LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN KETUA UMUM ASILHA MASA BAKTI 2021–2025

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu‘alaikum warahmatullah wabarakatuh

1. Pendahuluan

Sebagai Ketua Umum Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) periode 2021–2025, izinkan saya (atas nama pengurus) menyampaikan laporan pertanggungjawaban, untuk pelaksanaan program kerja selama masa kepengurusan.

Hadirin yang berbahagia, periode ini ditandai oleh semangat membangun dan mengonsolidasikan jaringan akademisi ilmu hadis di Indonesia. Dalam pelaksanaan tugas, kami menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi internal maupun eksternal, namun juga terdapat sejumlah capaian yang, boleh dinilai berhasil dengan baik.

Laporan ini disusun sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas kepada seluruh anggota, serta untuk memberikan gambaran objektif mengenai kinerja setiap divisi. Beberapa program kerja terlaksana dengan baik, sebagian lainnya, masih banyak yang belum terealisasi, karena keterbatasan kesempatan sumber daya dan kondisi yang tidak memungkinkan.

2. Rincian Kegiatan dan Evaluasi Tiap Divisi

A. Divisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama

Divisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama memainkan peran strategis dalam memperluas jejaring akademik ASILHA di tingkat internasional. Selama periode kepengurusan 2021–2025, divisi ini telah menunjukkan inisiatif awal yang patut diapresiasi dalam membuka pintu kolaborasi dengan institusi-institusi keilmuan di luar negeri, khususnya yang memiliki konsentrasi pada studi hadis dan ilmu-ilmu keislaman.

Salah satu capaian penting divisi ini adalah berhasilnya upaya membangun komunikasi awal dengan beberapa institusi pendidikan tinggi dan pusat studi hadis di luar negeri. Meskipun komunikasi ini masih bersifat informal, namun langkah tersebut menjadi pijakan awal bagi kemungkinan kerja sama yang lebih konkret di masa mendatang.

Sebagai tindak lanjut dari komunikasi tersebut, Divisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama juga telah menginisiasi beberapa forum diskusi daring dengan narasumber internasional. Di antaranya, ASILHA berhasil menghadirkan tokoh-tokoh keilmuan hadis dari Malaysia dan Mesir dalam forum seminar (presentasi dalam annual conference), yang membuka ruang diskusi akademik lintas negara serta memperkenalkan posisi ASILHA di tingkat regional.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa divisi ini juga menghadapi beberapa kendala signifikan. Salah satu hambatan utama adalah belum berhasilnya penandatanganan nota kesepahaman (MoU) formal dengan institusi luar negeri. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk terbatasnya waktu dan komunikasi lanjutan yang belum terjadwal secara konsisten.

Meskipun begitu, pondasi kerja sama luar negeri yang telah dibangun melalui diplomasi akademik informal tetap menjadi modal penting untuk kepengurusan berikutnya. Upaya dan strategi awal yang telah dilakukan perlu dilanjutkan dan diformalkan dalam bentuk kerja sama institusional yang lebih terstruktur demi peningkatan daya saing dan kontribusi global ASILHA dalam pengembangan studi hadis.

B. Divisi Riset dan Pengembangan Keilmuan

Divisi Riset dan Pengembangan Keilmuan merupakan salah satu tulang punggung intelektual ASILHA, dengan mandat utama untuk mendorong produktivitas riset dan memperkuat basis keilmuan hadis melalui pendekatan akademik yang sistematis dan kolaboratif. Selama masa kepengurusan 2021–2025, divisi ini telah menunjukkan semangat progresif dalam memfasilitasi kegiatan ilmiah yang berdampak, meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan teknis dan waktu.

Salah satu capaian penting dari divisi ini, di antaranya, adalah terlaksananya penguatan tema “Living Hadis, Studi Hadis Kawasan, Studi Hadis Interdisipliner, Multidisipliner, dan bahkan Transdisipliner.” Penguatan ini tidak hanya menghadirkan para akademisi dari berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia, tetapi juga berhasil menarik perhatian kalangan muda yang sedang mendalami studi hadis. Kegiatan ini memperlihatkan eksistensi ASILHA sebagai ruang dialektika keilmuan yang terbuka dan progresif. Selain itu, beberapa anggota divisi ini juga aktif mempublikasikan artikel ilmiah di jurnal nasional terakreditasi dan jurnal internasional, yang turut memperkuat citra asosiasi sebagai komunitas ilmiah yang produktif.

