Menanamkan Karakter Kepada Anak Melalui Tauladan Imam Abu Dawud

NADIYA ULYA

UIN SUNAN KALIJAGA

20204031017@student.uin-suka.ac.id

 

Tahun lalu ketika saya melakukan praktik pengalaman lapangan sayang diberikan kesempatan untuk mengajar disebuah TK. Pada saat itu saya pertama kali berinteraksi dengan anak dan pengalaman pertama dalam mengajar anak di dalam kelas.

 

Pada setiap pagi hari kamis di TK tempat saya melaksanakan praktik pengalaman lapangan, semua murid berkumpul  di halaman depan untuk melakukan circle time.

 

Circle time adalah sebuat kegiatan yang berisikan membaca surah surah pendek, hadits-hadits pendek dan asmaul husna secara bersama-sama dipimpin oleh guru. Surah dan hadits tersebut diulang-ulang kembali di dalam kelas agar anak terbiasa dan hafal.

 

Melihat banyak sekali lembaga pendidikan yang memberikan pengajaran tentang materi keislaman pada anak usia dini, suatu hal yang perlu kita syukuri pada saat ini.

 

Dapat kita lihat pada saat ini karakter anak bangsa saat ini jauh dari karakter anak-anak semestinya, mengingat banyaknya anak-anak pada saat ini, rasanya mustahil seamu anak saat ini memiliki perilaku yang melenceng dari kodratnya sebagai anak-anak, akan tetapi kebanyakan dari mereka masih memerlukan bimbingan terhadap pendidikan karakter.

 

Karena hal tersebut pendidikan hendaknya memberikan pendidikan keislaman yang kuat kepada anak sejak dini. Agar memiliki nilai-nilai luhur dan norma-norma yang sesuai dengan agama.

 

Sebagai umat muslim karakter adalah segalanya,  pembangunan karakter adalah masalah yang dasar untuk menjadikan umat yang berkarakter. Pembangunan karakter dimulai dari pembiasaan sejak dini memiliki akhlak yang mulia.

 

Dengan mengenalkan pendidikan hadits kepada anak di TK adalah suatu metode yang tepat untuk pembentukan karakter. Pendidik dapat mengenalkan para perawi hadits yang terkenal secara sederhana kepada anak, dimana dalam mengenalkan para perawi hadits kepada anak kita dapat menceritakan karakter para perawi tersebut dalam mencari ilmu hadits.

 

Salah satu perawi hadits yang patut dijadikan tauladan adalah Imam Abu Dawud yang mana nama lengkap beliaud adalah Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar al-Azdi as-Sijistani. Imam Abu Dawud adalah pencinta ilmu.

 

Ketika beliau kecil sudah sangat mencintai ilmu dan memiliki lingkungan pertemanan yang bagus, beliau berteman denga para ulama untuk mendapatkan ilmu. Beliau mempelajari hadits dari para ulama yang ditemui di negeri Syam, Mesir, Irak, Jaziraj, Sagar dan negeri lainnya.

 

Imam Abu Dawud sedari kecil sudah berkecimpung dalam bidang hadits di usia belasan tahun, belaiu menimba ilmu selama bertahun-tahun, diantaranya beliau pernah berguru pada Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau memahami dan menghafal hadits dengan illatnya, setelah ke beberapa negeri untuk mendapatkan hadits beliau menulis sebuah kitab yang kita kenal sebagai kitab Sunan Abu Dawud. Di dalam kitab ini terdapat 4.800 hadits yang sudah terseleksi dari 50.000 hadits.

 

Seperti yang diketahui Imam Abu Dawud sangat rajin dalam mencari ilmu dan berguru kepada para ulama, sifat dan kepribadian Abu Dawud mencapai derajat tinggi dalam beribadah, kesucian diri, kesalihan dan wara’ yang mana kepribadian tersebut patu dijadikan teladan kepada anak-anak sejak dini.

 

Beliau juga sangat menghormati ilmu dan ulama terutama guru yang pernah mengajari beliau, Imam Abu Dawud selalu mengamalkan ilmu yang sudah di dapat sehingga hal itulah banyak ulama yang memuji kepribadian Imam Abu Dawud.

 

Pengenalan ilmu hadits pada anak usia dini bisa dimulai dari mengenalkan para perawi hadits seperti Imam Abu Dawud, dimana pendidik dapat menceritakan bagaimana tekunnya beliau dalam menuntut ilmu dan bagaimana beliau menghormati para ulama dan guru yang pernah memberikan ilmu kepada beliau. Diharapkan dengan mendengar cerita tersebut anak-anak dapat menjadikan para perawi hadits sebagai tauladan dalam kehidupan mereka.

 

Dengan mengenalkan pendidikan hadits kepada anak usia dini melalui metode bercerita tentang para perawi hadits pada masa emas anak adalah seperti mengukir di atas batu, ingatan anak sangat kuat dan mampu menyerap banyak pengetahun dan pehaman. Jika yang diajarkan adalah keilmuan tentang keislaman seperti aqidah, maka pemahaman anak tersebut dapat menjadi sumber perilaku karakter setiap anak.

 2,204 total views,  2 views today

Posted in Kajian.