TRAJEKTORI KINERJA ASOSIASI ILMU HADIS INDONESIA (ASILHA) 2016 – 2025

Pendahuluan – Lahirnya Kesadaran Kolektif

Dalam lanskap keilmuan Islam di Indonesia, kebutuhan akan ruang kolektif yang mampu menyatukan para akademisi, peneliti, dan penggiat ilmu hadis menjadi semakin mendesak, seiring dengan berkembangnya program studi Ilmu Hadis di berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) dan swasta (PTKIS). Kebutuhan inilah yang melatari berdirinya Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) pada tahun 2016, sebagai wadah formal, akademik, dan profesional yang berfokus pada pengembangan studi hadis secara metodologis, kelembagaan, dan sosial-kultural.

ASILHA lahir dari kesadaran kolektif para akademisi untuk membangun jaringan keilmuan yang tidak hanya bersifat formal kelembagaan, tetapi juga substantif dalam penguatan diskursus dan riset keilmuan hadis. Forum Temu Nasional di UIN Alauddin Makassar pada Juli 2016 menjadi tonggak awal terbentuknya organisasi ini, yang kemudian disahkan melalui Surat Keputusan Kepengurusan ASILHA 2016–2021 dengan ketua umum pertamanya, Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Foto: https://www.asilha.com/2017/12/31/selamat-dan-sukses-atas-terbentuknya-kepengurusan-asosiasi-ilmu-hadis-asilha-2016-2021/

Sejak awal, ASILHA didesain tidak hanya untuk menyatukan para akademisi Ilmu Hadis dari berbagai wilayah Indonesia, tetapi juga untuk menyuarakan pentingnya posisi strategis Ilmu Hadis dalam kurikulum, riset, dan pengabdian masyarakat di lingkungan pendidikan tinggi Islam. Asosiasi ini menjadi simpul yang memperkuat kolaborasi lintas kampus, pertukaran pengetahuan, serta inovasi dalam pengajaran dan metodologi kajian hadis kontemporer.

Kini, hampir satu dekade sejak kelahirannya, ASILHA telah tumbuh menjadi organisasi yang solid dan berpengaruh dalam memetakan arah keilmuan hadis nasional. Esai ini bertujuan untuk menelusuri secara historis perjalanan ASILHA dari 2016 hingga 2025, menelaah pencapaian dan tantangan yang dihadapi, serta menyampaikan harapan kepada para pengurus yang akan datang dalam mengemban estafet perjuangan keilmuan ini.

Periode Awal ASILHA (2016–2021) – Membangun Fondasi Ilmu Hadis Indonesia

Berdirinya Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) pada tahun 2016 menandai babak baru dalam pengembangan studi hadis secara kolektif dan terstruktur di Indonesia. Inisiatif ini berangkat dari kebutuhan mendesak untuk memperkuat posisi Ilmu Hadis di tengah perkembangan akademik dan kurikulum pendidikan tinggi Islam yang semakin dinamis, sekaligus merespons tantangan globalisasi keilmuan yang memerlukan koordinasi lebih erat antar akademisi dan institusi.

Pembentukan dan Legalisasi Organisasi

ASILHA secara resmi dibentuk melalui forum Temu Nasional Ilmu Hadis yang berlangsung di UIN Alauddin Makassar pada tanggal 22–24 Juli 2016. Forum ini tidak hanya mempertemukan para pengelola Program Studi Ilmu Hadis dari berbagai PTKIN se-Indonesia, tetapi juga merumuskan agenda strategis penguatan bidang hadis sebagai disiplin akademik yang berdiri sendiri. Dalam forum inilah, disepakati pendirian asosiasi, yang kemudian disahkan melalui Surat Keputusan Nomor 001/ASILHA/TAHUN 2016, yang menetapkan struktur kepengurusan periode pertama 2016–2021.

Kepemimpinan awal dipercayakan kepada Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga (UIN Yogyakarta) sebagai Ketua Umum. Ia didampingi oleh figur-figur penting lainnya seperti Dr. Tasmin Tangngareng (UIN Makassar) dan Dr. Mujiyo (UIN Bandung) sebagai Ketua I dan II, serta Dr. Burhanuddin Darwis, Dr. Andi Rosa, dan Dr. Agusni Yahya di posisi sekretaris. Struktur ini dilengkapi oleh dewan pembina dan dewan pakar yang terdiri dari para profesor hadis ternama dari berbagai kampus seperti UIN Jakarta, Makassar, Semarang, dan Surabaya.

