Tradisi Ngalungsur Pusaka Sebagai Perayaan Maulid Nabi

Husni Mubarok

19105030060@student.uin-suka.ac.id

Bulan Rabiul Awwal merupakan bulan ke-3 dalam penanggalan Hijriyah. Bulan Rabiul awal juga merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh umat Islam. Bukan tanpa alasan gono Rabiul awal adalah bulan dilahirkannya nabi Muhammad SAW titik sehingga umat Islam di seluruh dunia ikut merayakan datangnya bulan yang istimewa ini.

Di Indonesia sendiri, perayaan maulid Nabi tiap daerah dilakukan dengan kegiatan yang berbeda-beda. Di Jawa Barat, tepatnya di kampung Godog desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan Kabupaten Garut ada yang namanya Ngalungsur Pusaka. Ngalungsur pusaka merupakan bahasa sunda yang memiliki arti  “menurunkan pusaka”. Pusaka tersebut merupakan peninggalan Prabu Kian Santang yang biasa disebut Syeh Sunan Rohmat Suci.tradisi ini diperkirakan pertama kali dilaksanakan pada tahun 1545 M. Tradisi ngalungsur pusaka merupakan bentuk penghormatan kepada Prabu Kian Santang, karena beliau adalah sosok yang telah menyebarkan agama Islam di tanah sunda.

Tradisi Ngalungsur Pusaka dilaksanakan pada tanggal 13 dan 14 robiul awwal. Biasanya 2 bulan sebelum dilaksanakannya upacara adat, panitia pelaksana melakukan musyawarah terlebih dahulu untuk berdiskusi mengenai pembiayaan dan perlengkapan yang harus disiapkan untuk upacara adat Ngalungsur Pusaka. Setelah musyawarah selesai,  selanjutnya hasil musyawarah di umumkan kepada masyarakat sekitar dan intansi pemerintah dengan cara di informasikan melalui ketua RT yang kemudian disampaikan kepada masyarakat, sedangkan untuk instansi pemerintah, disampaikan melalui surat resmi.

Upacara adat ngalungsur pusaka biasanya dibagi menjadi dua tahapan yakni, tahapan pertama pada tanggal 13 Robiul Awal yaitu mengadakan acara muludan. Walaupun  hari kelahiran Nabi jatuh pada tanggal 12 Robiul Awal, tetapi panitia pelaksana menetapkan acara muludan pada tanggal 13 Robiul Awal. Hal ini dikarenakan demi tersusun rapi nya rangkaian acara  tradisi ngalungsur pusaka  yang ditetapkan pada tanggal 14 Rabiul awal.

Setelah dilaksanakannya peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. tepatnya pada pukul 23:00 WIB,  para juru kunci melaksanakan ziarah di makam keramat Godog.y setelah bertawasul cukup lama  kurang lebih 1 jam,  para juru kunci keluar dari makam satu persatu kecuali pemimpin upacara adat dan dan para panitia yang bertugas untuk menurunkan  pusaka Raden Kian Santang. Setelah benda pusaka Raden Kian Santang diturunkan, selanjutnya nya di arak sambil pawai obor, dari kandaga menuju  Masjid Nurul Hidayah.  Arak-arakan ini menandakan bahwa peninggalan Prabu kiansantang bukan hanya milik keluarga turunan yang Eyang Pager Jaya saja melainkan milik seluruh masyarakat.

Setelah pemindahan benda pusaka Raden Kian Santang selesai, sekaligus menandakan telah selesainya tahap pertama dalam upacara adat ngalungsur pusaka, selanjutnya menuju ke tahap kedua yakni pemberangkatan benda pusaka Raden Kian Santang dari Masjid Nurul Hidayah ke Paseban.  Sebelum pemberangkatan, para panitia terlebih dahulu terlebih dahulu membaca doa yang dipimpin oleh Kyai H. Ahmad Syarifudin (penasihat IKCI).  Setelah pembacaan doa, barulah benda pusaka Raden Kian Santang dibawa menuju Paseban menggunakan tandu oleh panitia yang bertugas agar terjaga selama perjalanan.

Ketika hampir sampai di Paseban, rombongan pembawa benda pusaka disambut oleh tim khusus. Penyambutan ditandai dengan  dibunyikannya sirine dari Paseban yang kemudian  disambung oleh tim khusus dengan Marawisan dan sholawatan. Sebelum dilaksanakannya penyucian benda pusaka, juru kunci terlebih dahulu menyatukan air dari 3 sumber mata air yang sudah disimpan dalam satu ruas bambu.  Hal ini melambangkan bahwa hidup harus bersatu dan harus berbaur dengan yang lain.

Setelah itu upacara inti dari ngalungsur pusaka yakni penyucian benda pusaka dilakukan.  Benda pusaka dibersihkan menggunakan kawul yang telah dilumuri dengan minyak kobra.  Kemudian dibersihkan dengan menggunakan air dari tiga mata air yang telah disatukan tadi.

Setelah upacara penyucian benda pusaka selesai, barulah benda pusaka dipajang dengan tujuan agar masyarakat dapat mengetahui dan melihat dengan jelas benda pusaka peninggalan Raden Kian Santang.

Acara terakhir dari longsor pusaka yakni pengembalian benda pusaka Raden Kian Santang ke kandaga. Benda pusaka diarak sambil diiringi dengan sholawatan. Biasanya setelah seluruh rangkaian acara selesai, masyarakat yang hadir dalam acara berebut air bekas penyucian benda pusaka tersebut, masyarakat percaya bahwa apabila air bekas penyucian benda pusaka dipakai berwudhu mempunyai manfaat yang baik bagi tubuh.

Selain daerah tersebut, masih banyak tradisi  perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Seperti Maudu Tempoa di Takalar Sulawesi Selatan, Muludhe di Madura, Pajang Jimat di  Cirebon, dan di berbagai daerah lainnya.

Semua tradisi tersebut merupakan ungkapan rasa cinta kepada nabi Muhammad SAW. Walaupun perayaan setiap daerah berbeda-beda, tetapi tujuan dari acara itu sama yakni memperoleh syafa’at dari Rasulullah SAW.

 2,615 total views,  2 views today

Posted in Kajian.