Mengenal Software Maktabah Alfiyyah li al-Sunnah al-Nabawiyah

Aida Mushbirotuz Zahro
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
19105030040@student.uin-suka.ac.id

Sudah diketahui oleh seluruh umat muslim bahwa hadis adalah salah satu sumber ajaran dalam agama islam. Tepatnya sumber ajaran kedua sesudah kitab suci al quran. Salah satu fungsi dari hadis adalah sebagai penjelas dari ayat-ayat al quran. Dimana kita semua tahu bahwasanya ayat-ayat al quran ada yang bersifat mujmal (global) dan ada yang bersifat ‘amm (umum). Sehingga untuk mengetahui maksud dari ayat al quran, umat muslim membutuhkan penjelasan lebih rinci, yakni hadis yang merupakan penjelasan dari nabi. Banyak orang mendefinisikan hadis merupakan perkataan nabi. Segala sesuatu yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. adalah hadis. Pengertian seperti ini memang tidak salah. Hanya saja hadis tidak hanya sebatas perkataan nabi saja, melainkan juga perbuatan, sifat, hal ihwal dan taqrir (ketetapan) nabi.

Sebagai sumber ajaran kedua dalam islam, pastinya umat muslim berusaha mengkaji hadis dengan berbagai upaya. Hal tersebut tidak lain bertujuan untuk mendapatkan ketepatan dan keabsahan yang sesuai mengenai makna hadis tersebut. Beberapa pendapat mengatakan, proses pengkajian hadis di Indonesia sedikit terlambat. Perkembangan ilmu hadis tertinggal oleh perkembangan bidang ilmu-ilmu lain seperti ilmu tafsir, tasawuf, dan fikih.

Menelisik kembali sejarah pengkodifikasian hadis, dalam masanya hadis memang mengalami keterlambatan dalam proses pembukuan. Tidak hanya di Indonesia yang mengalami keterlambatan, namun juga di masyarakat Arab dahulu kala. Beberapa pakar sejarah menyatakan hadis dibukukan setelah satu abad kemudian. Pada masa itu, mayoritas masyarakat Arab menggunakan tradisi sanad dalam menyebarkan ajaran islam. Tradisi ini merupakan tradisi masyarakat Arab dimana masyarakat menyampaikan literasi ajaran melalui lisan ke lisan. Salah satunya dalam penyampaian ajaran islam kedua ini.

Seiring berkembangnya waktu, tradisi sanad terus berkembang. Hingga sudah dirasa bahwa tradisi sanad perlu dilanjutkan dengan diadakanya pengkodifikasian literasi hadis. Hal ini bermula pada saat masa tabi’in dimana banyak bermunculan hadis palsu untuk penunjang kepentingan politik semata. Bahwasanya pada masa itu khalifah Usman bin ‘Affan terbunuh dan berimplikasi adanya perpecahan kaum muslimin. Perpecahan itu terjadi dengan adanya golongan-golongan pada umat muslim, seperti syiah, khawarij, murjiah dan sebagainya. Dalam keadaan seperti itu, mereka berusaha mencari literasi ajaran-ajaran islam yang disandarkan kepada nabi untuk kepentingan golongan masing-masing. Keadaan seperti ini yang menjadi alasan perlunya pengkodifikasian hadis. Sebab jika tidak segera dilakukan seleksi dan pengkodifikasian dikhawatirkan akan semakin marak bermunculan hadis-hadis palsu.

Sampai saat ini, perkembangan hadis terus mengalami kemajuan. Ulama-ulama hadis zaman dahulu menghimpun hadis menggunakan metode dan sitematika yang cukup beragam. Hingga kini kita semua sebagai umat muslim dapat mempelajari dan memilah keilmuan hadis dengan mudah. Berbagai sumber berupa kitab ataupun buku-buku hadis sudah banyak tersedia. Bahkan pengklasifikasian sudah lebih spesifik dari segala aspek, seperti Sahih Muslim, Sahih Bukhori, dan lain sebagainya.