Namun demikian, divisi ini juga menghadapi sejumlah tantangan dalam pelaksanaan program yang lebih luas. Rencana awal untuk menyelenggarakan riset kolaboratif lintas kampus, yang melibatkan anggota dari berbagai wilayah, belum dapat direalisasikan sepenuhnya. Hal ini disebabkan oleh kendala koordinasi antaranggota, perbedaan kesibukan institusional, serta keterbatasan waktu yang mengingat sebagian besar anggota ASILHA adalah berjabatan fungsional dosen, dengan beban administratif akademiknya yang berjibun, tak terkecuali guru besar, dengan tambahan kewajiban khususnya.

Meskipun demikian, semangat dan potensi yang telah ditunjukkan oleh Divisi Riset dan Pengembangan Keilmuan selama periode ini menjadi modal besar untuk penguatan program riset di masa mendatang.

Dengan dukungan yang lebih terstruktur dan pembagian tugas yang lebih merata, diharapkan divisi ini mampu melahirkan karya-karya ilmiah yang tidak hanya produktif secara kuantitatif, tetapi juga berkualitas secara substansial dan berkontribusi pada pengembangan keilmuan hadis di Indonesia.

C. Divisi Penguatan Lembaga

Divisi Penguatan Lembaga dibentuk untuk mendukung konsolidasi internal antarunit keilmuan hadis di Indonesia, dengan fokus pada peningkatan kapasitas institusional program studi, pusat kajian, dan lembaga terkait yang berada dalam lingkup ASILHA. Selama masa kepengurusan 2021–2025, divisi ini mengupayakan penguatan kelembagaan melalui berbagai pendekatan kolaboratif dan partisipatif.

Salah satu pencapaian yang patut dicatat adalah keberhasilan divisi ini dalam menyelenggarakan forum berbagi praktik terbaik (best practices) antarprogram studi Ilmu Hadis yang tergabung dalam ASILHA. Forum tersebut memberikan ruang untuk bertukar pengalaman dalam pengelolaan kurikulum, sistem penjaminan mutu, serta model pembelajaran yang relevan dengan dinamika ilmu hadis kontemporer. Beberapa kampus juga mulai menginisiasi kerjasama akademik informal sebagai lanjutan dari forum ini, khususnya dalam bentuk pertukaran narasumber seminar dan kajian.

Divisi ini juga telah memulai proses pengumpulan data awal mengenai kapasitas dan kebutuhan kelembagaan dari anggota ASILHA. Basis data ini mencakup informasi tentang jumlah dosen, status akreditasi prodi, fokus penelitian unggulan, dan kebutuhan strategis tiap institusi. Upaya ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang untuk memetakan kekuatan dan tantangan yang dihadapi oleh lembaga-lembaga keilmuan hadis di Indonesia.

Namun demikian, beberapa rencana strategis divisi belum dapat terealisasi. Salah satunya adalah belum terwujudnya integrasi data kelembagaan secara menyeluruh dalam bentuk platform digital bersama. Selain itu, kendala lain yang dihadapi adalah belum adanya kesepakatan tentang standar mutu kelembagaan yang dapat menjadi pedoman penguatan internal bagi prodi atau unit kajian di bawah ASILHA.

Keterbatasan ini terutama disebabkan oleh beragamnya latar belakang institusi anggota—baik dari sisi sumber daya manusia maupun kapasitas operasional. Oleh karena itu, meskipun proses penguatan lembaga masih berjalan secara bertahap, pondasi yang telah diletakkan selama periode ini menjadi titik tolak penting bagi peningkatan kualitas dan daya saing kelembagaan ilmu hadis di masa depan.

D. Divisi Informasi dan Komunikasi

Divisi Informasi dan Komunikasi memiliki peran strategis dalam membangun citra, menyampaikan informasi, dan mendokumentasikan seluruh aktivitas ASILHA secara terbuka dan terkini kepada anggota serta masyarakat luas. Di era digital yang dinamis, divisi ini diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung antaranggota serta antara ASILHA dengan publik akademik yang lebih luas.

Dalam periode kepengurusan 2021–2025, Divisi Informasi dan Komunikasi telah menunjukkan beberapa capaian penting, terutama dalam ranah pengembangan kanal komunikasi digital. Divisi ini berhasil mengembangkan web ASILHA dan membuat serta mengelola akun media sosial resmi ASILHA di platform Facebook, Instagram serta membentuk grup WhatsApp pengurus dan anggota aktif. Melalui saluran ini, informasi kegiatan seperti seminar, diskusi, dan pengumuman internal dapat disampaikan secara cepat dan merata. Selain itu, beberapa dokumentasi kegiatan dalam bentuk foto dan video juga berhasil dikompilasi dan dibagikan secara terbatas sebagai bahan arsip.

