Suka Cita Masyarakat Kampar Provinsi Riau dalam Menyambut Bulan Suci Ramdhan dengan Tradisi Balimau Kasai

Khairun  Nisa sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keistimewaan dan selalu dinantikan bagi umat islam karena hanya datang setahun sekali. Terdapat banyak kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri di dalam bulan ini, diantaranya adalah Al-Qur’an datang pada bulan ramadhan yang penuh berkah. Pada malam harinya, umat Islam melaksanakan shalat tarawih yang biasa dilakukan di masjid tak ketinggalan tua, muda, remaja, dewasa maupun anak-anak dan semuanya turut hadir ke masjid beramai-ramai.

Salah satu keistimewaan lainnya adalah melakukan sahur yang sangat dianjurkan untuk dilakukan. Setelah seharian berpuasa, maka masyarakat biasanya pergi ke pasar Ramadhan untuk membeli makanan dan minuman ataupun cemilan untuk berbuka puasa. Masyarakat Kampar menyebutnya dengan istilah  bubukan.

Diantara banyaknya keistimewaan dalam bulan Ramadhan tersebut, maka tidak salah bagi masyarakat di daerah tertentu memiliki tradisi untuk menyambut dengan suka cita. Di Provinsi Riau, khususnya di Kabupaten Kampar mereka memiliki tradisi dalam rangka mempersiapkan diri memasuki bulan suci Ramadhan. Tradisi tersebut dinamakan balimau kasai.

Tradisi balimau kasai adalah acara penyambutan bagi masyarakat Kampar yang dilakukan berkenaan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Tradisi ini dilaksanakan satu hari menjelang masuknya puasa Ramadhan. Balimau kasai terdiri dari dua kata yaitu limau dan kasai yang dua bahan ini digunakan untuk pembersih badan mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Limau merupakan istilah bagi masayarakat Kampar untuk menyebut jeruk. Jenis jeruk yang dipakai dalam balimau kasai adalah jeruk purut, jeruk nipis atau jeruk kapas. Limau disini digunakan sebagai pengganti shampo yang bermanfaat mengatasi berbagai masalah rambut seperti ketombe, rambut rontok, kutu rambut, rambut kering, kusam dan pencegah pertumbuhan uban. Dan kasai adalah campuran berbagai bahan rempah dapur yang berfungsi untuk membersihkan badan dari kotoran yang digunakan sebagai pengganti sabun.

Dalam pembuatan limau kasai, masyarakat Kampar menggunakan ramuan racikan sendiri yang dibagi menajdi dua macam, yaitu ramuan limau dan ramuan kasai. Cara membuat ramuan limau cukup mudah yaitu merebus jeruk nipis atau purut dan setelah itu disayat sedikit bagian atasnya. Sedangkan untuk membuat ramuan kasai menggunakan berbagai macam bahan yang teridiri dari cekur atau kencur, kunyit, dan beras. Pertama-tama siapkan semua bahan kemudian kunyit dipotong kecil-kecil dan disangrai bersama beras hingga menguning lalu masukkan kencur. Setelah itu, beras dan kunyit yang sudah disangrai tadi ditumbuk hingga halus bersama kencur kemudian baru di ayak.

Setelah berbentuk bubuk, ramuan kasai tersebut dimasukkan ke dalam plastik untuk dibagikan. Pembuatan limau kasai ini telah diajarkan oleh nenek moyang sampai ke cucunya sehingga ajaran ini masih lestari hingga sekarang. Uniknya, anak-anak datang ke rumah nenek-mamak untuk mengantarkan limau kasai tersebut dengan menggunakan rantang yang dijinjing. Setelah limau kasai diberikan kepada tuan rumah maka pemilik rumah tersebut biasanya memberikan pasongan sebagai ucapan terima kasih.

Yang menarik dari tradisi balimau kasai adalah diadakan di sungai yang terdapat di Kampar karena di Kampar memiliki sungai yang panjang. Jadi masyarakat Kampar mandi menggunakan limau kasai yang telah didapatkan atau dibuat sendiri. Cara menggunakan limau kasai tersebut yaitu limau diperas lalu digosokkan kepala dan untuk kasai dimasukkan ke dalam wadah lalu diaduk hingga ramuan kasai tercampur kemudian digosokkan ke seluruh badan, barulah setelah itu  menyelam di sungai.

Uniknya lagi, diadakan lomba menghilir menggunakan benen atau perahu karet yang diikuti oleh seluruh masyarakat Kampar khususnya para remaja. Mereka turun ke sungai untuk menghilir dari satu desa hingga desa lain yang dimulai dari garis start hingga garis finish. Tradisi ini masih dilestarikan hingga sekarang dan seluruh lapisan masyarakat Kampar selalu berpastispasi dalam acara balimau kasai karena moment ini selalu dinanti-nanti.

Berdasarkan kepercayaan nenek moyang, balimau kasai merupakan simbol penyucian atau pembersih diri sebelum masuknya bulan puasa. Hal ini  dikarenakan bulan Ramadhan merupakan bulan yang suci maka sebagai manusia biasa yang selalu melakukan kesalahan baik sengaja maupun tidak, harus menyucikan diri dari segala sifat-sifat yang buruk seperti dengki, iri, dendam, dan lainnya.

Umat Islam dituntut untuk memuliakan bulan puasa dengan cara menyucikan diri secara dzahir dan batin untuk menyambut kedatangan bulan yang mulia. Pada hari balimau kasai ini masyarakat juga datang dari rumah ke rumah untuk silaturrahmi dan saling meminta maaf dengan adab yang muda berkunjung ke rumah orang yang lebih tua sebagai bentuk menghormati dan memuliakan orang yang lebih tua. Tradisi ini sudah dilakukan oleh masyarakat Kampar secara turun-temurun.

Dari tradisi balimau kasai yang ada di masyarakat Kampar dapat memberikan pelajaran, yaitu memuliakan bulan suci Ramadhan, saling menjaga silaturrahmi dan saling memaafkan, menghormati orang yang lebih tua. Acara balimau kasai dilakukan karena sebagai umat Islam harus merasa gembira dan lapang hati dengan menyambut datangnya bulan maghfirah (ampunan). Hal ini menunjukkan bahwa balimau kasai bukan hanya sekedar tradisi semata melainkan mengandung nilai-nilai keislaman yang dapat meningkatkan rasa syukur kepada Allah atas kesempatan dapat menikmati bulan yang penuh keberkahan.

 1,576 total views,  2 views today

Posted in Kajian.