Mengembangkan Aspek Keagamaan Anak dengan Mengenalkan Hadis Sejak Dini

Nadia El-Huda Anza
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
20204031022@student.uin-suka.ac.id

Menanamkan keagamaan dimulai sejak usia dini merupakan keputusan yang tepat bagi orangtua dalam memprioritaskan aspek keagamaan sejak dini. Anak usia dini adalah usia yang pada masa keemasannya dalam tumbuh kembang. Hal ini merupakan kesempatan bagi orangtua untuk menanamkan aspek perkembangannya dimulai dari usia dini. Sebab pada masa inilah anak menerima proses pertumbuhan dan perkembangannya. Segala stimulus yang disuguhkan pada anak merupakan bagian dari pembentukkan dirinya.

Orangtua tentu mengharapkan anak menjadi pribadi yang beriman, berakhlakul karimah dan bertakwa. Namun hal ini tidak bisa hanya sebatas keinginan saja, tentu harus dengan ikhtiar dan do’a. Kebanyakan dari orangtua memberikan penanaman aspek spiritual setelah anak beranjak dewasa. Memang kita mengetahui bahwa meuntut ilmu tidak terbatas usia dan waktu. Akan tetapi stimulus yang dimulai sejak dini merupakan penanaman yang ampuh dalam membentuk diri.

Pada hal ini, salah satu stimulus keagamaan pada anak melalui hadist. Dalam terminologi agama, hadist merupakan segala bentuk perbuatan dan perkataan Nabi Muhammad Saw. Di dalam hadist terdapat banyak panduan untuk manusia dalam melakukan aktivitas kehidupan. Melalui hadist orangtua dapat memberikan bimbingan pada anak dengan mengenalkan hadist-hadist. Hadist yang diajarkan adalah yang sesuai dengan konteks kehidupan anak. Seperti bagaimana anak melalukan aktivitasnya sehari-hari.

Orangtua dapat memilih tema-tema hadist yang diberikan menyesuaikan porsi usia anak, aktivitas hariannya, atau bahkan menyelaraskan dengan harapan orangtua pada anak. Misalnya orangtua menginginkan anak menjadi anak yang rajin beribadah, maka pilihlah hadist yang menjelaskan atau menggambarkan tentang keibadahan pada anak.

Misalnya pula orangtua ingin menanamkan kesabaran pada anak, maka orangtua dapat memberikan hadist Shahih dari Riwayat ibnu Abid Dunya “Janganlah engkau marah, niscaya bagimu surga”. Tidak hanya membacakan isi hadist, namun tentunya ini diiringi bimbingan orangtua kepada anaknya dalam memberikan pemahaman tentang makna dan tujuan dari hadist. Penjelasan harus diberikan dengan bahasa yang sederhana, agar dapat mudah dipapahami anak. Lalu, hendaknya proses ini diberikan dalam kondisi yang nyaman untuk anak, agar ilmu yang diberikan dapat diterima dan diserap anak.

Ciptakanlah suasana yang menyenangkan agar anak merasa ini bukan sebuah pembelajaran yang disengaja dan memberatkan. Sebab dalam dunia anak usia dini kata “pembelajaran” bukanlah hal yang tepat. Dunia anak adalah dunia bermain, maka bermain adalah proses pembelajaran pada anak. Orangtua dapat memilih berbagai cara yang tepat dan menyenangkan dalam mengajarkan hadist. Dapat dilalui dengan metode bermain, metode kisah, atau lain sebagainya. Atau bahkan orangtua dapat dengan tidak sengaja mengenalkan isi hadis melalui aktivitas yang akan atau sedang dilakukan anak.

Misalnya mainannya dirusak oleh temannya, lalu anak marah dan menangis.
Disini orangtua dapat dengan lembut memberikan nasihat pada anak dengan mengenalkan hadis tentang larangan marah. Intonasi suara yang lembut dan baik pada anak sangat berpengaruh pada stimulus yang diberikan.

Penanaman ini dapat berlanjut sesuai dengan tingkat usia anak, dimulai dari perubahan tema yg diberikan dan metode. Namun yang paling penting berikanlah proses yang menyenangkan pada anak dalam pembelajaran agar ia tidak mudah merasa bosan. Orangtua pun hendaklah bersabar dalam berproses memberikan stimulus, jangan menekan tumbuh kembangnya dengan tekaaan dan paksaan. Melalui hadist, didikan yang diberikan melalui tauladan Rasulullah Saw. Stimulus aspek spiritual anak melalui hadis diharapkan anak menjadi pibadi yang berkarakter baik, beriman dan bertakwa.

 2,641 total views,  2 views today

Posted in Kajian.