Silang Pendapat Tradisi Peringatan Maulid Rasulullah saw. dan Tradisi Ulama Hadis Dalam Memuliakannya

Riska Rizqiani 19105030050@student.uin-suka.ac.id

Rabiul Awal adalah bulan mulia dimana nabi Muhammad saw. dilahirkan ke dunia oleh seorang ibu bernama Aminah. Dalam bahasa Arab, istilah yang lazim digunakan adalah maulid atau milad.  Keduanya tersebut arti yang sama saja, yaitu hari kelahiran atau ulang tahun kelahiran. Peringatan tersebut sesuai dengan sejarah kelahiran nabi Muhammad saw  dan dilaksanakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Kegiatan tahunan tersebut dilaksanakan   dengan beragam bentuk baik pengajian maupun lainnya berupa pembacaan syair pujian serta solawat kepada Nabi saw. Bahkan juga ditemukan dalam bentuk pawai karnaval serta upacara-upacara adat khas daerah dengan beragam ekspresi kegembiraan di dalamnya.

Gegap gempita perayaan maulid Rasulullah saw. dilaksanakan oleh ummat Islam seluruh dunia . Hal tersebut merupakan bukti kecintaan dan ekspresi kegembiraan serta penghormatan umat Islam di seluruh dunia kepada nabi Muhammad saw. sang pembawa perubahan.  Hampir seluruh umat Islam diberbagai Negara memperingati maulid Nabi saw., terutama adalah negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sebagian Negara-negara Islam yang sering memperingati maulid Rasulullah saw. tersebut adalah Iran, Indonesia, Malaysia, Australia, Thailand, Afrika dan lain lain.

Sejatinya, tradisi maulid merupakan tradisi yang tumbuh dan kemudian berkembang di masyarakat Islam jauh setelah wafatnya nabi Muhammad saw. Di awal generasi Islam, baik di masa Rasulullah saw. dan sahabat maupun para tabi’in tradisi ini tidak ditemukan. Hal inilah yang kemudian menimbulkan beragam pendapat dalam memperingati maulud Nabi saw. Namun, tradisi memuliakan Nabi saw. dalam tradisi ulama hadis sudah dapat ditemukan. Karya ulama hadis menjadi bagian memulyakan walaupun di awal sebagai bagian upaya menjaga hadis hilang dari muka bumi seiring wafatnya ulama hadis dan para pendekar di dalamnya.

Kegiatan peringatan kelahiran Nabi saw. pertama kali ditemukan pada abad ke 11 M, tepatnya pada masa Shalahuddin al-Ayyubi (1193 M). Ia memiliki gagasan untuk memerintahkan umatnya untuk melaksanaan perayaan maulid Nabi saw. dalam rangka membangkitkan kembali semangat jihad pasukan Muslim. Semangat tersebut sangat dibutuhkan di mana kala itu, ummat Islam sedang berperang melawan pasukan tentara Salib.

Gagasan Gubernur Shalahuddin al-Ayyubi  dari Dinasti Ayyub di atas disetujui oleh pimpinannya. Khalifah  al-Nashir di Baghdad. Sang khalifah mengamini pendapat gubernurnya tersebut. Atas dasar keputusan tersebut, sejak musim haji  Dzulhijjah 579 H., Shalahuddin mulai memberikan instruksi kepada seluruh jamaah haji agar melakukan peringatan kelahiran Nabi saw. di seluruh lapisan masyrakat luas. Hal tersebut dapat di lakukan di kampung halamannya masing-masing. Tujuannya adalah memperingati hari lahir Rasulullah saw. dan mengisinya dengan berbagai macam kegiatan keagamaan yang membangkitkan semangat umat Islam dimana pun berada serta menumbuhkan kecintaan yang dalam kepada junjungan ummat Islam, yakni Rasulullah saw.

Pendapat lain ditemukan berbeda dengan catatan di atas. Hal tersebut dikarenakan catatan historis tidak ditemukan, sehingga kebenaran sejarah ini agak diragukan. Bagi pendapat ini pelopor sesungguhnya adalah Dinasti Fatimiyah di Mesir. Hal tersebut berdasarkan catatan yang ditulis oleh Al Maqrizi. Beliau adalah tokoh sejarah Islam. Tradisi peringatan maulid Nabi saw. telah  menjadi kebiasaan dalam  Dinasti Fatimiyah yang memperingati banyak perayaan. Kebiasaan perayaan tersebut antara lain seperti perayaan tahun baru, hari Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, perayaan bulan-bulan suci umat Islam, dan lain lain.

Meski demikian, pendapat di atas juga dibantah oleh tokoh lain. Hal ini dikarenakan Ibn Jubair, seorang petualang Muslim yang sekaligus penulis yang menuliskan petualangannya sendiri, tidak menemukan adanya kebiasaan peringatan dan perayaan maulid di Mesir ketika ia melewatinya pada tahun 1183 M. atau 560 H. untuk melakukan perjalanan menuju Mekah dalam rangka menunaikan haji. Padahal, Al-Mu’izh Lidnillah dari Dinasti Fatimiyah merupakan orang pertama yang memerintahkan untuk mengadakan perayaan maulid pada tahun 362 Hijriyah.

Beragam pendapat di atas menunjukkan bahwa inisiator peringatan maulud Nabi saw. sangat banyak. Peringatan tersebut dilakukan di awal dan belum populer walaupun telah menjadi instruksi negara. Apalagi wajah Islam juga beragam dalam peribadatan di mana model peringatan masih diperselsihkan pendapatnya.

 

Upaya penggalian sosok Muhammad saw. sebagai  Nabi dilakukan dengan baik oleh ahli hadis. Bentuk memuliakan Nabi saw. salah satunya adalah dengan mengungkap kepribadian dan penciptaan Nabi Muhammad saw. Karya tersebut dapat dilihat dalam al-Syamail al-Muhammadiyah. Di mana ragam ulama hadis atas kepribadian Muhammad ditemukan dalam beragam bentuk dan karya ilmiah berupa buku. Salah satu karya tersebut adalah karya Imam al-Turmuzi di mana beliau mampu mengubgkapkan dengan baik pribadi dan akhlaknya. Karya  ini sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada Baginda Rasuluah saw.

 1,369 total views,  2 views today

Posted in Kajian.