Upaya lainnya yang tidak kalah penting adalah publikasi kegiatan asosiasi melalui media daring, baik melalui web ASILHA, media sosial, maupun jaringan media lokal di lingkungan perguruan tinggi anggota. Publikasi ini bertujuan tidak hanya untuk mendokumentasikan aktivitas, tetapi juga untuk memperkuat eksistensi ASILHA sebagai asosiasi keilmuan yang aktif.

Namun demikian, masih terdapat sejumlah kendala yang dihadapi. Salah satu yang paling krusial adalah belum optimalnya website resmi ASILHA sebagai pusat informasi terpadu. Hal ini menyebabkan dokumentasi kegiatan menjadi bersifat tersebar, tidak sistematis, dan kurang terarsipkan dengan baik untuk jangka panjang. Selain itu, kendala teknis dan minimnya personel yang memiliki keahlian dalam pengelolaan konten digital juga turut menghambat kinerja divisi, namun di akhir kepengurusan, perbaikan ke arah itu sudah terlihat.

Meski demikian, fondasi awal yang telah dibangun oleh divisi ini—terutama dalam hal konsolidasi komunikasi internal dan pengaktifan media sosial—perlu terus dilanjutkan dan dikembangkan. Ke depan, penguatan kapasitas digitalisasi dan pengarsipan berbasis web akan menjadi prioritas penting guna mendukung transparansi, akuntabilitas, dan perluasan jaringan informasi ASILHA secara lebih profesional.

E. Divisi Publikasi dan Pengabdian Masyarakat

Divisi Publikasi dan Pengabdian Masyarakat bertugas untuk memfasilitasi diseminasi hasil-hasil kajian keilmuan serta mendorong keterlibatan aktif anggota ASILHA dalam pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam ranah literasi keislaman berbasis hadis. Selama periode kepengurusan 2021–2025, divisi ini menghadapi tantangan struktural dan logistik, namun tetap mampu menunjukkan beberapa capaian yang layak dicatat sebagai pondasi untuk penguatan di masa mendatang.

Salah satu capaian utama divisi ini adalah tersebarnya kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh para anggota ASILHA, meski masih bersifat individual. Kegiatan ini berisi kumpulan artikel ringan, laporan kegiatan, dan refleksi akademik dari para anggota.

Meskipun diterbitkan secara terbatas, hal ini menjadi bukti komitmen asosiasi dalam membangun dan meng-embodi budaya akademik di lingkungan internal dan eksternal.

Selain itu, Divisi Publikasi dan Pengabdian Masyarakat juga mendorong pelaksanaan kegiatan pengabdian di berbagai kampus anggota, meskipun dilakukan secara mandiri oleh masing-masing institusi. Beberapa bentuk kegiatan yang berhasil dijalankan antara lain baca kitab hadis untuk masyarakat umum, kajian hadis di lingkungan pesantren, serta edukasi metode pemahaman hadis yang sesuai dengan konteks masyarakat kontemporer. Tak terkecuali juga, terdapat para anggota ASILHA  yang menjadi Dewan Hakim dalam kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an-Hadis.

Namun, perlu diakui bahwa pengabdian skala nasional yang terkoordinasi belum berhasil dilaksanakan. Keterbatasan jarak geografis antaranggota, serta belum adanya platform koordinasi yang stabil menjadi kendala utama.

Kendati demikian, potensi yang dimiliki divisi ini tetap sangat besar. Keberhasilan awal dalam sejumlah kegiatannya dapat dijadikan titik awal bagi pelaksanaan program yang lebih luas dan terstruktur di masa depan. Ke depan, perlu dirancang strategi khusus untuk memperkuat sinergi bidang, sehingga hasil-hasil keilmuan ASILHA tidak hanya berhenti di ranah akademik, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat.

F. Divisi Keanggotaan dan SDM

Divisi Keanggotaan dan Sumber Daya Manusia (SDM) memegang peranan penting dalam memastikan kesinambungan, pertumbuhan, dan peningkatan kapasitas personal dalam tubuh ASILHA. Fokus utama divisi ini adalah melakukan pendataan anggota secara menyeluruh serta merancang strategi pengembangan kualitas sumber daya akademik yang tergabung dalam asosiasi.

