Antusiasme Masyarakat Kampung dan Perumahan dalam Aktivitas Shalat Berjamaah di Masjid

Nama : Zulfan Fathurrohman

19105050058@student.uin-suka.ac.id

 

Pendahuluan

Agama islam adalah agama yang telah mengatur begitu kompleks setiap tindakan bagi ummatnya, khususnya mengenai tata cara ibadah. Ibadah wajib dilakukan bagi setiap mukmin beriman, karena ini menyangkut pengabdian hidup kepada tuhan sang pencipta. Tidak ada suatu tindakan terpuji melainkan atas niatan ibadah karena Allah Swt. Salah satu ibadah yang wajib kita lakukan adalah sholat 5 waktu. Seperti yang Allah firmankan :

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan. – (Q.S Al-Baqarah: 110).

Dalam sebuah praktik peribadatan islam tidak memberatkan, dengan mengerjakan semampunya namun tidak meninggalkan. Artinya jika kita dalam keadaan mampu urusan ibadah wajib hukumnya mengerjakan dengan maksimal, jika kita ada halangan atau kekurangan bisa dengan cara semampunya sesuai tuntunan tentunya. Begitu juga dengan sholat, sholat mempunyai cara tersendiri dalam pemeraktekan ibadah supaya maksimal.

Seperti pada hadits Rasulullah SAW:

صلاةُ الجماعةِ تَفضُلُ على صلاةِ الفذِّ بسَبعٍ وعِشرينَ دَرجةً

“Sholatul-jama’ati tafdhulu ala sholatil-faddzi bisab’in wa ‘isyrina darajatan.”  Yang artinya: “Sholat berjamaah lebih utama 27 derajat daripada sholat sendirian,”. (Imam Bukhari).

Dan anjuran sholat untuk diawal waktu,

عَنْ أُمِّ فَرْوَةَ قَالَتْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « الصَّلاَةُ فِى أَوَّلِ وَقْتِهَا »

Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, “Shalat di awal waktunya.” (HR. Abu Daud no. 426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dua hadis diatas menunjukkan betapa pentingnya kita sholat berjamaah dan diawal waktu. Selain banyak hikmah yang ditemukan dengan itu kita sebenanya diuntungkan, karena lipatan pahala dan kebaikan. Namun ada suatu perbuatan yang sampai-samapai hampir tidak pernah ditinggalkan nabi, sahabat, dan orang-orang shalih dalam urusan peribadatan sholat, yaitu melaksanakan sholat berjamaah di masjid, kecuali ada udzur syar’i dan bepergian.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari akhir, serta tetap mendirikan shalat” (QS. At Taubah: 18).

Diperkuat lagi dengan sabda nabi SAW, dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن سَمِعَ النِّداءَ فلَم يأتِ فلا صَلاةَ لَه إلَّا مِن عُذرٍ

Barangsiapa yang mendengar adzan, namun tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya, kecuali ada udzur” (HR. Abu Daud no.551, Ibnu Majah no.793, dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram [114]).

Atas dasar ini peneliti berkeinginan untuk mengkaji lebih terhadap fenomena keagamaan tersebut di era sekarang. Dalam hal ini peneliti berhasil mengkaji data dari dua masjid di lingkungan yang berbeda yaitu masjid di lingkungan perkampungan dan masjid di lingkungan perumahan. Masjid yang saya teliti di perkampungan adalah masjid Al-Muttaqien, letaknya di dsn. Ngangkruk, Caturharjo, Sleman, Yogyakrta. Dan masjid yang diperumahan adalah adalah masjid Cordoba letaknya di perumahan Cassa Grande sebuah perumahan elite, di Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta.

Kenapa harus beda lingkungan? Ya harus, supaya tahu apakah ada perbedaan fenomena pada kedua wilayah tersebut? jika ada, apakah faktor yang melatarbelakanginya? Mari kita cari tahu bersama!

Pembahasan

Penelitian dimulai pada tangaal 31 Desember 2020, masjid pertama yang diteliti adalah masjid Al-Muttaqien. Tahap pertama yang saya lakukan adalah terjun langsung menjadi jamaah masjid, wawancara dengan beberapa jamaah, sembari melihat kondisi lingkungan Masjid, mulai dari rentan mayoritas usia warga yang berjamaah, dan keaktifan masjid dalam menjalankan program-program keagamaan.

