Tradisi Makan Bajamba dalam Perspektif Agama dan Adat di Minangkabau

Merlin Safitri

19105050045@student.uin-suka.ac.id

 

Minangkabau mempunyai tiga luhak. Ketiga luhak itu adalah Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Limo Puluah Koto. Luhak Tanah Datar disebut juga luhak nan tuo, Agam luhak nan tangah, dan Limo Puluah Koto luhak nan bungsu. Luhak Tanah Datar adalah Kabupaten Tanah Datar sekarang dan sekitarnya, Luhak Agam adalah Kabupaten Agam sekarang dan sekitarnya, dan Luhak Limo Puluah Koto juga Kabupaten Lima Puluh Kota sekarang dan sekitarnya. Luhak dalam Minangkabau adalah wilayah  Minangkabau yang dihuni  oleh manusia. Di luhak itu masyarakat tinggal dan mencari kehidupan dan mengembangkan adat dan budayanya (Zulkarnaini, 2003: 26-27).

Di Minangkabau banyak sekali tradisi, salah satunya yang masih melekat sampai saat ini, yaitu makan bajamba yang  awal mula nya berasal dari Luhak Agam,  Bukittinggi Baso. Masyarakat di Bukittingi, Baso yang merupakan daerah yang masih kental dengan adat dan tradisinya sebagian besar masih melaksanakan prosesi makan bajamba ini setiap acara-acara pentingnya baik itu dalam bentuk alek gadang, acara-acara adat, menjamu tamu dari luar pulau, perayaan hari besar Islam, bahkan acara kematian di Minangkabau juga ada makan bajamba.

Pada dasarnya setiap perwujudan tradisi dalam masyarakat menunjukkan makna dibalik tradisi itu sendiri yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Biasanya diberikan melalui simbol-simbol dalam ritual yang dalam masyarakat Minang. Pelaksanaan tradisi ini tidak hanya makan bersama, tetapi juga memiliki makna tertentu dalam kehidupan pribadi serta kehidupan sosial dan sebenarnya sangat berharga bagi kehidupan manusia. Begitu pula dengan tradisi makan bajamba yang diterapkan masyarakat (Mardimin, 1994: 3).

Tradisi makan bajambo ini bukan hanya milik kelompok saja atau hanya ada dalam adat minangkabau, tapi di dalam agama juga dianjurkan untuk makan makan bajambo atau berjama’ah, karena pada saat itu lah kita mendapatkan keberkahan pada makanan.

Peralatan yang digunakan pada saat makan berupa piring berbetuk bulat besar yang biasanya bisa untuk tujuh orang, di Minangkabau dinamakan dengan “Talam”. Pada saat makan bajambo terdapat tata kerama atau adab-adabnya, pada saat duduk dari dulu sampai sekarang perempuan selalu dianjurkan untuk bersimpuh atau dalam bahasa minang nya basimpuah, yang melambangkan keanggunan wanita-wanita minang.

Tidak lupa juga bagi laki-laki cara duduk yang dianjurkan dengan baselo atau bersila. Selain adab pada saat duduknya, masyarakat Minang pada saat makan bajambo juga banyak adabnya, mendahulukan yang lebih tua dan muda menuangkan nasi dan lauk pauknya. Dan apabila yang muda lebih dahulu selesai makannya belum mereka tidak akan mencuci tangan karena menunggu yang lebih tua selesai dari makannya. Ini sebagai nilai menghormati yang lebih tua, selalu menjaga sikap sopan santun (AD, 14 Januari 2021).

Di Minangkabau ada istilah, yaitu Kato mandaki kata yang digunakan kepada orang yang lebih tua dari kita. Cara bertutur kata dan berbicara kepada orang yang lebih tua atau lebih besar digunakan kato mandaki. Dengan menggunakan kato mandaki dan diiringi oleh tingkah laku, tandanya kita memuliakan yang tua “nan tuo dimuliakan” (Sayuti, 2005: 17).

Nak aluih baso jo basi adalah ukuran bagi orang Minangkabau. Ukuran itu berlaku dalam pergaulan sehari-hari. Ukuran itu terutama ditujukan dalam berbicara. Orang Minangkabau diminta berbicara lemah lembut, berkata kata dengan halus, tidak menyinggung perasaan orang lain Kata-katanya enak didengar dan tidak menyakitkan hati orang lain.  (Zulkarnaini, 2003: 49).

Makan bajamba selalu mempererat silaturrahami antar sesama, kebersamaan, dan persatuan. Masyarakat minang selalu memperhatikan takaran makan untuk bersama, kalau membagi sesuatu harus sama banyak. Sama banyak ada pula ukurannya. Ukurannya ialah meletakkan sesuatu pada tempatnya Kalau sudah menurut ukuran itu sudah meletakkan sesuatu pada tempatnya barulah dikatakan membagi sama banyak, jadi  kemungkinan mubazir sangat kecil, dan mereka juga tidak akan megambil bagian dari temannya.