Pada awal masa kepengurusan 2021–2025, divisi ini telah berhasil melakukan pendataan awal anggota. Proses ini mencakup pengumpulan data personal, afiliasi institusi, keahlian khusus, serta keterlibatan akademik masing-masing anggota. Pendataan tersebut menjadi dasar bagi pengelompokan keanggotaan berdasarkan wilayah, bidang keilmuan, serta potensi kontribusi terhadap program-program ASILHA. Selain itu, terdapat penambahan signifikan jumlah anggota baru dari berbagai daerah, yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap eksistensi dan kiprah ASILHA.

Di sisi lain, Divisi Keanggotaan dan SDM menghadapi tantangan besar dalam hal pemeliharaan dan pembaruan database anggota secara berkala. Banyak informasi yang belum terverifikasi ulang, serta sejumlah anggota yang tidak aktif lagi dalam kegiatan asosiasi namun masih tercantum dalam daftar. Absennya sistem administrasi digital menjadi salah satu penyebab tidak optimalnya manajemen data anggota. Selain itu, tantangan lainnya adalah terbatasnya komunikasi langsung antaranggota yang berasal dari berbagai wilayah dengan kondisi geografis dan jaringan institusional yang berbeda.

Terkait pengembangan SDM, divisi ini memiliki agenda peningkatan kapasitas akademik anggota melalui pelatihan dan workshop. Sayangnya, kegiatan peningkatan kapasitas tersebut belum dapat terlaksana karena kendala teknis, dan kurangnya koordinasi lintas divisi. Padahal kebutuhan pelatihan—baik dalam metodologi penelitian, publikasi ilmiah, maupun pengajaran hadis—sangat dirasakan oleh banyak anggota, terutama dari kampus-kampus di daerah.

Meskipun banyak program belum berjalan, infrastruktur awal yang dibangun oleh divisi ini menjadi fondasi penting. Ke depan, Divisi Keanggotaan dan SDM perlu diperkuat dengan sistem berbasis teknologi informasi, serta mengembangkan model pembinaan berjenjang untuk menciptakan kaderisasi keilmuan yang berkelanjutan di lingkungan ASILHA. Konektivitas dan pemetaan SDM yang akurat akan menjadi kunci keberhasilan pengembangan organisasi secara jangka panjang.

G. Divisi Kajian Perempuan dan Anak

Divisi Kajian Perempuan dan Anak dibentuk dengan visi untuk mengarusutamakan perspektif gender dalam kajian keilmuan hadis, serta menjembatani kebutuhan akademik dan sosial yang menyentuh langsung isu-isu yang menyangkut perempuan dan anak. Divisi ini menjadi salah satu upaya penting ASILHA dalam memperluas cakupan metodologis dan tematik studi hadis agar lebih responsif terhadap realitas sosial kontemporer.

Sepanjang masa kepengurusan 2021–2025, divisi ini telah menginisiasi kajian internal terkait representasi perempuan dalam kajian hadis. Diskusi-diskusi ini, meskipun dilaksanakan secara daring, tetap berskala nasional, dan menjadi ruang bertumbuhnya wacana akademik yang kritis namun tetap berpijak pada metodologi akademik. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berbasis teks, tetapi juga dikembangkan melalui perspektif hermeneutika, analisis gender, dan sosial-budaya, sehingga memperkaya kerangka analisis yang digunakan dalam menelaah teks-teks hadis yang berkaitan dengan perempuan dan anak.

Selain itu, Divisi Kajian Perempuan dan Anak juga telah memulai dan bahkan melanjutkan kajian tematik, yang diharapkan dapat digunakan dalam pelatihan atau kuliah umum di berbagai institusi anggota ASILHA, maupun masyarakat di Indonesia secara umum. Kajian ini dicontohkan pada tema-tema penting seperti keadilan gender dalam hadis, peran ibu dalam hadis tarbawi, perlindungan anak menurut perspektif hadis, dan lain-lain.

Namun demikian, divisi ini juga menghadapi sejumlah kendala serius, terutama dalam pelaksanaan kegiatan berskala luas seperti workshop tematik atau pelatihan gender dan hadis. Keterbatasan tertentu, seperti belum terjalinnya kemitraan eksternal dengan lembaga gender Islam, serta padatnya agenda anggota dari berbagai institusi menjadi faktor penghambat utama. Selain itu, belum adanya sistem dokumentasi yang rapi membuat hasil diskusi internal belum dapat dipublikasikan secara luas.

