Ma‘rifatullah Sejati: Perpaduan Ilmu dan Amal
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ إِذَا أَمَرَهُمْ، أَمَرَهُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ بِمَا يُطِيقُونَ، قَالُوا: إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، فَيَغْضَبُ حَتَّى يُعْرَفَ الْغَضَبُ فِي وَجْهِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ أَنَا “
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam,ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdah, dari Hisyam, dari bapaknya, dari Aisyah, ia berkata: “Dahulu, ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabatnya, beliau selalu mendorong mereka untuk melakukan amalan sesuai dengan kemampuan mereka. Namun, para sahabat menjawab, ‘Kami tidak seperti engkau, wahai Rasulullah. Engkau telah diampuni dosa-dosamu, baik yang lalu maupun yang akan datang. ‘Mendengar hal ini, wajah beliau menunjukkan kemarahan, lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya, orang yang paling bertakwa dan paling mengenal Allah di antara kalian adalah aku.’”
HR. Bukhari No. 19
Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?
Hadis ini menceritakan suatu peristiwa ketika Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk melakukan suatu amal. Namun, para sahabat menjawab bahwa mereka tidak seperti Rasulullah yang senantiasa diampuni dosanya. Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah marah dan menegaskan bahwa dirinya adalah orang yang paling mengenal Allah (ma‘rifat).
Ibn Hajar menjelaskan bahwa apabila Rasulullah memerintahkan sesuatu, tentu beliau memilih perkara yang paling mudah. Hanya saja, para sahabat sering kali berlebihan dalam menanggapi perintah Rasulullah. Mereka cenderung melakukan amal yang melampaui batas kemampuan manusia (Al-‘Asqalani, 1993: 122).
Karena itu, muncul pemikiran yang tidak semestinya, seperti mengaitkan perintah amal dengan status Rasulullah yang selalu diampuni dosanya. Pemikiran semacam ini lahir dari sikap berlebihan dan tidak sesuai porsinya. Sesungguhnya, pesan Rasulullah adalah agar sahabat melakukan amal ringan tetapi berkesinambungan, bukan amal berat yang terputus di tengah jalan.
Hadis ini berkaitan dengan ma‘rifatullah (pengenalan terhadap Allah). Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum ma‘rifatullah. Ada yang berpendapat bahwa ma‘rifatullah hukumnya wajib, ada pula yang berpendapat bahwa yang wajib adalah mencari atau melihat Allah. Selain itu, sebagian ulama menekankan bahwa ma‘rifatullah memiliki tingkatan-tingkatan.
Hadis ini menegaskan bahwa Nabi adalah orang yang paling ma‘rifat. Ibn Hajar menafsirkan bahwa Nabi menjelaskan bahwa jalan untuk mencapai kesempurnaan ma‘rifat adalah melalui ilmu dan amal (Al-‘Asqalani, 1993: 124). Dengan demikian, Rasulullah mengajarkan kepada sahabat untuk melakukan amal ringan secara konsisten. Nabi sendiri adalah teladan orang yang paling ma‘rifat, karena beliau telah mencapai kesempurnaan ilmu dan amal. Jalan inilah yang menjadi sarana untuk mencapai ma‘rifatullah.
Jalan Mengenal Allah melalui Ketulusan Amal
Dalam tradisi masyarakat Indonesia yang kaya akan budaya gotong royong dan praktik keagamaan sehari-hari, hadis ini menemukan relevansinya yang mendalam. Ibn Hajar al-‘Asqalani menjelaskan bahwa Rasulullah selalu memilih yang paling mudah tatkala memerintahkan sesuatu kepada para sahabat. Namun, justru para sahabatlah yang merespons secara berlebihan. Mereka cenderung memaksakan diri melampaui batas kemampuan.
Sikap semacam ini tidak jarang pula ditemui di lingkungan sosial kita: semangat beragama yang meluap-luap pada awalnya, namun kemudian padam karena tidak tertopang oleh konsistensi. Rasulullah menegaskan bahwa amal yang sedikit namun ajek (istiqamah) jauh lebih bernilai daripada amal yang berat namun terputus di tengah jalan.
Jawaban para sahabat—”Kami tidak seperti engkau yang dosanya selalu diampuni”—mencerminkan sebuah kekeliruan berpikir yang halus namun serius. Mereka mengaitkan perintah amal Rasulullah dengan keistimewaan pribadi beliau, seolah-olah amal yang diperintahkan hanya cocok bagi sosok yang terjaga dari dosa.
Dalam konteks keindonesiaan, pemikiran semacam ini bisa diibaratkan dengan sikap sebagian orang yang merasa tidak layak beribadah penuh karena merasa diri masih berdosa. Padahal, perintah amal Rasulullah justru ditujukan kepada mereka yang biasa dan penuh kekurangan. Inilah yang membuat Rasulullah marah—bukan karena dalih para sahabat keliru secara teologis semata, melainkan karena ia lahir dari sikap ifrath (berlebihan) yang tidak proporsional.
Hadis ini menyentuh persoalan ma’rifatullah yakni pengenalan yang tulus dan mendalam kepada Allah. Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya: ada yang mewajibkan ma’rifatullah itu sendiri, ada yang mewajibkan pencarian dan perenungan sebagai jalan menuju-Nya, dan sebagian lainnya menekankan bahwa ma’rifatullah memiliki tingkatan-tingkatan yang bertahap.
Dalam tradisi spiritualitas Islam Nusantara—yang kaya dengan praktik tasawuf, pengajian kitab kuning, dan tradisi suluk di pesantren-pesantren—pembahasan soal tingkatan ma’rifatullah ini bukan hal yang asing. Ia menjadi napas dari perjalanan ruhani yang dipandu oleh para kiai dan guru mursyid, dari kalangan biasa hingga kalangan cendekia.
Baca juga: Mengenal Suluk, Tradisi Zikir Berjamaah di Aceh
Ibn Hajar menafsirkan bahwa ketika Rasulullah menegaskan dirinya sebagai yang paling ma’rifat kepada Allah, beliau sekaligus menunjukkan jalan untuk mencapai kesempurnaan itu: yakni melalui ilmu dan amal yang berpadu secara utuh. Dalam khazanah Islam Indonesia, prinsip ini tercermin dalam ungkapan yang kerap dilantunkan para ulama: “Ilmu tanpa amal laksana pohon tanpa buah.”
Rasulullah adalah perwujudan sempurna dari keduanya—beliau tidak sekadar tahu, melainkan hidup di dalam pengetahuannya itu. Maka ketika beliau menganjurkan amal yang ringan namun terus-menerus, itu bukan sekadar nasihat praktis, melainkan cerminan dari ma’rifah yang telah mencapai puncaknya: bahwa Allah lebih menyukai amal yang konsisten, sebab di sanalah kehadiran hati kepada-Nya terjaga setiap saat.
Amal Ringan yang Konsisten Lebih Utama
Hadis ini mengajarkan tiga hal pokok: pertama, amal ringan yang konsisten lebih utama daripada amal berat yang terputus. Kedua, mengaitkan perintah beramal dengan keistimewaan pribadi Nabi adalah kekeliruan yang lahir dari sikap berlebihan. Ketiga, ma’rifatullah yang sejati (sebagaimana diteladankan Nabi) hanya bisa dicapai melalui perpaduan ilmu dan amal secara utuh.
Dalam konteks Indonesia, pesan ini hidup dalam tradisi istiqamah di pesantren, nilai gotong royong, dan spiritualitas tasawuf Nusantara: jalan mengenal Allah bukan dari keistimewaan, melainkan dari ketulusan amal yang tidak pernah putus.
11 total views, 2 views today

