Elicia Eprianda 20105040008@student.uin-suka.ac.id*
Terdapat dua hal terkait erat satu dengan lainnya yaitu agama dan adat istiadat. Selain itu, keduanya juga saling mempengaruhi karena terdapat nilai dan corak yang di dalamnya dapoat bebentuk kebudayaan. Keberagaman tersebut membuat suatu daerah semakin kaya dengan ornamen dan kebudayaan lainnya yang saling berinteraksi antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Dengan demikian, terdapat beragam ineteraksi berjalan dengan alami antara agama dan adat istiadat.
Bentuk interaksi Islam dengan adat istiadat di atas ditemukan dalam masyarakat Gayo. Salah satu kegiatan di masyarakat adalah Perayaan Maulid Nabi pada 12 Rabi’ul Awal sampai berakhir bulan Rabiul Awal. Selama sebulan penuh di penanggalan Hijriah yang merupakan tradisi masyarakat Gayo, Aceh Tengah dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad saw. Perayaan tersebut biasanya dilakukan dengan bentuk tertentu yaikni dengan makan bersama.
Budaya Gayo merupakan sebuah tatanan masyarakat di Gayo, yaitu sebuah daerah di Aceh Tengah yang memiliki karateristik tertentu. Bertahun-tahun budaya tersebut dilakukan secara turun temurun dalam kehidupan masyarakat Gayo yang dikenal dengan sebutan Ritus. Budaya adalah proses interaksi akal dan budi antar sesama manusia serta wilayah lingkungan, sehingga menghasilkan nilai-nilai kebudayaan untuk dinikmati dan manfaatnya dapat dirasakan bersama untuk menjadi acuan harkat martabat dalam bangsa dan dunia.
Didalam budaya Gayo pemahaman akan budaya itu adalah bersumber ajaran Islam yakni di dalam al-Qur’an di mana di dalamnya terdapat nilai-nilai syari’at, khsuusnya menntaati Rasulullah saw. Artinya secara garis besar basis budaya di Aceh Tengah dan sekitarnya adalah sesuai ajaran Islam. Kebiasaan merayakan Maulid Nabi Muhammad saw. setiap tahunnya sudah berlangsung lama di masyarakat Gayo, Aceh Tengah.
Perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. di daerah Gayo dikenal dengan Kenduri. Perayaan ini merupakan suatu proses akulturasi kebudayaan masyarakat Gayo agar semakin menguatkan tradisi aslinya. Dalam masyarakat Gayo, Aceh Tengah terdapat tujuh ragam bentuk dan aturan serta pedoman dalam menjalankan roda kehidupan. Pedoman tersebut adalah sesuai dengan tata urutan hukum Islam yakni (1) hadist, (2) ayat, (3) kiyes (4) atur, (5) ijma, (6) inget, dan (7) resam. Ketujuh ragam bentuk dan aturan serta pedoman ini merupakan konsep adat-istiadat dalam kebudayaan Gayo yang tidak dimiliki secara aturan hierarki di daerah lain yang ada Indonesia
Adat istiadat ini sudah melekat menjadi sebuah tradisi yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Gayo, Aceh Tengah meskipun Nabi Muhammad saw. diyakini juga meninggal pada hari yang sama, kewafatannya tidak penting bagi ritual ini. Karena Islam menganjurkan untuk menyambut hari kelaharian Nabi Muhammad SAW sesuai firman Allah swt. yaitu dalam QS Yunus (10): 58 “Katakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmat-Nya (Nabi Muhammad saw.) hendaklah mereka menyambut dengan senang gembira.”
Salah satu contoh sosialisasi masyarakat desa di Gayo Aceh Tengah yaitu, adanya kerjasama antara masyarakat desa dalam mempersiapkan kenduri untuk peringatan Maulid Nabi maupun peringatan Nuzul Qur’an oleh tiap-tiap desa yang ada di Gayo, Aceh Tengah. Masyarakat terlihat sangat antusias dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Hal tersebut terjadi dikarenakan adanya ikatan keagamaan yang kuat antara sesama masyarakat Gayo dengan ajaarn Islam. Sehingga, dalam kehidupan di masyaarkat tumbuh solidaritas untuk saling melakukan interaksi sosial di Aceh Tengah.
Adat Gayo di Aceh Tengah sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam, karena mayoritas masyarakatnya memang hampir secara keseluruhan beragama Islam, begitupula kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat dalam mengatasi berbagai masalah sosial budaya. Hal tersebut karena dijiwai dengan Al-Qur’an yang dikenalkan sejak kecil melalui pengajian dirumah, masjid, dan menasah, terlebih lagi saat bulan Ramadhan, sehingga mendapatkan suatu kekuatan sebagai penunjang kehidupan dan ketentraman antara masyarakat satu dengan lainnya.
Perayaan Maulid Nabi ini secara langsung digunakan untuk bentuk sosialisasi atas ajaran Islam. Hal tersebut setidaknya kepada penganut Islam dan umat manusia pada umumnya adalah dengan kegiatan aktivitas dakwah. Kegiatan tersebut dilakukan melalui lisan, dan tulisan serta tentunya perbuatan nyata yang menjadi contoh bagi masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa makna dakwah adalah ajaran kepada Islam. Perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. adalah suatu tradisi yang terus dipertahankan oleh masyarakat di Gayo agar senantiasa selalu mengingat dakwah Nabi Muhammad saw. dalam menyebarkan agama Islam selama duapuluh tahun di Makkah dan Madinah.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilakukan di Gayo, Aceh Tengah juga merupakan media untuk mengembangkan dakwah dan selalu disesuaikan dengan tuntunan adat istiadat pada masing-masing daerah. Dalam memperluas ajaran Islam tersebut, Pemerintah Aceh Tengah juga sering mengundang para ulama dalam meperingati hari-hari besar umat Islam seperti perayaan Isra’ Mi’raj, salah satunya ialah Ustadz Somad untuk menjadi penceramah dalam acara Tabligh Akbar. Masyarakat pun sangat antusias dalam menghadiri acara tersebut, karena memang bagi masyarakat Gayo, Aceh Tengah ilmu agama adalah hal yang sangat digemari.
Berbagai macam kegiatan yang dilaksanakan dalam tradisi maulud nabi di Gayo Aceh Tengah di atas banyak ragamnya. Selain adanya makan bersama dengan masyarakat yang hadir, juga diisi dengan kegiatan keagamaan yang bernilai ibadah yaitu dengan cara membaca salawat, zikir, dakwah Islamiyah, dan juga menyantuni anak yatim. Berbagai macam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa telah terjadi interaksi antara Islam dengan budaya serta tradisi di Gayo Aceh Tengah.
Dengan begitu, kenduri makan bersama menjadi simbol keagamaan dan merupakan konsep utama dalam pemajuan kebudayaan dan tradisi yang khas untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasululullah saw., keteladanan, serta untuk mengikuti sunnahnya. Akan tetapi yang paling terpenting dari tradisi maupun ritual dalam menyambut hari kelahiran nabi tersebut untuk memperkuat nilai-nilai ajaran Islam dan menghindarinya adanya pengaruh yang bukan berdasarkan ajaran agama Islam.
5,074 total views, 6 views today

Sebagai sebuah ijthad dalam rangka mengembangkan kajian Studi Hadis di Indonesia dibentuklah sebuah perkumpulan yang dinamakan dengan Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Sebagai sebuah perkumpulan ASILHA menghimpun beragam pemerhati hadis di Indonesia. Himpunan ini terdiri atas akademisi dan praktisi hadis di Indonesia dengan memiliki tujuan yang sama.