Karena sesuai dengan makna hadis yang mubazir atau pemboros itu teman nya setan. Pada saat makan bajamba lauk pauk “samba” sudah disediakan, setiap talam sudah mempunyai samba sama rata, di sebelah kanan ada gulai dan rendang sebelah kiri juga pasti sama, setiap sudut sama, bahkan kalau kurang biasanya ada  “niniak mamak” yang menambahkan. Jadi setiap tamu yang makan bajamba tidak pernak kekurangan satu sama lain. Dan saat makan bajamba tidak dibolehkan “bacapak” atau berbunyi. Setelah makan bajamba bersendawa di Minang juga tidak boleh karena itu mengurangi etika dan kesopanan kita (AD, 14 Januari 2021).

Tradisi makan bajamba merupakan acara-acara adat pada saat perhelatan, juga disambut dengan tari pasambahan, dan juga pencak silat, yang selalu diiringi dengan musik talempong atau gendang, dan yang lebih menariknya lagi di minangkabau sebelum makan bajamba kita akan melihat para tetua adat berbalas pantun sebagai bentuk mempererat tali silahturrahmi sesama kita, dan tidak lupa dengan tradisi agamanya.

Jadi tradisi di Minangkabau ini tidak terlepas dari agama, setiap tradisi pasti memliki nilai agama nya masing-masing yang bisa kita ambil pelajaran di dalamnya. Tradisi juga mengatur bagaimana masyarakat menghargai lingkungan maupun orang lain disekitarnya. Hal tersebut menjadikan insan manusia yan bermanfaat dan lebih bermatabat dalam kehidupan yang dijalankannya. Oleh karena itu budaya yang ada di Minagkabau ini tidak akan lepas dari masyarakat, karena telah mendarah daging sampai saat ini dan tiak akan bisa hilang dari masyarkat yang sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri (Koentjaraningrat, 2003).

 

Di Minangkabau “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Adat Minangkabau disandarkan kepada syarak agama Islam, syarak disandarkan kepada kitabullah Quran. Setiap orang Minangkabau ber pedoman kepada adat dan syarak itu. Berlaku lurus, jujur, benar dan adil ukurannya adalah adat dan syarak itu (Zulkarnaini, 1984: 52). Adat dan agama dalam Minangkabau selalu beriringan, adanya adat untuk selalu mengingatkan masyarakat dalam agama (DW, 15 Januari 2021).

Inti ajaran Adat Minangkabau adalah budi. Adat disusun oleh ne nek meyang orang Minangkabau untuk membentuk manusia yang berbudi Budi membuat orang menjadi besar Budi membuat orang menjadi tinggi Budi membuat orang selalu dihormati dan dihargai. Budi menjadikan seseorang dikenang sepanjang masa. Budi adalah pakaian hidup. Dalam hidup perlu memakai budi. Kalau budi tidak ada hidup serba susah, serba tanggung.

Di dalam agama Islam, budi itu disebut akhlak Islam mengutamakan akhlak Bahkan Rasul Allah, Muhammad diutus ke dunia ini adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Jadi, baik adat Minangkabau maupunn agama Islam mengutamakan budi dalam kehidupan manusia. Budi itu sangat berguna dalam kehidupan. Manusia ini hidup tidak sendiri, manusia hidup memerlukan orang lain, Antara seseorang dengan orang lain saling membutuhkan Mereka saling memerlukan Seorang anak memerlukan orang tua memerlukan guru, memerlukan teman-temannya.

Hidup dengan orang lain itu dinamakan bermasyarakat. Untuk hidup bermasyarakat seseorang perlu bergaul. Dalam pergaulan perlu hubungan yang baik antara seseorang dengan yang lain. Hubungan yang baik itu hanya dapat diciptakan kalau manusia ini berbudi. Jadi, budi berguna untuk hidup dalam masyarakat, untuk bergaul dengan orang lain (Zulkarnaini, 2003: 55-62).

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

 

AD, 2021, Hasil Wawancara Pribadi, Sungai Tarab.

 

Drs. Zulkarnaini, 2003, Budaya Alam Minangkabau, Bukittingi: Usaha Ikhlas.

 

Sayuti, M. (2005). Tau Jo Nan Ampek (Pengetahuan yang Empat Menurut Ajaran Budaya Alam Minangkabau). Padang: Mega Sari.

 

DW, 2021, Hasil Wawancara Pribadi, Bukittinggi.

 7,628 total views,  6 views today

Posted in Kajian.