Dede Eva Apipah A
19105030058@atudent.uin-suka.ac.id
Insan kamil yang berarti manusia sempurna merupakan sebutan teruntuk manusia pilihan yang indahnya tiada tara, dengan segala kesempurnaan akhlaknya yang berbudi luhur nan agung, yakni sosok mulia Nabi Agung Muhammad Saw. yang mempunyai perangai indah yang telah Allah tetapkan sebagai penyempurna akhlak. Hal ini sejalan dengan sabdanya, “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak”.
Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa Nabi Agung Muhammad Saw. adalah sebagai insan kamil, manusia paripurna yang pantas kita jadikan sebagai suri tauladan yang baik, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak mengingat Allah Swt.” (Qs. Al-Ahzab: 21)
Sosok mulia nan agung ini Allah hadirkan ke bumi tepatnya di tanah Arab pada hari senin 12 Rabi’ul Awwal. Hal inilah yang kemudian menjadikan bulan Rabi’ul Awwal menjadi bulan yang sangat dimuliakan oleh umat Islam dan menjadi sebuah momentum yang ditunggu-tunggu di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Momentum inilah yang biasa kita sebut dengan istilah Maulid Nabi, yakni sebuah peringatan dan pengagungan atas lahirnya manusia sempurna sebagai baginda seluruh alam.
Peringatan maulid Nabi di Indonesia, biasa diisi dengan berbagai kegiatan nuansa islami, seperti menggelar pengajian, shalawat bersama, membaca shiroh nabawiyah barzanji, dan berbagai kegiatan lainnya sesuai dengan tradisi budaya masing-masing daerah. Hal tersebut senada dengan kegiatan sekatenan di Yogyakarta, yakni peringatan Maulid Nabi yang diintergrasikan dengan budaya setempat. Adapun esensi dari peringatan Maulid Nabi ini adalah tidak lain sebagai pengingat bagi umat Islam terhadap sosok mulia Nabi Agung Muhammad Saw.
Membicarakan keagungan sosok Nabi Muhammad Saw. memang tak akan pernah ada habisnya. Tidak sedikit kitab yang ditulis para ulama guna menjabarkan keagungan sosok Nabi Muhammad Saw, baik itu sejarah perjalanan hidup, karakter, keseharian, terutama kepribadian dan akhlak mulianya.
Setidaknya terdapat beberapa kitab yang populer dikalangan umat Islam, seperti kitab madaih yang berisikan syair dan lagu-lagu pujian, kemudian kitab dalail menjelaskan bukti keagungan Nabi dari sisi kerasulan dan mukjizatnya, dan kitab maghazi sebagai bukti kepiawaian Nabi dalam memimpin peperangan. Terlebih kitab al-Syamail Muhammadiyah yang akan penulis kupas dalam tulisan sederhana ini.
Al-Syamail Muhammadiyah adalah salahsatu dari banyaknya kitab yang menjelaskan keagungan kepribadian Nabi Muhammad Saw. Baik itu dari sisi akhlaknya yang mulia maupun dari sisi perawakannya yang indah memesona. Kitab al-Syamail Muhammadiyah ini betul-betul menggambarkan segala aspek yang berkaitan dengan keseharian Nabi Muhammad Saw., sehingga dengan mendalami isi kitab ini, kita seakan-akan sedang menyaksikan langsung gerak-gerik Rasulullah yang terbingkai dalam kesempurnaan akhlak mulia nan agung.
Kitab al-Syamail Muhammadiyah ini menggambarkan terkait ciri-ciri fisik Nabi, dan juga menjelaskan bagaimana cara beliau makan, minum, berjalan, dan melakukan aktifitas keseharian lainnta yang biasa di lakukan Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian, segala apa yang berkaitan dengan kepribadian Nabi di sajikan lengkap dan terinci dalam kitab ini, sehingga memudahkan para pembaca dalam memahami bagaimana Nabi dalam menjalankan tata kebiasaan yang baik.
Mengenal sosok insan kamil Nabi Agung lebih jauh merupakan suatu keharusan bagi setiap umatnya guna menambah kecintaan kita terhadap beliau. Dan tentu saja rasa cinta tersebut kita wujudkan dalam bentuk pengamalan sunnah-sunnahnya, ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Beliau. Dengan demikian, kitab al-Syamail Muhammadiyah ini penting untuk kita pelajari sebagai jalan untuk mengenal sosok mulia dengan segala keagungannya, terlebih dalam sisi kepribadian dan perangainya yang indah.
