Dosen Muda Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) Karyanya di Bedah pada Forum AICIS 2019

Pertemuan tahunan akademisi PTKI tahun ini memasuki usia ke 19. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 1-4 Oktober 2019, acara tahunan Annual Internasional Conference on Islamic Studies (AICIS) dihelat di Mercure Jakarta Batavia, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, peserta yang hadir tidak hanya dari para akademisi dan pakar di lingkungan PTKIN dan non-PTKIN di Indonesia, melainkan juga dari mancanegara.

Salah satu program unik selama acara AICIS ini adalah adanya program Book Review. Dalam bidang hadis, buku yang berhasil dibedah berjudul, Islam Virtual: Diskursus Hadis, Otoritas dan Dinamika Keberislaman di Media Sosial (terbit Agustus 2019) yang ditulis oleh Miski Mudin. Dia seorang dosen di lingkungan UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang dan alumni Prodi S1 dan S2 Tafsir Hadis sekaligus anggota Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA).

Buku di atas diperuntukkan kepada masyakat luas. Hal tersebut sebagaimana paparan penulis, Miski menjelaskan bahwa buku di atas tidak dispesifikkan untuk kalangan akademisi saja melainkan untuk seluruh lapisan masyarakat. Oleh karenanya tidak heran apabila kemudian kajian di dalamnya pun tidak mendalam pada tema tertentu.

Di antara bagian yang dibidik dalam buku tersebut adalah fenomena keberadaan hadis di Media Sosial pada penggunanya di Indonesia. Diakui oleh Miski, maraknya materi-materi keagamaan tanpa terkecuali hadis-hadis Nabi, terutama yang identik dengan meme dan video, lebih tepat dikatakan semakin marak seiring populernya istlah ‘hijrah.’ Tentu, dengan terminologi ‘hijrah’ yang sudah dispesifikkan. Misalnya, dari perilaku yang tidak sesuai aturan syariah menuju perilaku yang sesuai syariah. Hanya saja, sesuai atau tidak dengan syariah atau tidak, parameter yang digunakan adalah ideologi, aliran atau model pemahaman keagamaannya sendiri.

Lebih jauh dia menegaskan, aktivitas hijrah yang dimaksud biasanya berkaitan dengan simbol-simbol dan atribut-atribut agama, misal, dari yang sebelumnya tidak bercelana cinkrang menjadi penggemar celana cingkrang, sebelumnya tidak berjenggot menjadi pemilik jenggot lebat, sebelumnya tidak mengenakan kerudung lebar menjadi aktif mengenakan busana lebar lengkap dengan cadarnya.

Dan sebagai titik penting, pada acara yang diformat sangat santai ini, dia mengatakan, “Sebenarnya tidak ada pergeseran otoritas dalam konteks hadis. Hadis tetap sebagai bagian terpenting dalam kehidupan beragama. Di media sosial sekalipun. Yang bergeser adalah tentang siapa yang menafsirkan.” Dia pun mengatakan, “Tidak ada ‘kepakaran yang mati.’ Yang ada hanya tidak banyak orang yang mau menyeburkan diri dalam kubangan media sosial. Imbasnya, mereka yang tidak pakar jadi bicara hadis seenaknya.”

530 total views, 3 views today

Posted in Berita.