Teori Sosial dalam Studi Hadits

Gusti Anagia Dita Farhatun
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sebelum masuk ke pembahasan inti tentang teori Sosial dalam Studi Hadist terlebih dahulu kita harus mengetahui definisi dari teori sosial. Menurut wikipedia teori sosial adalah ide, argumen, atau spekulasi penjelas tentang bagaimana dan mengapa masyarakat terbentuk, berubah, dan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Menurut Emile Durkheim, teori sosial adalah bahwa ketika kita ingin melihat suatu kebudayaan, maka dapat dilihat pula institusi dan norma yang ada dalam kebudayaan tersebut. Sebab masyarakat terbentuk dari institusi dan norma norma tersebut. Sedangkan pengertian dari studi atau ilmu hadits adalah ilmu yang membahas mengenai apa apa saja yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW baik dari perkataan, perbuatan dan ketetapan.

Dalam studi hadits ada dua konsen yang harus kita pahami yang pertama yaitu memahami ruang lingkup sosial hadits di masa lalu dan yang kedua memahami bagaimana hadits diapliaksikan di masa sekarang. Konsen ruang lingkup sosial hadits di masa lalu sumbernya langsung dari Nabi Muhammad SAW, jadi setiap kali ada permasalahan yang timbul pada waktu itu langsung ditaati apapun perkataan, perbuatan, ketetapan dan kebenaran nya sudah pasti mutlak dan tidak diragukan lagi.
Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad SAW adalah teladan bagi umat dan beliau punya otoritas untuk menyampaikan wahyu Allah SWT. Dahulu hadits Nabi Muhammada SAW itu, sebenarnya dilarang untuk ditulis karena beberapa faktor yaitu : Pertama, karena khawatir tercampur nya sebagian hadits dengan Al Qur’an, Kedua, karena kuat nya daya ingat para sahabat dan kemampuan nya dalam menghafal, serta karena mayoritas masih banyak yang belum mengenal dunia tulis menulis.

Contoh pengaplikasian hadits di masa lalu seperti hadits tentang berbicara lah yang baik atau lebih baik diam, hadits tentang menahan amarah, hadits tentang senyum kepada saudara mu adalah sedekah hadits tentang tolong menolong, dan masih banyak lagi. Dalam hadits tersebut dapat kita pahami bahwa dari dulu kita sudah diajarkan untuk bertindak sosial dan beretika dengan baik.
Kedua, bagaimana pengaplikasian hadits di masa sekarang? Pengaplikasian hadits di masa sekarang harus melihat hadits dari segi teks dan konteks. Pengaplikasian hadits di masa sekarang jauh berbeda dengan hadits di masa lalu, jika sekarang pengaplikasian nya langsung merujuk pada hadits terdahulu tanpa adanya sosial terlebih dahulu maka akan sulit diterima, karena sekarang banyak yang mengedepankan logika atau pemikiran yang terkadang bertolak belakang dengan rujukan hadits. Rentan waktu antara hadits Nabi Muhammad SAW dan sekarang sangat jauh juga menjadi salah satu faktor terjadi banyaknya perselisihan dan perdebatan. Maka dari itu tujuan yang dapat kita ambil dari mempelajari teori sosial dalam studi hadits ini adalah agar dalam pengaplikasian nya kita bisa lebih berhati hati menyampaikan supaya dapat dipahami dan bisa diterima oleh masyarakat luas.
Contoh pengaplikasian hadits di masa sekarang contoh nya seperti hadits tentang larangan wanita berpergian tanpa mahram, sebagaimana hadits yang berbunyi:
“حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي أُسَامَةَ حَدَّثَكُمْ عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُسَافِرْ الْمَرْأَةُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ”
Artinya :
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzholah berkata : Aku berkata, kepada Abu Usamah apakah ‘Ubaidullah telah menceritakan kepada kalian dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar r.a bahwa Nabi SAW bersabda : “Seorang wanita tidak boleh mengadakan perjalanan diatas tiga hari, kecuali bersama mahramnya”. (HR.Bukhari : 1024)

  • Hal ini mengingat di masa lalu saat itu, orang berpergian menggunakan kendaraan unta dan keledai dalam perjalanan mereka dan sering kali mengarungi padang pasir atau daerah daerah yang jauh. Dalam kondisi seperti itu, tentu dikhawatirkan akan keselamatan dirinya (perempuan). Akan tetapi dimasa sekarang, perjalanan sudah bisa kita tempuh seperti menggunakan pesawat dan kereta api, yang bisa banyak membawa ratusan orang maka tidak ada alasan lagi untuk mengkhawatirkan perempuan bepergian sendirian.

 2,032 total views,  2 views today

Posted in Opini.