Meski demikian, inisiatif yang telah diambil oleh divisi ini sangat berharga sebagai bagian dari perluasan cakupan kajian hadis yang lebih humanis dan inklusif. Ke depan, Divisi Kajian Perempuan dan Anak memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor dalam pembangunan narasi keilmuan hadis yang ramah gender, serta mampu menjawab tantangan zaman dengan pendekatan yang kontekstual dan solutif.

H. Divisi Pengabdian Berbasis Sinematografis

Divisi Pengabdian Berbasis Sinematografis merupakan inovasi struktural yang diinisiasi ASILHA untuk menjawab kebutuhan baru dalam menyampaikan dakwah keilmuan dan edukasi hadis melalui media visual yang menarik, kontekstual, dan mudah diakses oleh publik luas, khususnya generasi digital. Divisi ini diharapkan menjadi jembatan antara pesan ilmiah dalam studi hadis dan bentuk komunikasi budaya populer yang relevan dengan perkembangan zaman.

Selama periode kepengurusan 2021–2025, divisi ini berhasil melakukan langkah awal berupa penyusunan proposal program dokumenter keilmuan hadis berbasis sinematografis. Proposal tersebut mengusulkan pembuatan video dokumenter edukatif yang menampilkan potret kajian hadis di berbagai daerah, pemikiran tokoh-tokoh ilmu hadis kontemporer, dan dinamika keilmuan di lingkungan perguruan tinggi Islam. Tujuannya adalah memperkenalkan khazanah ilmu hadis secara visual kepada khalayak yang lebih luas di luar lingkungan akademik.

Sebagai langkah awal, meski bersifat individual, divisi ini juga telah berhasil memproduksi sejumlah video pembelajaran hadis, yang kemudian disebarluaskan secara internal sebagai bahan sosialisasi asosiasi kepada calon anggota baru maupun mitra institusi. Video ini disusun dengan pendekatan naratif yang informatif dan bernuansa akademik, meskipun masih sangat sederhana dari sisi teknis produksi.

Namun demikian, divisi ini menghadapi tantangan besar dalam produksi lanjutan konten sinematografis. Keterbatasan perangkat teknis seperti kamera profesional, software penyuntingan, dan sumber daya manusia yang memiliki keahlian khusus dalam produksi film menjadi hambatan utama. Tanpa dukungan mitra eksternal atau sponsor, divisi ini belum mampu mengeksekusi ide-ide kreatif yang telah dirancang secara maksimal.

Meski demikian, langkah awal yang telah dilakukan menunjukkan adanya potensi besar untuk dikembangkan. Di era media digital yang sangat bergantung pada konten visual, Divisi Pengabdian Berbasis Sinematografis dapat menjadi wajah publik ASILHA yang komunikatif dan menarik bagi generasi muda. Diperlukan penguatan kolaborasi dengan komunitas sinema Islam, lembaga penyiaran dakwah, dan penggiat konten edukatif agar program ini dapat berkembang secara profesional dan berkelanjutan.

I. Divisi Kesekretariatan dan Dokumentasi Kegiatan

Divisi Kesekretariatan dan Dokumentasi Kegiatan merupakan pusat administrasi organisasi yang bertugas menjaga keteraturan tata kelola internal, kelancaran komunikasi antarstruktur, serta pencatatan resmi seluruh kegiatan ASILHA. Dalam konteks organisasi ilmiah nasional seperti ASILHA, keberadaan divisi ini krusial dalam memastikan bahwa setiap kegiatan terdokumentasi dengan rapi, terdigitalisasi bila memungkinkan, dan dapat dijadikan acuan historis untuk pengembangan kebijakan dan program ke depan.

Selama periode 2021–2025, divisi ini telah menjalankan fungsi-fungsi administratif pokok secara konsisten. Pelayanan administrasi internal, seperti pengelolaan surat-menyurat, pendataan pengurus, dan penyusunan notulen kegiatan telah dilakukan dengan baik oleh tim kesekretariatan. Komunikasi resmi antardivisi, serta dengan lembaga-lembaga eksternal juga difasilitasi oleh divisi ini melalui berbagai saluran, termasuk surel dan grup komunikasi daring.

Selain itu, divisi ini juga berkontribusi dalam dokumentasi kegiatan utama ASILHA, seperti seminar daring, pertemuan nasional, dan webinar seri kajian. Dokumentasi dilakukan dalam bentuk catatan kegiatan, kumpulan materi presentasi, serta file dokumentasi visual seperti foto dan rekaman video. Beberapa di antaranya telah disimpan secara terpusat meskipun belum dalam sistem manajemen arsip digital yang terintegrasi.

