NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #20

Jalan Menuju Kesempurnaan Iman

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Ada tiga perkara yang jika terdapat pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman; mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi segalanya; mencintai seseorang semata karena Allah ﷻ; dan membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya, sebagaimana ia membenci jika dilemparkan ke dalam Neraka.”

HR. Bukhari No. 20

Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?

Hadis ini menjelaskan bahwa orang yang merasakan manisnya iman adalah: pertama, mereka yang mencintai Allah dan Rasul-Nya; kedua, mereka yang mencintai sesama manusia karena Allah; dan ketiga, mereka yang takut kembali kepada kekufuran setelah masuk Islam.

Tentang redaksi manisnya iman, Ibn Hajar menyebutnya sebagai isti‘arah takhyīliyyah. Kata “manis” diibaratkan sebagai buah, sedangkan iman adalah pohonnya. Dengan demikian, manisnya iman berarti buah dari keimanan itu sendiri.

Baca juga: Tashrihiyyah, Makniyyah, Takhyiliyyah

Menurut al-Baidlawi, ungkapan “Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya” dalam hadis ini bermakna cinta yang berlandaskan akal. Ibarat orang sakit yang tetap meminum obat meski pahit, akal mereka meyakinkan bahwa obat itu akan membawa kesembuhan.

Begitu pula dengan iman, akal membenarkan bahwa menaati perintah Allah dan Rasul-Nya lebih bermanfaat daripada mengikuti hawa nafsu. Maka, manisnya iman adalah manfaat yang dirasakan setelah melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya (Al-‘Asqalani, 1993: 99).

Lebih jauh, Ibn Hajar menjelaskan bahwa Rasulullah menyebut hadis ini sebagai hadis kesempurnaan iman. Disebut demikian karena iman seseorang tidak akan sempurna hingga ia mengamalkan isi hadis ini.

Orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari segalanya, sehingga menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya terasa seperti surga, sedangkan meninggalkan larangan-Nya terasa seperti neraka (Al-‘Asqalani, 1993: 100).

Badruddin al-‘Aini menambahkan bahwa hadis ini disebut sebagai hadis kesempurnaan iman karena orang beriman meyakini bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah semata. Rasulullah adalah utusan Allah yang menjadi penghubung antara hamba dan Penciptanya.

Dengan kesadaran ini, seorang mukmin tidak akan pernah mau kembali kepada kekufuran, yakni meniadakan Allah. Mereka akan merasakan kenikmatan surga ketika berada dalam majelis dzikir yang senantiasa menyebut nama Allah (Umdah al-Qari, hlm. 146–152).

Cinta kepada Allah dan Rasul sebagai Kesempurnaan Iman

Hadis ini menekankan pentingnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kepada makhluk lain di muka bumi. Cinta tersebut diwujudkan melalui ketaatan dan kepatuhan dalam menjalankan perintah serta menjauhi larangan-Nya. Bentuk cinta vertikal ini mencerminkan kepasrahan penuh kepada Sang Khaliq dan Rasul yang membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Dalam dimensi horizontal, cinta kepada sesama tetap harus berada dalam koridor cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Artinya, segala bentuk cinta kepada manusia atau makhluk lain harus berlandaskan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta semacam ini pada akhirnya melahirkan kebencian terhadap jalan yang sesat, yakni jalan yang menjerumuskan ke dalam neraka Jahannam.

Jalan Meraih Kelezatan Iman melalui Cinta dan Istiqamah

Hadis ini menunjukkan bahwa kelezatan iman hanya dapat dirasakan melalui cinta sejati kepada Allah dan Rasul-Nya, yang melampaui cinta kepada makhluk lain. Cinta kepada sesama harus didasari oleh cinta karena Allah.

Selain itu, kelezatan iman akan sempurna bila cinta tersebut diiringi dengan kebencian terhadap kekufuran, sehingga seorang mukmin senantiasa menjaga dirinya dari jalan yang menyesatkan.

 10 total views,  4 views today

Posted in Kajian.