Melihat zaman yang sudah semakin maju dengan segala teknologi, para akademisi, khususnya akademisi di bidang keilmuan hadis mengemas pembelajaran di bidang ilmu hadis dengan kemasan yang baru. Mereka melihat bahwa keilmuan hadis dapat dimasukkan dalam sistem digital. Kemudahan mengakses melalui internet dengan waktu yang relatif cepat nampaknya cukup menjadi ketertarikan bagi pengguna internet di segala lapisan. Oleh karenanya, pembelajaran hadis dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun dengan memanfaatkan fasilitas internet ini.

Dalam penerapanya, kini sudah banyak produk hadis yang muncul dalam bentuk digital. Baik itu berupa buku berbetuk pdf atau yang biasa disebut ebook ataupun berupa software yang diciptakan oleh akademisi-akademisi hadis. Salah satunya adalah software maktabah alfiyah li al-sunnah al-nabawiyyah.

Software maktabah alfiyah li al-sunnah al-nabawiyyah atau yang biasa disebut dengan maktabah alfiyah merupakan salah satu software yang sering digunakan oleh para akademisi hadis. Mulanya software ini merupakan bagian kecil yang disebut al-Azja’ yang selanjutnya berkembang menjadi maktabah alfiyah. Sebagaimana namanya, sofware ini memuat ribuan hadis dan kitab lainya. Software ini menghimpun 1300 lebih jilid kitab-kitab hadis serta kitab-kitab penunjang lainya yang diklasifikasi pada al Sunan, al Shihah, al Mushannafat wa al-Athar, al Shurukh, al Masanid, Musthalahah al Hadits, Tarajim al-Ruwat, al Sirah wa al-tarikh, dan al harib wa al-Ma’ajim. Dalam pengoperasianya, pengguna harus menguasai bahasa Arab, karena software ini menggunakan bahasa Arab.

Efisiensi pencarian hadis dapat ditunjukan dalam proses pengoperasian dalam software maktabah alfiyah ini. Proses nya cukup mudah. Hanya dengan membuka program maktabah alfiyah kemudian mengklik kanan, lalu pilih run as administrator. Maka akan muncul jendela pertama dalam software maktabah alfiyah. Setelah itu tinggal pilih menu yang akan kita gunakan sebagai bahan pencarian hadis.

Seperti halnya software lain, pastinya sofware maktabah alfiyah ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Beberapa kelebihan diantaranya yaitu software ini memuat lebih dari 200 judul kitab tentang hadis dan penunjangnya. Bagi pengguna, mereka dapat mengetahui kejelasan referensi untuk membuat catatan kaki. Pengguna juga dapat mengubah warna tulisan bahkan backgroundnya. Selain itu pengguna juga dapat mengcopy teks yang ada dalam software tersebut. Tidak hanya itu, pengguna dapat dengan mudah mencari tema-tema tertentu dalam kitab, tentang perawi-perawi hadis, dan tingkat validasi hadis dapat dipertanggungjawabkan.

Seiring dengan kelebihan, software ini tentu juga mempunyai kekurangan. Kekurangan-kekurangan tersebut berupa proses penginstalan yang membutuhkan ketelitian ekstra, isi kitabnya yang kurang lengkap dibangdingkan dengan software yang lain, tidak dapat melakukan penambahan tentang kitab, dan yang paling utama, software ini belum tersedia terjemahan. Sehingga, mau tidak mau pengguna harus memahami bahasa yang digunakan oleh software ini, yakni bahasa Arab.

Namun, terlepas dari kekurangan yang dimilikinya, software maktabah alfiyah ini dapat digunakan sebagai referensi akademik. Hal ini dapat dilihat dari data yang ditunjukkan adalah data yang real dalam hasil pencarian yang dicari baik teks maupun rujukanya. Informasi yang ditampilkan memuat penulis, judul kitab, tahun terbit, penerbit, kota terbit, serta tak lupa halaman dan pentahqiq-anya. Maka dari itu, hasil rujukan yang didapatkan dalam maktabah alfiyah ini dapat digunakan oleh akademisi sebagai rujukan sitasi akademik.

 2,983 total views,  6 views today

Posted in Kajian.