Namun demikian, tantangan besar tetap dihadapi dalam aspek pengarsipan dan pelaporan, terutama karena belum adanya sistem dokumentasi berbasis digital yang andal dan terstruktur. Arsip kegiatan masih tersimpan secara tersebar di berbagai perangkat dan akun personal pengurus. Hal ini menyulitkan proses pencarian kembali dokumen pada saat dibutuhkan, dan berpotensi menimbulkan kehilangan data penting dalam jangka panjang. Selain itu, keterbatasan SDM dalam divisi serta belum adanya petugas arsip khusus juga menjadi penghambat dalam peningkatan mutu kesekretariatan.

Meskipun demikian, komitmen divisi ini terhadap ketertiban administrasi dan dokumentasi patut diapresiasi. Ke depan, pengembangan sistem pengarsipan digital berbasis cloud, pelatihan sekretariat, serta standarisasi format pelaporan kegiatan akan sangat membantu profesionalisasi tata kelola internal ASILHA. Dengan demikian, divisi ini dapat menjadi pusat kendali informasi organisasi yang akurat, tertata, dan berkelanjutan.

J. Divisi Koordinator Wilayah

Divisi Koordinator Wilayah (Korwil) berfungsi sebagai simpul penghubung antara pusat organisasi ASILHA dan para anggotanya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Tujuan utama dari pembentukan divisi ini adalah untuk memastikan distribusi informasi, pelaksanaan program, serta koordinasi kegiatan berjalan efektif lintas daerah, mengingat ASILHA memiliki jangkauan nasional yang sangat luas.

Selama masa kepengurusan 2021–2025, Divisi Koordinator Wilayah telah mengambil langkah awal dengan mengidentifikasi dan membentuk jaringan informal koordinator di beberapa wilayah. Melalui pendekatan personal dan institusional, beberapa tokoh kunci di daerah mulai menjalankan peran sebagai penghubung, baik dalam menyampaikan informasi program pusat, menghimpun aspirasi lokal, maupun menginisiasi kegiatan akademik berbasis regional.

Meski belum diresmikan secara struktural, fungsi-fungsi korwil ini telah berjalan secara fungsional dalam beberapa agenda seperti pelaksanaan webinar daerah, diskusi kelompok kecil, dan penjaringan anggota baru. Langkah ini menjadi capaian awal yang penting mengingat keragaman geografis dan karakteristik institusi anggota.

Wilayah Indonesia yang luas membutuhkan pola komunikasi dan koordinasi yang fleksibel namun tetap terstruktur, dan peran Korwil menjadi kunci dalam menjawab kebutuhan ini.

Namun, di balik pencapaian tersebut, divisi ini juga menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah belum adanya sistem pelaporan wilayah yang baku, sehingga informasi tentang kegiatan di tingkat daerah tidak terdokumentasi secara sistematis. Selain itu, belum tersedianya mekanisme pertemuan rutin antar-Korwil maupun antara Korwil dan pengurus pusat menyebabkan koordinasi masih bersifat inisiatif individu. Keterbatasan platform digital yang mendukung komunikasi wilayah secara khusus juga turut memperlambat respons dan pelaporan.

Keterbatasan lain muncul dari perbedaan kesiapan SDM dan infrastruktur di masing-masing daerah. Beberapa wilayah menunjukkan antusiasme tinggi, sementara wilayah lain masih terlihat belum aktif karena keterbatasan internal atau belum tersentuh oleh komunikasi organisasi.

Meski demikian, struktur dasar dan semangat partisipatif yang telah dibangun oleh Divisi Koordinator Wilayah selama periode ini merupakan fondasi penting. Ke depan, perlu adanya penetapan formal Korwil di tiap zona, pelatihan peran dan tanggung jawab, serta sistem pelaporan digital yang terintegrasi. Dengan demikian, Korwil dapat berfungsi secara optimal sebagai ujung tombak distribusi program dan jejaring keilmuan ASILHA di seluruh Indonesia.

K. Divisi Percepatan Usulan Kenaikan Pangkat

Divisi Percepatan Usulan Kenaikan Pangkat dibentuk untuk menjawab kebutuhan nyata para akademisi Ilmu Hadis yang tergabung dalam ASILHA, khususnya dalam mendukung percepatan kenaikan jabatan fungsional dosen. Divisi ini diharapkan dapat menjadi fasilitator pembimbingan, pendampingan administratif, serta sumber informasi kebijakan terbaru yang relevan dengan regulasi akademik nasional.