Kitab Syamail Sebagai Pengungkap Pribadi Agung Insan Kamil
Kitab Syamail adalah sebagai bentuk ungkapan cinta, kerinduan dan pengagungan terhadap pribadi Agung Nabi Muhammad Saw. yang begitu sempurna. Dalam hal ini, kitab Syamail hadir dalam berbagai corak penjelasan. Hal ini disebabkan karena beragamnya karangan kitab Syamail yang ditulis para ulama.
Kitab Syamail merupakan salahsatu cabang ilmu umat Islam yang mulanya ditulis para tabi’in sejak akhir abad pertama hijriah. Sebut saja kitab Syamail wa Sifatun Nabi yang merupakan catatan hadis Syamail yang pertama kali di bukukan oleh Imam Wahab al-Asady (200 H). Kemudian Imam Ali al-Madani yang menulis kitab Sifatun Nabi pada 224 H. Kemudian pada tahun 279 H, Imam at-Tirmidzi menghadirkan karyanya, yakni kitab al-Syamail Muhammadiyah. Lalu tak terkecuali dengan Syekh Al-Ashfihani yang menulis kitab Akhlaqun Nabi wa Adabuh pada 370 H, yang kemudian nantinya diikuti oleh ulama lainnya, seperti kitab Syamair Rasul yang ditulis oleh Ibnu Katsir, kitab Syarafatul Mushthafa yang ditulis oleh Syekh Muhammad an-Naisaburi, hingga Syekh Qadhi Iyad yang menulis kitab asy-Syifa.
Namun, dalam tulisan sederhana ini yang menjadi bahasan utama penulis adalah Kitab al-Syamail Muhammadiyah karya Imam at-Tirmidzi. Kitab al-Syamail Muhammadiyah ini merupakan kitab yang paling populer dari Syamail lainnya. Kitab al-Syamail Muhammadiyah ini kerap menjadi bahan ajar di berbagai belahan dunia Islam, termasuk di Indonesia yang menjadikan kitab ini sebagai kajian mendasar di kalangan pesantren maupun sekolah.
Hal tersebut sebagaimana yang di lakukan di sekolah Madrasah Tsanawiyah al-Hadrami Surabaya yang menjadikan kitab al-Syamail Muhammadiyah sebagai bahan pembelajaran mendasar, yang di pelopori oleh Sayyid Muhammad Hasyim bin Thahir al-Hadrami. Pun demikian dengan pendiri Majelis Rasulullah, yakni Habib Munzir al-Musawa, yang kerapkali menyampaikan kepada jamaah Majelisnya perihal keutamaan membaca al-Syamail Muhammadiyah sebagai obat rindu yang mendalam kepada junjungan alam, Rasulullah Saw.
Kitab al-Syamail Muhammadiyah ini berisi kumpulan hadis-hadis yang menjelaskan sosok kepribadian dan perawakan Nabi. Hadis-hadis tersebut didapatkan daripada kesaksian para sahabat yang secara langsung melihat sosok keagungan kepribadian Nabi Muhammad Saw. Kemudian hadis-hadis tersebut dikumpulkan Imam at-Tirmidzi melalui jalur disiplin ilmu hadis, yakni melalui jalur paling unggul terkait sanad dan matannya, bahkan dilengkapi dengan asbabul wurudnya.
Secara garis besar, pembahasan kitab al-Syamail Muhammadiyah ini dapat di klasifikasikan ke dalam lima bagian, yang mana pada bagian pertama membahas terkait fisik Rasulullah secara lengkap, yakni meliputi bentuk tubuh, warna kulit, rambut, hingga cap kenabian Rasulullah. Pada bagian kedua membahas perihal barang-barang yang sering digunakan Rasulullah. Di bagian ketiga, membahas terkait cara bagaimana Rasulullah melakukan ibadah di setiap harinya. Kemudian pada bagian keempat, membahas seputar makanan dan minuman Rasulullah. Lalu, pada bagian terakhir membahas terkait usia, warisan, wafatnya Rasulullah hingga mimpi bertemu Rasulullah yang dialami Imam Tirmidzi.