Dari hasil penelitan pertama ini diperoleh data bahwa masjid Al-Muttaqien adalah masjid yang berdiri di atara dua dusun, dusun Ngangkruk RT 05 dan dusun Ganjuran RT 04, Triharjo, Sleman. Letaknyapun berada persisis di pinggir Jalan utama Magelang-Jogja persisnya di KM 15, dari bangunan masjid ini termasuk masjid besar, fasilitas kamar mandi dan parkir tergolong cukup untuk 400 jamaah lebih.

Basic kultur dari masjid ini adalah Muhmmadiyah, walaupun ada beberapa jamaah yang berada di firqah Nahdlotul’ulama, namun dalam menjalankan praktek keibadatan mengambil manhaj dari imam Hanafi (Muhammadiyah). Rentan mayoritas jamaah di masjid ini sekitar umur 40 tahun keatas, sangat jarang ditemukan pemuda setempat yang datang shalat jamaah di masjid, walaupun ada sesekali satu dua orang pemuda kisaran umur 15-25 tahun. Keaktifan masjid Al-Muttaqien dalam menyelenggarakan program bisa dibilang biasa saja, tidak ada yang khusus dari maasjid lain, mungkin karena masih adanya virus Covid-19.

Untuk memvalidasi penelitian diatas, tahap berikutnya peneliti melakukan wawancara langsung dengan takmir masjid Al-muttaqien, beliau adalah bapak Sugimin ketua dewan takmir dari masjid Al-Muttaqien. Beberapa pertanyaan yang peneliti ajukan adalah mengenai keaktifan jamaah setempat, kegiatan rutin khusus masjid, situasi lingkungan sekitar dan sejarah atau backraound singkat dari masjid Al-Muttaqien.

Dari penelusuran ini diperoleh bahwa keaktifan jamaah memang tergolong rendah terutama dalam sholat dzuhur, ashar, dan subuh bisa dihitung dengan jari. Mengingat masjid ini adalah gabungan dari dua dusun yang total warganya sekitar 600 warga lebih. Sedangkan ketika sholat maghrib dan isya’ jumlah warga yang berjamaah meningkat, walaupun masih hitungan belasan itupun anak kecil masuk hitungan.

Namun point plus dari masjid Al-Muttaqien adalah dari jamaah musafir yang transate istirahat dan sholat tergolong cukup banyak, malahan bisa dikatakan lebih banyak musafir dari pada warga setempat. Dari kegiatan khusus masjid sendiri memang tidak begitu banyak, bapak Sugimin mengatakan ada dua kegiatan khusus masjid sebelum masa pandemi Covid, ada kajian mingguan ahad pagi dan kajian bulanan setiap rabu di pekan pertama. Padahal antusias warga ketika kajian beliau mengatakan bagus, hampir 40 orang bisa datang di rentan umur masih 40 tahun keatas.

Situasi lingkungan masjid terbilang bagus mayoritas muslim bahkan dari dua dusun ini yang non Islam hanya belasan saja. Akses menuju masjid juga mudah, fasilitas lengkap (2 lantai, 12 kamar mandi, 4 westafel, parkir luas, kipas banyak, karpet tebal, dll) paket komplit. Pekerjaan kebanyakan warga adalah dagang skala rumahan, guru, dan petani. Dalam praktek ibadah Masjid ini menggunakan Hanafiyah, karena dari awal pencetusan masjid ini dulu adalah rintisan dari lembaga Muhammadiyah pusat. Masjid ini tergolong tua, dibangun sejak tahun 1992, renofasi tahun 2004, dan sekarang dalam proses pembangunan lagi.

Tahap penelitian berikutnya adalah Masjid Qordoba, letaknya di dalam perumahan mewah Cassa Grande, jl.ringroad Utara, Maguwoharjo, Sleman. Sebuah masjid yang tergolong mungil dengan luas bangunan 70 m2 dan hanya mampu menampung jama’ah sekitar 110 jama’ah saja dengan halaman masjid. Masjid ini mempunyai bangunan yang unik dengan desaign classis kebaratan seperti namanya Qordoba, di Spanyol.