Selama periode kepengurusan 2021–2025, Divisi ini telah menunjukkan peran awal yang cukup signifikan, khususnya dalam memberikan bimbingan informal kepada anggota yang sedang mempersiapkan usulan kenaikan pangkat. Beberapa anggota yang berada dalam tahap pengajuan lektor kepala maupun guru besar telah mendapatkan dukungan melalui konsultasi pribadi dari tim divisi, baik secara langsung maupun melalui komunikasi daring.

Selain itu, divisi ini juga turut menginventarisasi permasalahan umum yang dihadapi para dosen Ilmu Hadis dalam proses pengusulan pangkat, mulai dari kendala dalam penyusunan angka kredit, minimnya publikasi bereputasi, hingga ketidaksesuaian antara bidang keilmuan dan klasifikasi jabatan fungsional. Dari temuan ini, muncul kesadaran perlunya pendekatan kolektif yang lebih sistematis dalam mendampingi anggota menghadapi dinamika birokrasi akademik.

Namun demikian, tantangan yang dihadapi oleh divisi ini juga tidak ringan. Salah satunya adalah belum terbentuknya sistem mentoring yang terstruktur, sehingga pendampingan masih bersifat sporadis dan bergantung pada kesediaan personal dari tim. Keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki pengalaman dalam proses kenaikan pangkat, serta belum tersedianya modul pelatihan penyusunan berkas akademik, turut menghambat efektivitas program divisi.

Disamping itu, tidak adanya forum koordinasi rutin antaranggota divisi membuat banyak rencana tidak berkembang menjadi program terjadwal. Upaya untuk menghadirkan lokakarya atau klinik akademik secara daring pun belum terlaksana karena kurangnya dukungan teknis dan logistik.

Kendati demikian, peran inisiasi yang telah dijalankan oleh divisi ini sangat penting sebagai dasar pembangunan ekosistem akademik yang suportif di lingkungan ASILHA.

Ke depan, pengembangan program pendampingan kolektif berbasis wilayah, penyusunan panduan teknis usulan pangkat, serta pelibatan para guru besar sebagai mentor akan sangat memperkuat fungsi dan dampak divisi ini.

Dengan demikian, percepatan karier akademik anggota dapat menjadi salah satu ciri khas kontribusi ASILHA bagi pengembangan keilmuan hadis di Indonesia.

L. Divisi Peningkatan Akreditasi Jurnal

Divisi Peningkatan Akreditasi Jurnal merupakan unit strategis dalam tubuh ASILHA yang bertugas mendampingi dan mendorong jurnal-jurnal keilmuan yang dikelola oleh anggota untuk mencapai standar mutu nasional maupun internasional. Keberadaan divisi ini menjadi sangat relevan mengingat jurnal ilmiah adalah sarana utama publikasi akademik dan syarat penting dalam pengakuan kompetensi ilmiah dosen serta institusi.

Sepanjang masa kepengurusan 2021–2025, Divisi ini telah melakukan langkah awal dengan melakukan pemetaan jurnal yang dikelola oleh para anggota ASILHA. Dari hasil pemetaan tersebut, diketahui bahwa sebagian besar anggota mengelola jurnal dengan status akreditasi Sinta rendah, bahkan beberapa di antaranya belum terakreditasi. Temuan ini menjadi dasar bagi divisi untuk menyusun langkah pembinaan jurnal yang lebih terarah.

Selain itu, sejumlah jurnal binaan anggota ASILHA menunjukkan perkembangan positif, baik dari sisi kualitas naskah, peningkatan jumlah artikel, maupun perbaikan sistem editorial. Dalam beberapa kasus, diskusi teknis secara informal terkait pengelolaan OJS, penyesuaian gaya selingkung, serta pemenuhan indikator akreditasi berhasil membantu pengelola jurnal dalam proses asesmen Sinta berikutnya. Divisi ini juga mulai menjalin komunikasi dengan tim pengelola jurnal bereputasi sebagai upaya benchmarking dan bimbingan teknis nonformal.

Namun demikian, rencana utama untuk menyelenggarakan pelatihan teknis nasional terkait akreditasi jurnal secara sistematis belum terlaksana. Keterbatasan anggaran, belum adanya kolaborasi dengan lembaga pengindeks nasional seperti Arjuna dan DOAJ, serta minimnya jumlah trainer bersertifikat menjadi hambatan utama. Di sisi lain, koordinasi antaranggota divisi belum optimal, sehingga banyak kegiatan berjalan secara terpisah dan tidak terdokumentasi dalam laporan terstruktur.

