharapkan tumbuh kesadaran untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Langkah ini diharapkan juga menjadi salah satu titik temu yang menjembatani terealisasinya kerukunan umat beragama, khususnya di Indonesia. Gagasan manusia tentang Tuhan memiliki sejarah yang panjang. Oleh karenanya, wajar jika setiap manusia atau kelompok manusia memiliki keyakinan yang berbeda-beda. Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan nabi-nabi sesudahnya semua mengalami pengalaman ketuhanan dengan cara yang berbeda. Setidaknya jika disimak, dalam tiga agama besar, Yahudi, Nashrani, dan Islam, tidak ada pandangan yang objektif tentang Tuhan, karena setiap generasi ternyata menciptakan citra tentang Tuhan yang belum tentu sama antarsatu generasi dengan generasi yang lain.

Kreativitas manusia yang selalu rindu akan Tuhan, adalah bukti bahwa ada agama pencarian atau hasil kreativitas spiritual dan akal manusia untuk mencari Tuhan. Sesuatu yang dianggap sebagai realitas dasar, sumber kehidupan, atau Tuhan, dan dijadikan landasan serta sumber norma dalam kehidupannya. Sejarah panjang yang sarat dengan spirit mencari Tuhan ini telah menjadi kausalitas mengapa di bumi terdapat pluralitas agama. Masing-masing agama tidak jarang teguh dengan pendirian kebenaran yang diyakini masing-masing, bahkan cenderung ekslusif.

Adanya pluralitas agama telah menjadi keniscayaan. Tidak adanya kedewasaan dan kebesaran jiwauntuk menerima kenyataan ini akan mengakibatkan munculnya benih-benih disharmoni antarumat beragama. Oleh karena itu, semua pemeluk agama mestinya menyadari akan hal tersebut.Salah satu upaya untuk membangun kerukunan umat beragama dapat dilakukan dengan membedah teologi agama-agama. Relevan dengan ini, penulis mencoba menyingkap teologi Islam, terkait dengan hadis-hadis Nabi yang memberi pedoman untuk bertoleransi, berdemokrasi dan kemerdekaan beragama. Penulis berupaya mencari dasar-dasar legal yang memungkinkan orang untuk dapat hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain. Dari sini diharapkan ada sebuah pijakan yang berangkat dari kesadaran bersama untuk memperhatikan pluralitas dari dalam teologi sendiri.

Kepemimpinan Rasulullah saw. di Madinah menunjukkan bahwa beliau mengakui kebhinekaan (pluralitas). Hal tersebut setidaknya dalam pribadi Rasulullah  saw. telah mampu mempersatukan berbagai keanekaragaman atau kelompok masyarakat yang ada di Madinah yang sejak berpuluh tahun bermusuhan. Bahkan, beliau berhasil menjunjung rasa toleran atar warga Madinah untuk lebih mencintai, memelihara, dan mempertahankan Negara Madinah melalui tenggang rasa dan persatuan persaudaraan antarsuku. Untuk menetraltan politik Nabi Muhammad memutuskan dengan menyusun deklarasi politik berupa Deklarasi Madinah yang dikenal dengan Piagam Madinah. Dengan demikian, keberagaman di Madinah merupakan bagian dari Islam yang berkembang bersama dengan komunitas lainnya.

Doktrin agama—agama apapun jika hanya diterima begitu saja, tanpa adanya upaya pemahaman melalui analisis logis, pembuktian secara empiris, refleksi secara intuitif, mengantarkan pada ideologi yang eksklusif. Sementara ideologi agama yang eksklusif dapat mengentarkan seseorang untuk berbuat ekstrim, bahkan menciptakan konflik yang mengganggu. Hal ini dikarenakan, sebuah aktivitas publik akan dapat berjalan ketika ada konsensus antara kelompok yang berbeda, tanpa ada konflik, karena konflik menyebabkan kesulitan dalam mengatur segala sesuatu. Dengan demikian,  melalui gerakan tentang perdaiaman tersebut menjadikan perbedaan yang berasal dari sesama maupun antar etnitas menjadikan kebersamaan menjadi indah.

Nikmatus Saniyah

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

115 total views, 3 views today

Posted in Opini.