Tradisi Grebekan di Yogyakarta untuk memperingati Mailid Nabi Muhammad saw

Elfrida Rahma Valentina Dewi

UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

20204031020@student.uin-suka.ac.id

 

Maulid nabi Muhammad tahun ini jatuh pada kamis, 29 Oktober 2020. Umat muslim dianjurkan memperbanyak membaca sholawat saat Rabiul awal ini, Kelahiran nabi Muhammad saw merupakan karunia terbesar yang wajib kita syukuri oleh karena itu banyak daerah ataupn kota-kota memiliki tradisi untuk menyambutnya

 

Di Yogyakarta tradisi memperingati maulid nabi disebut “Grebek Maulud” sebanyak tujuh gunungan besar (makanan yang disusun secara mengerucut) yang  akan diarak dan dibagi menjadi tiga tempat terakhir yaitu di Masjid Gede Kauman,  Puro Pakualaman, Kantor Kepatihan ( kator gubernur)

 

Gunungan tersebut terdiri dari:  3 macam gunungan kakung (laki-laki) satu gunungan putri (perempuan) satu gunungan gepak (pekat) satu gunungan pawuhan (pembuangan sampah) satu gunungan dharat (tanah) yang  akan diarak dari keraton Yogyakarta hingga menuju Masjid Gede Kauman.

 

Gunungan tersebut akan diarak oleh bergodo-bergodo (regu prajurit kraton) yang tersusun dari regu pertama barisan prajurit lombok abang, regu ke dua pasukan abdi dalem mengunakan kuda-kuda keraton, regu ke tiga gunungan besar yang dibawa oleh beberapa bergodo dengan pakai an lengkap dan membawa beberapa alat musik.

 

Semua gunungan tersebut diarak (diusung) terlebih dahulu lalu akan ada ritual doa,sebagai tanda syukur kepada Allah swt, atas nikamat, berkah dan limpah selama ini terhadap warga Yogyakarta.

“Ketika itu hujan turun di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu Nabi bersabda, ‘Atas hujan ini, ada manusia yang bersyukur dan ada yang kufur nikmat. Orang yang bersyukur berkata, ‘Inilah rahmat Allah.’ Orang yang kufur nikmat berkata, ‘Oh pantas saja tadi ada tanda begini dan begitu’” [HR. Muslim no.73].

 

Selanjutnya acara puncak atau acara yang ditunggu-tunggu ialah perebutan gunungan tersebuat, walau berdesak – desakan dan riskan terinjak – injak orang – orang akan tetap memperebutkan gunungan tersebut, karena banyak warga percaya jika bisa mengambil salah satu yang ada dalam gunungan tersebut akan mendapatkan berkah yang melimpah. Wallahualam, namanya juga tradisi kita saling menghormati.

“Barang siapa yang mengerjakan dalam Islam tradisi yang baik, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengkutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya sedikitpun.” (HR.Muslim)

 

Selain acara puncak grebekan maulid sebelumnya di Yogyakarta juga mengadakan acara Festival Sekaten atau pasar malam yang dibuka selama kurang lebih 40 hari sebelum acara grebekan berlangsung, jadi memang acara tersebut satu rangkaian.

 

Festival Sekaten juga dimeriahkan oleh adanya Pasar Malam yang dibuka untuk umum, banyak sekali masyarakat Yogyakarta yang menunggu akan hadirnya sekaten yang diadakan satu tahun sekali, berbagai wahana seperti ombak banyu, biang lala, komedi putar, tong setan, rumah hantu, kora-kora, bom bom car, dan lain-lain. Semua ada disana, tak cukup satu ada dua wahana saja setiap permainan, akan tetapi banyak sekali, satu lapangan alun-alun penuh dengan wahana permainan tersebut. Ada juga hari-hari tertentu pertunjukan

 

Banyak warga masyarakat sekitar situ bahkan luar kota menjajakan panganan nya disitu ada  yang mebuka stan pakaian, sorum mobil motor ataupun berjulan makanan di festival sekaten tersebut, mulai dari martabak, gulali, arumanis, donat, wedang ronde, gudek, kucingan, baju awul-awul punpun juga ada dalam acara festival tersebut.

 

Namun apalah daya, tahun ini sekaten ditiadakan kareana ada nya pademi Covid-19. Semoga pademi ini segera berakir dan kita semua dapat kembali ke kehidupan yang seperti dahulu, Aamiin.

 2,715 total views,  6 views today

Posted in Opini.