Konsolidasi dan Penguatan Internal

Fokus utama kepengurusan awal ASILHA adalah melakukan konsolidasi internal, baik secara struktural maupun fungsional. Salah satu program utama adalah penguatan jaringan Prodi Ilmu Hadis yang pada waktu itu masih berkembang secara terpisah-pisah. ASILHA menjadi jembatan komunikasi antara pengelola Prodi, dosen, dan peneliti, sehingga terbentuk solidaritas akademik yang lebih kuat.

Berbagai kegiatan diselenggarakan, seperti seminar nasional, forum diskusi metodologi hadis, serta workshop kurikulum berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Selain itu, ASILHA juga mendorong percepatan akreditasi Prodi Ilmu Hadis dan memfasilitasi tukar-menukar narasumber dalam kegiatan akademik di kampus-kampus anggota.

Foto: https://www.asilha.com/2019/01/01/asilha-3rd-annual-meeting-uinsa-2018/

ASILHA periode ini juga memulai kerja sama informal dengan lembaga keilmuan nasional dan beberapa mitra luar negeri, meskipun belum sampai pada tahap formalisasi kerja sama institusional. Namun, komunikasi awal ini sudah menunjukkan orientasi internasionalisasi ASILHA sebagai organisasi terbuka dan progresif.

Foto: https://www.asilha.com/2019/09/27/asosiasi-ilmu-hadis-asilha-adakan-seminar-internasional-da-pertemuan-tahunan-di-stdi-jember/

Tantangan Awal dan Strategi Adaptasi

Sebagaimana organisasi baru pada umumnya, ASILHA pada masa awal menghadapi berbagai tantangan signifikan. Keterbatasan sumber daya manusia, keterjangkauan komunikasi lintas wilayah, serta keterbatasan dana menjadi persoalan utama. Sebagian besar pengurus masih harus membagi waktu dengan tugas-tugas struktural di kampus masing-masing, sehingga koordinasi berjalan secara terbatas.

Namun, semangat kolektif yang ditunjukkan oleh para pengurus berhasil menjaga ritme organisasi tetap hidup. Melalui grup komunikasi daring, pertemuan regional, dan seminar keislaman nasional, ASILHA tetap aktif berjejaring dan mengembangkan visi keilmuan.

Fondasi Intelektual dan Kultural

Periode 2016–2021 bisa disebut sebagai fase fondasi intelektual dan kultural bagi ASILHA. Pada masa ini, lahir kesadaran kolektif bahwa Ilmu Hadis bukan sekadar kajian tekstual, tetapi juga menyangkut konsep epistemologi, metodologi riset, dan keterkaitannya dengan dinamika sosial-keagamaan.

Foto: https://www.asilha.com/2019/09/29/uin-riau-tuan-rumah-annual-meeting-asosiasi-ilmu-hadis-asilha-2020/

Diskusi tentang Living Hadis dan konteks lokal dalam pemahaman hadis mulai mencuat di forum-forum ASILHA, membuka jalan menuju pengembangan pendekatan interdisipliner di masa depan.

Kesuksesan membangun basis organisasi dan jaringan inilah yang kemudian menjadi pijakan kuat bagi pengurus berikutnya untuk melangkah lebih jauh dalam ranah digitalisasi, internasionalisasi, dan inovasi akademik.

Transformasi dan Ekspansi ASILHA 2021–2025 – Merespon Tantangan dan Perkembangan Zaman

Memasuki tahun 2021, ASILHA memasuki fase transformatif dengan pergantian kepemimpinan dan penyusunan struktur organisasi yang lebih kompleks dan adaptif. Pemilihan Ketua Umum ASILHA yang digelar pada 5 Juni 2021 di Yogyakarta mengukuhkan Prof. Dr. H. Mohamad Anton Athoillah, M.M. dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai Ketua Umum ASILHA periode 2021–2025.

Pergantian kepemimpinan ini bukan sekadar rotasi personal, melainkan juga mencerminkan semangat baru dalam membangun asosiasi keilmuan yang lebih responsif terhadap perkembangan zaman.

Reorganisasi: 12 Divisi Strategis

Salah satu langkah paling signifikan dalam periode ini adalah reorganisasi struktur ASILHA menjadi lebih fungsional melalui pembentukan 12 divisi strategis. Setiap divisi dirancang untuk mengelola aspek-aspek tertentu dalam pengembangan keilmuan hadis dan kelembagaan asosiasi, mulai dari hubungan luar negeri hingga peningkatan akreditasi jurnal.

