Perayaan Maulid Nabi di Masa Pandemi dan Prioritas Keselamatan Bersama

Muhammad Rifki Nurfauzi

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

18105030105@student.uin-suka.ac.id

 

Ungkapan cinta dan rindu terpancar di tanggal 12 Rabiul Awal. Umat islam datang berbondong-bondong menuju surau untuk berzikir, bersalawat, dan mendengarkan tausiah dari seorang Kyai. Tak lupa, mereka juga menanti datangnya kardus nasi dan segelas teh hangat. Semua ini mereka lakukan untuk memperingati kelahiran beliau, baginda Nabi Muhammad saw. Perbedaan masing-masing daerah di Indonesia tidak hanya terlihat pada cara berpakaian, bahasa, dan tarian, akan tetapi, perbedaan juga hadir dalam cara mereka merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Banyuwangi memiliki Festival Endog-Endogan, Yogyakarta dengan Sekaten-nya, upacara Panjang Jimat di Cirebon, dan lain sebagainya.

Sejak dinyatakannya Covid-19 sebagai pandemi, penulis rasa dampaknya akan menyentuh perayaan Maulid Nabi tahun ini. Peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah jelas melarang warga masyarakat untuk mengadakan acara yang mendatangkan banyak masa. Pada prakteknya, penulis rasa di beberapa daerah mungkin tetap akan merayakannya seperti tahun-tahun yang lalu. Pepatah mengatakan bahwa, “peraturan diciptakan untuk dilanggar”, ungkapan ini penulis rasa menjadi motivasi mereka untuk melanggar peraturan yang ada. lantas bagaimana sebaiknya sebagai muslim dalam menanggapi hal ini?

Dalam kitab Idhah Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah karangan Syeikh Abdullah Al-Lahjiy, dalam salah satu kaidahnya dinyatakan bahwa, “tasharruf al-imam ‘ala ro’iyyati manutun bi al-mashlahah”, yang berarti bahwa, ”kebijakan pemimpin atas rakyatnya disandarkan pada kemaslahatan”. Atas dasar kaidah ini, kebijakan pemerintah berupa PSBB dan pelarangan kegiatan yang mendatangkan banyak masa, dirasa sudah sangat pas. Tinggal bagaimana rakyatnya, mau patuh atau tidak.

Perayaan yang identik dengan perkumpulan warga ini memang sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Akan tetapi, apakah harus selalu mengadakan perkumpulan? Apakah tidak bisa di rumah saja bersama keluarga? Apakah tidak bisa menjadi amalan pribadi? Amalan sunah yang identik dengan Maulid Nabi adalah salawat. Pada dasarnya, tidak ada yang mewajibkan pembacaan salawat diiringi dengan alat musik. Tidak ada yang mewajibkan pembacaannya harus bersama orang lain. Rasanya, salawat yang diiringi dengan alat musik malah menjadi sesuatu yang memalingkan seseorang dari esensi bersalawat. Mereka fokus terhadap “duk-tek” pemain rebana, irama, dan intonasinya, bukan kepada makna yang terkandung dalam bait-bait salawat.

Selain pembacaan salawat, perayaan ini juga biasa diisi dengan zikir dan tausiah dari seorang Kyai. Zikir yang dilaksanakan sendiri dengan zikir berjamaah pasti memiliki keutamaannya masing-masing. Akan tetapi, dalam keadaan yang seperti sekarang ini, penulis lebih memilih zikir secara pribadi. Bukan hanya soal menjauhkan diri dari riya, akan tetapi, pahala atas patuh terhadap pemerintah juga bisa didapatkan. Tausiah tatap muka dengan Kyai bisa diganti dengan mendengarkannya melalui media sosial. Keberkahan tetap bisa didapatkan dengan syarat tetap menjaga etika dan adab sebagai pencari ilmu. Mendengarkan tausiah online tidak boleh dengan rebahan, harus berpakaian rapi dan sopan.

Ulama telah merumuskan sebuah kaidah, “laa dharar wa laa dhiraar”, yang berarti bahwa ibadah tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Apapun yang melanggar kaidah ini, maka harus dikaji ulang terlebih dahulu. Musibah Covid-19 ini meniscayakan kebersamaan dan solidaritas. Pemerintah menjalankan tugasnya sebagai pengambil keputusan, warga masyarakat patuh akan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Jika korelasi ini bisa mewujud, maka tidak hanya pahala atas perayaan Maulid Nabi yang akan didapat, akan tetapi sekaligus pahala taat kepada pemerintah dan menjauhkan madharat dari orang lain.

Penulis rasa, ini adalah sikap yang harus ditampakkan oleh muslim atas perayaan Maulid Nabi di masa pandemi. Solidaritas, kebersamaan, saling paham, dan pemahaman akan agama sangat dibutuhkan di keadaan yang seperti sekarang. Bertanya pada ahlinya menjadi solusi bagi mereka yang belum mampu soal pemahaman. Dengan ini, muslim tidak akan terombang-ambing dengan berita yang simpang siur. Keseharian dengan sifat gotong royong akan nampak  dan semakin mewujud di tengah masyarakat kita.

 2,168 total views,  8 views today

Posted in Opini.