Penciptaan sosok insan kamil Nabi Agung Muhammad Saw. yang begitu sempurna dapat kita temukan dalam contoh hadis yang diambil dari kitab al-Syamail Muhammadiyah, yakni, “Beliau adalah seorang yang mempunyai perawakan sedang, namun agak tinggi, berkulit putih, jenggotnya hitam, rambutnya bagus, bulu matanya lentik, rentang kedua pundaknya lebar, beliau menginjak dengan seluruh telapak kaki tanpa ada cekungan, menghadap dengan seluruh tubuhnya, dan berbalik dengan seluruh tubuhnya pula. Aku belum pernah melihat orang seperti beliau, baik sebelum maupun sesudahnya.” (Diketengahkan oleh Al-Bazzar dan Ya’qub bin Sufyan)
Semua pembahasan dalam kitab al-Syamail Muhammdiyah ini disajikan dalam 56 fasal yang disusun rapi dengan begitu sempurna, runut, dan terperinci oleh Imam Tirmidzi. Sehingga dengan mengikuti alur isi kitab tersebut, pembaca seakan merasa dekat dengan Rasulullah tak ubahnya berhadapan langsung dengan beliau. Hal tersebut tidak lain karena kepiawaian Imam at-Tirmidzi dalam menyajikan sebuah karya Agung sebagai bukti cintanya kepada Nabi Muhammad Saw.
Mengenal Sang Penulis Ulung Kitab al-Syamail Muhamadiyah
Imam at-Tirmidzi adalah sosok penulis ulung atas kesempurnaan diri Nabi, dengan berdasarkan sumber-sumber yang otentik, sebagaimana pengakuan dunia atas keulamaannya di bidang ini. Hal tersebut terbukti dengan adanya kitab al-Syamail Muhammadiyah, yang memaparkan sisi kepribadian Nabi dengan sempurna.
Beliau berhasil membuktikan kecintaannya kepada Nabi dalam bentuk karya tulis kitab al-Syamail Muhammadiyah. Hal tersebut terbukti dari cara beliau menyajikan tulisannya dengan begitu sempurna sehingga siapapun yang membaca dengan mengikuti alurnya akan larut dalam kecintaan dan kerinduan yang mendalam kepada Nabi Agung Muhammad Saw.
Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi, adalah nama lengkap dari Imam at-Tirmidzi. Beliau dilahirkan di sebuah kota kuno yang terletak di Uzbekistan, yakni kota Tirmidz pada 1 Januari 824 M. Karena itulah beliau di juluki Imam Tirmidzi. Imam at-Tirmidzi termasuk ulama ahli hadis dan fiqih yang terkenal dengan hafalannya yang kuat. Beliau berguru kepada ulama ahli hadis, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Dawud, yang keilmuannya diakui oleh dunia, terlebih dikalangan Ahlussunah Waljama’ah.
Imam Tirmidzi berhasil menghadirkan karya agungnya, yakni Al-Jami’, yang akrab dengan sebutan Sunan Tirmidzi. Karya tersebut hadir karena atas dasar kecintaannya terhadap ilmu, sehingga beliau menghabiskan hari-harinya dengan melakukan penelitian keilmuan, baik itu melacak, meneliti, hingga mengumpulkan ribuan hadis dengan disiplin ilmu hadis yang ketat sebagaimana lazimnya yang dilakukan ulama hadis lainnya. Kitab Al-Jami’ tersebut merupakan bagian dari kitab enam pokok bidang hadis atau yang biasa disebut dengan Kutubus Sittah.
Setelah melewati perjalanan panjang penelitian keilmuan dengan mencatat, meneliti, hingga sukses mengarang kitab, sampailah beliau disisa akhir hidupnya. Di akhir kehidupannya ini, beliau mengalami gangguan penglihatan hingga menyebabkan kebutaan sampai akhirnya beliau meninggal dunia dalam usia 70 tahun di kota Tirmidz, tepatnya pada 8 Oktober 892 M.
16,612 total views, 8 views today

Sebagai sebuah ijthad dalam rangka mengembangkan kajian Studi Hadis di Indonesia dibentuklah sebuah perkumpulan yang dinamakan dengan Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Sebagai sebuah perkumpulan ASILHA menghimpun beragam pemerhati hadis di Indonesia. Himpunan ini terdiri atas akademisi dan praktisi hadis di Indonesia dengan memiliki tujuan yang sama.