Sama dengan masjid Al-Muttaqien penelusuran di masjid ini peneliti melakukan observasi langsung ke lapangan mencari data dengan wawancara. Disini peneliti berhasil mewawancarai salah satu takmir masjid Qordoba, mas Rohman namanya. Beliau adalah takmir dalam defisi humas dan kebersihan, kebetulan dari ketua takmir masjid Qordoba belum bisa ditemui karena sedang ada tugas diluar kota.

Pertanyaan yang kurang lebih sama saya ajukan kepada mas Rohman. Dari wawancara ini akhirnya diperoleh data informasi sebagai berikut. Keaktifan warga setempat terbilang cukup bagus terutama ketika sholat jahr (maghrib, isya’, subuh) bisa tembus sampai 30 jamaah aktif sebelum pandemi dan pada saat pandemi jama’ah aktif bisa sekitar 20an. Hal ini bisa dikatakan lumayan mengingat jumlah total warga adalah 300an dengan perbandingan muslim dan non muslim adalah 50% : 50%, artinya warga muslim hanya sekitar 150 orang saja.

Namun ketika dzuhur dan ashar turun drop sekitar hanya 5 jamaah kebawah. Rentan usia jamaah yang aktif adalah 40-50 tahun keatas, pemuda ada namun jarang hadir kecuali dalam shalat jum’at. Kegiatan khusus masjid Qordoba sebelum pandemi adalah kajian dzuha ahad pagi, kajian dua pekanan, kajian fiqih bulanan, dan kajian tematik bulanan rutin, namun sekarang sedang di berhentikan semua demi kesehatan warga. Mayoritas pekerjaan warga adalah sebagai pengusaha skala industri, pensiunan perusahaan, dokter, dan pegawai pemerintahan.

Maka disini peneliti walaupun sebenarnya masih banyak kekurangan, mengingat keterbatasannya waktu dan kurangnya observasi ke masjid lain namun tetap berusaha membuat kesimpulan melihat fenomena yang sudah didapat. Jadi kesimpulan dari peneliti mengenai “Antusiasme Masyarakat Perkampungan Dan Perumahan Dalam Aktivitas Sholat Berjamaah di Masjid” adalah antusias jamaah di masjid masyarakat perumahan Cassa Grande terbukti lebih baik dari pada kampung Ngangkruk dan Ganjuran terlihat dari presentase warga yang datang kemasjid ketika sholat berjamaah.

Usia memang menjadi pekerjaan rumah bersama, mengingat mayoritas kedua masjid tersebut diisi oleh jamaah kisaran umur 40-50 tahun keatas. Yang artinya belum banyak pemuda setempat yang sadar betul atas begitu besarnya maanfaat sholat berjamaah di masjid.

Faktor pekerjaan juga peneliti melihat mempengaruhi dalam aktivitas ke masjid. Di perkampungan banyak yang bekerja sebagai petani sehingga ketika ada panggilan sholat masih pada diladang, ketika pulang sudah masuk waktu maghrib, kemudian istirahat. Berbeda di lingkungan perumahan kebanyakan adalah pensiunan dan pedagan besar skala CEO dan boss, sehingga wajar mereka selalu standby di rumah dan melakukan sholat berjama’ah di masjid.

Dari keaktifan masjid sendiri bisa mempengaruhi jamaahnya untuk aktif di masjid memang, terbukti di masji Cordoba yang aktif menyelenggarakan rangkaian kegiatan ketimbang masji Al-Muttaqien. Dan yang terakhir dari segi lingkungan dan fasilitas, sebenarnya point ini masjid Al-Muttaqien lah yang lebih unggul, namun terbukti lingkungan dan fasilitas tidak menjadi faktor penyebab orang pergi jama’ah ke masjid.

Sekian, pada akhirnya peneliti mengucapkan banyak terimakasih kepada Allah Swt atas kelancaran yang diberikan. Tak lupa kepada dosen pembimbing bapak Abdul Aziz Faiz M.hum yang sudah memberikan tahapan yang sangat berarti, dan kepada seluruh pihak terlibat Pak Sugimin, mas Rohman dan pihak lainnya yang sudah mensupport sehingga penelitian ini bisa selesai dan siap diserahkan sebagi tugas akhir pelajaran “Metodologi Penelitian Sosial Keagamaan”.

 2,348 total views,  4 views today

Posted in Kajian.