Semua divisi strategis yang dibentuk ASILHA pada periode 2021–2025 mencerminkan orientasi organisasi yang luas dan menyentuh berbagai aspek pengembangan keilmuan dan kelembagaan. Divisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama bertugas membangun jejaring dengan lembaga-lembaga hadis internasional, termasuk inisiasi kerja sama dengan mitra dari Malaysia dan Timur Tengah. Divisi Riset dan Pengembangan Keilmuan memfasilitasi pengembangan pendekatan studi hadis kontemporer seperti Living Hadis, studi interdisipliner, dan produktivitas riset. Divisi Penguatan Lembaga berfokus pada pemetaan kekuatan institusi anggota serta mendorong kolaborasi antar-Prodi Ilmu Hadis se-Indonesia. Divisi Informasi dan Komunikasi mengelola sistem komunikasi internal dan eksternal melalui situs web, media sosial, dan platform digital organisasi. Divisi Publikasi dan Pengabdian Masyarakat mendorong keterlibatan anggota dalam diseminasi keilmuan dan aksi pengabdian berbasis literasi hadis.

Di sisi lain, Divisi Kajian Perempuan dan Anak memberikan ruang reflektif atas hadis dari perspektif gender dan perlindungan anak, sementara Divisi Sinematografis memperkenalkan pendekatan visual dalam penyampaian pesan keilmuan, menjadikan sinema sebagai medium baru dalam dakwah akademik. Divisi Kesekretariatan dan Administrasi berperan menjaga kelancaran manajerial organisasi dan dokumentasi kegiatan. Divisi Keanggotaan dan SDM mendata, membina, dan mengembangkan potensi kaderisasi anggota secara berkelanjutan. Divisi Percepatan Kenaikan Pangkat serta Divisi Akreditasi Jurnal mendampingi anggota dalam aspek profesional akademik, termasuk penyusunan karya ilmiah, sertifikasi, dan pengelolaan jurnal. Terakhir, Divisi Publikasi Jurnal Hadis secara khusus diarahkan untuk penguatan penerbitan ilmiah yang berstandar nasional dan internasional.

Seluruh divisi tersebut bekerja saling melengkapi sebagai pilar-pilar organisasi, menunjukkan bahwa ASILHA telah bertransformasi menjadi asosiasi ilmiah yang tidak hanya administratif, tetapi juga substantif dan progresif dalam menjawab tantangan keilmuan di era kontemporer.

Pembentukan divisi-divisi ini menunjukkan bahwa ASILHA bukan lagi organisasi administratif semata, tetapi telah bertransformasi menjadi platform profesional yang multidimensi, dengan program kerja yang konkret dan dampak yang luas.

Adaptasi Digital dan Pandemi

Masa awal kepengurusan periode ini tidak lepas dari dampak pandemi COVID-19 yang masih berlangsung. Berbagai rencana strategis harus disesuaikan dengan kondisi sosial dan regulasi pembatasan mobilitas. Meski demikian, tantangan ini justru mempercepat proses digitalisasi internal ASILHA. Pertemuan daring, webinar, diskusi virtual, dan publikasi online menjadi norma baru.

ASILHA memanfaatkan era ini untuk membangun ekosistem digital komunikasi antara pengurus dan anggota. Website resmi asosiasi, akun media sosial, dan platform dokumen bersama mulai diaktifkan. Meskipun belum seluruhnya optimal, langkah ini menjadi pondasi penting untuk membangun identitas digital asosiasi secara profesional.

Konsolidasi Nasional melalui Annual Meeting & Conference

Di antara, ciri khas ASILHA periode ini adalah konsistensinya dalam menyelenggarakan Annual Meeting dan Annual Conference setiap tahun, yang menjadi titik temu seluruh anggota asosiasi dari berbagai wilayah. Acara ini bukan hanya ajang administratif dan evaluatif, tetapi juga forum ilmiah nasional tempat pertukaran gagasan, presentasi riset, dan diskusi antarprodi.

Penyelenggaraan konferensi tahunan dilakukan secara bergilir:

  • Yogyakarta (2022)

  • Garut (2023)

  • Serang, Banten (2024)

  • Yogyakarta (2025)

Rangkaian konferensi ini berhasil menjaga ritme organisasi, meningkatkan partisipasi anggota, serta memperluas jangkauan publikasi ASILHA, baik secara nasional, maupun internasional.