Kendala lainnya adalah beragamnya tingkat kesiapan jurnal yang dibina, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih personal dan bertahap. Tanpa modul pembinaan terstandar dan sistem pelatihan berbasis level capaian, proses peningkatan akreditasi berjalan lambat dan tidak merata.

Meskipun demikian, kesadaran yang mulai tumbuh di kalangan anggota mengenai pentingnya kualitas jurnal ilmiah menjadi bekal penting untuk pengembangan jangka panjang. Ke depan, Divisi Peningkatan Akreditasi Jurnal perlu diperkuat dengan membentuk tim pelatih khusus, mengembangkan roadmap pembinaan jurnal, dan menjalin kemitraan dengan lembaga akreditasi serta penerbit bereputasi.

Dengan begitu, ASILHA tidak hanya menjadi komunitas keilmuan, tetapi juga aktor penting dalam peningkatan mutu publikasi ilmiah di bidang ilmu hadis di Indonesia.

3. Penutup

Masa kepengurusan 2021–2025 merupakan periode penuh tantangan sekaligus pembelajaran bagi ASILHA. Di awal kepengurusan, kami dihadapkan pada situasi luar biasa akibat wabah COVID-19 yang masih melanda secara global. Pandemi ini tidak hanya menghambat mobilitas dan pertemuan tatap muka, tetapi juga menunda berbagai rencana kerja yang memerlukan koordinasi langsung dan interaksi intensif antarpengurus maupun dengan institusi mitra.

Banyak program awal harus disesuaikan atau bahkan ditunda karena kebijakan pembatasan sosial dan kondisi lapangan yang tidak memungkinkan. Kendati demikian, masa ini juga menjadi periode adaptasi yang penting—di mana kami berusaha membangun pondasi organisasi dengan memanfaatkan ruang digital, menjalin komunikasi daring, dan menyusun struktur kerja yang fleksibel namun tetap terarah.

Alhamdulillaah, jadwal annual meeting dan annual conference tetap bisa dilaksanakan dengan segala dinamikanya. Tiga kali annual meeting dan annual conference (Di Jogja [2022], Garut [2023], dan Serang [2024]), meski tetap menyisakan pekerjaan rumah, telah berhasil dilaksanakan dengan baik. Annual meeting dan annual conference tahun sekarang (2025), juga “terpaksa” kembali ke Jogja, sebagai konsekwesi dari kebijakan keuangan, dengan istilah efisiensi,  yang dikeluarkan pemerintah Republik Indonesia.

Walau tidak semua program berhasil dilaksanakan secara optimal, sejumlah langkah awal telah berhasil membuka jalan bagi penguatan ASOSIASI di masa mendatang, baik dari sisi kelembagaan, jejaring keilmuan, maupun partisipasi anggota.

Saya secara pribadi, kami sebagai pengurus menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh pengurus, anggota divisi, serta semua pihak yang telah memberikan waktu, tenaga, dan pemikiran demi kemajuan ASILHA. Tanpa semangat kebersamaan dan dedikasi tersebut, capaian yang diraih hingga saat ini tidak mungkin terwujud.

Dalam kesempatan ini, kami juga memohon maaf yang sebesar-besarnya, tentunya selama masa kepengurusan terdapat kekurangan, kelalaian, atau hal-hal yang kurang berkenan, baik dalam komunikasi, koordinasi, maupun pelaksanaan program kerja. Semua kekurangan tersebut tentu bukan karena ketidakpedulian, melainkan keterbatasan kami dalam menjangkau seluruh harapan dan dinamika yang berkembang di tengah kesibukan masing-masing. Kritik dan masukan dari seluruh pihak akan menjadi bekal berharga untuk perbaikan dan pembelajaran ke depan.

Akhirnya, laporan ini saya sampaikan sebagai bentuk pertanggungjawaban organisatoris, baik moral maupun administratif kepada seluruh anggota, keluarga besar ASILHA. Semoga ASILHA ke depan semakin solid, inovatif, dan kontributif terhadap pengembangan ilmu hadis di Indonesia, serta mampu menjawab tantangan zaman dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai ilmiah, etika, dan kebermanfaatan sosial.

 

Yogyakarta, 8 Agustus 2025

Hormat saya,

Ketua Umum ASILHA Masa Bakti 2021–2025.

Prof. Dr. H. Mohamad Anton Athoillah M.M.


 

Billahit taufiq wal hidayah,

Nasrum minallah wa fathun qarib,

Wallahul Muwafiq ila aqwamit Thoriq,

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh

 678 total views,  4 views today

Posted in Berita.