Mengkaji Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw.

M.Ilham Mursyid

UIN Sunan Kalijaga

19105030075@student.uin-suka.ac.id

Perayaan  Maulid  Nabi  merupakan  tradisi  yang  berkembang  di  masyarakat  Islam  beberapa  waktu  setelah  Nabi  Muhammad  wafat.  Peringatan  tersebut  bagi  umat  muslim  adalah  penghormatan  dan  pengingatan  kebesaran  dan  keteladanan  Nabi  Muhammad  dengan  berbagai bentuk kegiatan budaya, ritual dan keagaamaan. Meski  sampai  saat  ini  masih  ada  kontroversi  tentang  peringatan  tersebut  di  antara  beberapa  ulama  yang  memandang  sebagai  Bidah  atau bukan Bidah. Tetapi saat ini maulid nabi diperingati secara luas di seluruh  dunia  termasuk  tradisi  budaya  Indonesia.  Semangatnya  justru  pada momentum untuk menyatukan semangat dan gairah keislaman

 

Menurut sejarah ada beberapa pendapat yang menjelaskan awal munculnya tradisi Maulid. Pertama, tradisi Maulid pertama kali diadakan oleh khalifah Mu’iz li Dinillah hanya sebagai perayaan seperti biasa. Beliau adalah salah seorang khalifah dinasti Fathimiyyah di Mesir yang hidup pada tahun 341Hijriyah.

 

Kedua, Maulid Nabi berasal dari kalangan ahlus sunnah oleh Gubernur Irbil di wilayah Irak, Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri. Dikisahkan, saat perayaan Maulid Nabi, Muzhaffar mengundang para ulama, ahli tasawuf, ahli ilmu, dan seluruh rakyatnya. Ia juga memberikan hidangan, hadiah, hingga sedekah kepada fakir-miskin. Pada saat itu beliau sedang  berpikir  tentang  cara  bagaimana  negerinya  bisa  selamat  dari  kekejaman Temujin yang dikenal dengan nama Jengiz Khan (1167-1227 M.) dari Mongol. Untuk  menghadapi  ancaman  Jengiz  Khan itu Mudhaffar mengadakan acara Maulid. Tidak tanggung-tanggung, dia mengadakan acara Maulid selama 7 hari 7 malam. Kemudian,  dalam  acara  itu  Mudhaffar  mengundang  para  orator  untuk  menghidupkan  nadi  heroisme  Muslimin.  Hasilnya,  semangat  heroisme  Muslimin saat itu dapat dikobarkan dan siap menjadi benteng kokoh Islam.

 

Ketiga, perayaan Maulid Nabi pertama kali oleh Sultan Shalahuddin Al Ayyubi atau Muhammad Al Fatih. Tujuannya untuk meningkatkan semangat jihad kaum Muslimin, dalam rangka menghadapi Perang salib melawan kaum Salibis dari Eropa dan merebut Yarusalem.  Sementara itu, di Indonesia sendiri sejarah Maulid Nabi Muhammad berkembang di tangan Wali Songo atau sekitar tahun 1404 masehi. Perayaan tersebut dilakukan demi menarik hati masyarakat memeluk agama Islam.

Setelah kita mengetahui awal mula pencetus perayaan mauled nabi, kita juga harus memahami isi dari perayaan tersebut. Seperti dijelaskan diatas pada saat  Sultan Abu Said Muzhaffar dan Sultan Shalahuddin Al Ayyubi merayakan mauled nabi mereka berdua bertujuan untuk mengobarkan semangat umat islam dalam membela negaranya. Mereka mengisi acara perayaan tersebut dengan cara membaca risalah nabi Muhammad saw.

Bahkan Sultan Shalahuddin Al Ayyubi  menyelenggarakan  sayembara  penulisan  riwayat  Nabi  beserta  puji-pujian  bagi  Nabi  dengan  bahasa  yang  seindah  mungkin.  Seluruh  ulama  dan  sastrawan  diundang  untuk  mengikuti  kompetisi  tersebut.  Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan maulid nabi

 

Berbeda lagi yang terjadi di Indonesia . Wali Songo di pulau Jawa menjadikan perayaan maulid nabi sebagai ajang menyiarkan agama islam. Perayaan maulid nabi tersebut yang kita kenal dengan sekaten. Sekaten itu berasal dari bahasa arab yaitu syahadatain, yang berarti dua kalimat syahadat. Teknis acara yang diadakan Sunan Kalijaga pada saat itu adalah beliau membuat sebuah pertunjukan wayang. Lalu tiket masuk untuk melihat acara tersebut adalah dengan mengucap dua kalimat syahdat. Pertunjukan wayang tersebut juga berisi tentang ajaran agama islam. Jadi secara tidak langsung masyarakat jawa diperkenalkan dengan ajaran agama islam.

 

Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa perayaan maulid nabi itu bertujuan untuk mengingat sejarah nabi, menyiarkan agama islam yang tentunya untuk meningkatkan keimanan dan kecintaan kita pada nabi. Mengenai dalilnya, kita lihat dalam QS. Al-ahzab :56 yang artinya “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

 

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Allah dan para malaikatNya bersholawat kepada Nabi. Bisa kita bayangkan Allah dan para malaikatNya saja bersholawat kepada Nabi bagaimana dengan kita yang selaku umat nya? Apakah mungkin kita selaku ummatnya tidak bersholawat kepadanya? Lantas dengan cara bagaimana lagi kita mengungkapkan rasa cinta kepada nabi? Jika kita tidak mau bersholawat kepada nabi Muhammad saw. masih pantaskah kita mengaku sebagai umatnya? Sholluu‘alannabi Muhammad.

 3,299 total views,  4 views today

Posted in Opini.