Tantangan Internal dan Keterbatasan

Meskipun berbagai pencapaian telah diraih, pengurus ASILHA periode 2021–2025 juga menghadapi tantangan. Namun, tantangan ini tidak menyurutkan langkah ASILHA dalam membangun visi besar sebagai organisasi keilmuan yang transformatif dan profesional. Komitmen pengurus dalam menyusun laporan pertanggungjawaban yang transparan dan reflektif menunjukkan kedewasaan organisasi yang tumbuh secara bertahap namun konsisten.

Evaluasi Umum dan Dampak ASILHA – Antara Intelektualisme dan Kelembagaan

Sejak didirikan pada tahun 2016, ASILHA telah menjelma menjadi kekuatan penting dalam pengembangan keilmuan hadis di Indonesia. Dalam rentang waktu kurang dari satu dekade, asosiasi ini tidak hanya berhasil memperkuat jaringan keilmuan dan komunikasi antar akademisi Ilmu Hadis, tetapi juga turut mendorong pembentukan sistem-sistem kelembagaan yang adaptif, profesional, dan progresif.

Pesan dan Harapan untuk Pengurus Berikutnya – Memperbesar Nyala Ilmu Hadis Indonesia

Seiring berakhirnya masa kepengurusan 2021–2025, ASILHA memasuki masa transisi yang krusial. Estafet kepemimpinan akan segera bergulir ke tangan pengurus baru yang akan melanjutkan dan menyempurnakan pondasi yang telah dibangun selama dua periode terakhir. Dalam momentum ini, penting kiranya menyampaikan pesan dan harapan bagi generasi pengurus berikutnya agar semangat dan cita-cita luhur ASILHA tetap terjaga dan terus berkembang.

Pertama, penguatan sistem kelembagaan berbasis digital menjadi kebutuhan mendesak. Pengurus baru perlu mengembangkan sistem informasi anggota yang terpusat, sistem dokumentasi berbasis cloud, dan portal daring yang terintegrasi untuk mendukung efisiensi kerja organisasi secara nasional. Penggunaan teknologi tidak lagi bersifat pelengkap, melainkan bagian integral dari manajemen modern organisasi ilmiah.

Kedua, pembinaan kaderisasi dan pelibatan generasi muda harus menjadi prioritas utama. ASILHA tidak boleh hanya bertumpu pada kekuatan senioritas, tetapi harus menjadi ruang tumbuh bagi para peneliti muda, mahasiswa, dan dosen junior. Dengan demikian, semangat keilmuan akan terus hidup dalam regenerasi berkelanjutan.

Ketiga, perluasan jaringan internasional dan sinergi nasional harus lebih diintensifkan. Membangun MoU formal dengan lembaga luar negeri, mengikuti forum ilmiah internasional, serta menjalin kemitraan dengan organisasi sejenis akan memperkuat posisi ASILHA di tingkat global. Di sisi lain, sinergi antarwilayah di Indonesia perlu ditata lebih strategis dengan melibatkan korwil dan institusi secara aktif.

Akhirnya, pesan utama bagi para pengurus berikutnya adalah: jaga semangat kolektif, profesionalitas, dan etika keilmuan. ASILHA bukan sekadar organisasi, tetapi ruh dari gerakan ilmu hadis di Indonesia. Jadikan asosiasi ini sebagai rumah bersama yang inklusif, progresif, dan selalu berorientasi pada kemaslahatan ilmu, umat, dan bangsa.

Penutup – Merawat Tradisi, Menatap Masa Depan

Perjalanan Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) sejak 2016 hingga 2025 adalah bukti nyata bahwa organisasi akademik yang dikelola dengan komitmen, kolaborasi, dan visi jangka panjang mampu menjadi lokomotif perubahan keilmuan. Dalam waktu kurang dari satu dekade, ASILHA telah menorehkan jejak signifikan dalam konsolidasi Prodi Ilmu Hadis, produktivitas riset, pembentukan jaringan akademik nasional, hingga terobosan dalam ranah digital dan sosial.

Dari fondasi awal yang sederhana hingga struktur modern yang terdiversifikasi, ASILHA telah membuktikan diri sebagai asosiasi yang adaptif, visioner, dan berakar kuat dalam tradisi ilmiah. Tentu masih banyak pekerjaan rumah yang menanti, namun arah langkahnya telah jelas dan pondasinya telah kokoh.

Kini, estafet organisasi berada di tangan generasi selanjutnya. Pengurus mendatang diharapkan mampu melanjutkan dan mengembangkan tradisi akademik, etika, dan estetika keilmuan yang telah dirintis, seraya membawa ASILHA melangkah lebih jauh sebagai pengawal studi hadis di tingkat nasional dan internasional.  ̶ SEMOGA.

 525 total views,  8 views today

Posted in Berita.