Nur Hafidz
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
20204031015@student.uin-suka.ac.id
‘‘Salwa, hari ini muka kamu cemberut terus?’’ Ujar Ibu.
‘‘Marah!, sebel !’’
‘‘Iya, Bu!, tadi Kakak nakal cubit tangan Aku’’ Jawab Salwa.
Ibu pun berpikir keras untuk menenangkan perasaanya dengan baik.
‘‘Coba, ikuti kata-kata ibu ya, biar kita ceria!’’ pinta Ibu.
‘‘Tabassumuka fi wajhi akhika shadaqatu’’
‘‘Senyum manismu dihadapan saudaramu adalah sedekah’’ (HR. Tirmidzi)
Ibu mengulang kata-katanya sampai tiga kali.
Alhasil, Salwa senyum. Senyum menirukan kata-kata dari ibunya.
Anak prasekolah, pada umur 4 sampai 6 tahun sedang mengalami emosi dan bermain. Emosi muncul ini disebabkan peran lingkungan dan teman-teman sebaya yang mempengaruhinya. Maka peran utama orang tua adalah memberi file-file atau pengalaman melalui persoalan anak. Misalnya, ketika anak sedang marah, Ibu merespon kata-kata ‘‘Marah itu tidak ada temannya, marah itu temannya setan’’, setelah itu peluk anaknya dan menunggu sampai meredam.
Sebuah edukasi sederhana membantu anak-anak cepat berpikir. Dan anak mendapat pengetahuan infomasi bahwa senyum adalah sedekah, bahwa marah adalah temannya setan’’. Di sinilah kemampuan anak berpikir mendasar seperti teori Piaget pada masa pra oprasional. Ketika itu anak berpikir menggunakan simbol, namun belum memahami konsep umum seperti, ukuran, kecepatan, atau sebab-akibat. Hal ini anak-anak cepat merespon ketika orang tua memberikan hal-hal yang baru, apalagi permainan yang membuat anak belum menyentuh dan memiliki.
Dengan kata-kata, kemampuan dan pengalaman kognitif akan berkembang, anak juga bisa meredamkan marah sendiri. Dari sinilah, anak semakin kaya wawasan dari pembendaharaan kata-kata dan semakin mudah anak meniru. Padahal, secara tidak langsung orang tua sedang mengajarkan satu hadis kepada anak-anak.
Dari pemaparan diatas, fenomena yang sering dialami oleh anak-anak sehingga berdampak pada pendidikan di keluarga maupun di masyarakat. Berikut ada beberapa manfaat mengasah otak anak dengan kata-kata hadis.
Pertama, Menasah Daya Ingat. Ketika kata-kata diluncurkan, anak akan menangkap dan meramu file-file yang ada di kepalanya. Maka proses daya ingat anak begitu cepat dan cerdas. Daya ingat anak bisa dilatih dengan permainan seperti, puzzle, bermain logika, dan lainnya. Ada juga dengan perkembangan teknologi pesat ini, orang tua mengorbankan uangnya untuk membeli hanphone android dan menggunkan aplikasi permainan dan hafalan-hafan surat pendek, doa-doa pendek, dan hadis pendek. Hal ini anak-anak bisa dikodisikan belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
Kedua, Belajar Klasifikasi. Anak belajar mengklasifikasikan, mana yang termasuk benda padat dan cair, kategori perbuatan baik dan tidak baik. Misalnya, Salwa melihat temannya meminum air sambil berdiri. Pikiran salwa itu adalah perbuatan tidak baik. Di sinilah, belajar mengklasifikasi pada anak tentu di ajarkan melalui kegiatan-kegiatan yang edukatif.
Ketiga, menembangkan kemampuan analisis. Belajar menganalisis pada anak menggunakan simbol atau petunjuk yang ada. Anak mencoba menggabungkan informasi dan menemukan jawabannya. Misalnya, orang tua menceritakan perjalanan Rasulullah Saw. Saat hijrah dan dakwah. Selepas cerita, anak-anak mendapat pertanyaan sederhana. Lalu anak merefleksikan cerita Rasulullah hijrah dengan pengalaman anak-anak. Di sinilah, anak-anak sedang mengembangkan kemampuan menganalisis dari cerita tersebut.
Keempat, mengapresiasi. Setelah anak dapat menghafal satu hadis dan tahu informasi dari cerita-cerita. Kebutuhan anak untuk terus semangat yaitu dengan mengapresiasi. Apresiasi kepada anak bisa pujian, ajakan anak untuk jalan-jalan, atau makan bersama, atau kegiatan positif yang membangun anak lebih semangat menghafal hadis.
Dengan demikian, keempat poin yang diterapkan untuk mengasah otak anak lewat kata-kata hadis perlu dicoba dan ditanamkan anak-anak. kebutuhan daya pikir anak begitu luas untuk menyimpan berbagai kata-kata untuk wawasan anak. Maka persoalan anak-anak yang sulit mencerna kata-kata, menghafal, dan berkomunikasi. Ini disebabkan otak atau pikiran anak sejak dini tidak dilatih dan belum dibiasakan. Hal ini anak-anak akan mempengaruhi tumbuh-kembang kreativitas anak dalam bergerak dan berpikir. Maka tugas orang tua dan guru adalah memberikan pengalaman menakjubkan yang belum pernah dialami anak. pengalaman yang membuat anak belajar, membuat anak hafal, membuat anak kreatif. Sehingga anak mendapat ilmu dan pengalaman dari keluarga dan lingkungannya. Ya, seperti persoalan Salwa yang marah dan Ibu yang meredamkan persoalan tersebut dengan kata-kata hadisnya.
3,512 total views, 12 views today

Sebagai sebuah ijthad dalam rangka mengembangkan kajian Studi Hadis di Indonesia dibentuklah sebuah perkumpulan yang dinamakan dengan Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Sebagai sebuah perkumpulan ASILHA menghimpun beragam pemerhati hadis di Indonesia. Himpunan ini terdiri atas akademisi dan praktisi hadis di Indonesia dengan memiliki tujuan yang sama.

