Budaya Weh-Wehan sebagai Pembangun Ukhuwah di Peringatan Maulid Nabi yang Penuh Berkah

Aida Mushbirotuz Zahro

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

19105030040@student.uin-suka.ac.id

 

Sudah tidak asing lagi bagi umat muslim mengenai peristiwa maulid nabi. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa peringatan kelahiran Sang Rasul mulia Nabi Muhammad saw. Beliau merupakan rasul rahmatan lil alamin. Seperti dalam firman Allah Swt. dijelaskan bahwa “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam,” (QS. Al Anbiya’:107). Melalui ayat ini Allah Swt. memberitahukan kepada hamba-Nya bahwa Dia menjadikan Muhammad saw. sebagai rahmat bagi semesta alam.

 

Tentunya sebagai umat muslim, mereka menyambut peringatan kelahiran Sang Rasul rahmatan lil alamin dengan penuh suka cita. Setiap tanggal 12 Robiul awal mereka umat muslim, khusunya muslim Indonesia berlomba-lomba memeriahkan peringatan tersebut dengan berbagai kegiatan. Kelahiran Sang Rasul mulia ini dianggap sebagai peristiwa luar biasa bagi mereka. Bahkan peristiwa ini mampu melahirkan berbagai budaya baru,  salah satunya di daerah Kaliwungu Kendal yakni budaya weh-wehan.

 

Budaya weh-wehan merupakan budaya masyarakat Kaliwungu untuk menyambut peringatan Kelahiran Nabi Muhammad saw. Budaya tersebut turun temurun dari leluhur masyarakat setempat. Weh-wehan sendiri berasal dari bahasa Jawa, yakni kata aweh yang berati memberi. Dari kata aweh, masyarakat Kaliwungu menyebut weh-wehan sebagai istilah yang mempunyai makna saling memberi.

 

Pada umumnya budaya ini dilaksanakan pada tanggal 11 atau 12 Robiul awal. Namun, ada juga sebagian masyarakat yang melaksanakan kegiatan ini mulai hari Jumat pada minggu ke tiga bulan Safar hingga tanggal 12 Robiul awal. Khusus masyarakat ini, budaya weh-wehan dilakukan setiap hari Jumat saja. Mereka mempunyai anggapan bahwa hari Jumat adalah hari yang baik untuk saling berbagi dan memberi. Acaranya dimulai ba’da ashar atau sekitar jam 16.00 WIB. Masyarakat berkumpul di depan mushola kampung, kemudian saling berteriak “Ya Karim Ya Karim” tanda acara akan dimulai.

 

Selain masyarakat tersebut, terdapat pula sebagian masyarakat yang melaksanakan budaya weh-wehan ba’da maghrib di permulaan hari Jumat. Tepatnya di malam Jumat. Hal ini  di dapat dari keterangan salah satu warga wilayah sekopek “Kalau di sini memang weh-wehanya ba’da maghrib, agak berbeda dengan wilayah lainya yang biasanya dilakukan habis ashar” tukasnya. Masyarakat Kaliwungu memang masih menganggap bahwa perhitungan hari dimulai pada saat adzan maghrib berkumandang hingga habisnya waktu ashar. Walaupun berbeda waktunya, mereka tetap menganggap bahwa budaya mereka tetap sama dilakukan di hari Jumat.

 

Weh-wehan yang dilaksanakan setiap hari Jumat oleh sebagian masyarakat di Kaliwungu adalah weh-wehan untuk menyambut weh-wehan akbar atau yang biasa disebut ketuwin. Weh-wehan akbar ini dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Kaliwungu. Orang tua, muda-mudi, anak-anak, semuanya sangat antusias pada hari ini.  Mereka membagikan makanan yang mereka buat kepada tetangga dan sanak saudara yang berada di wilayah Kaliwungu.

 

Makanan yang dibagikan pada weh-wehan setiap hari Jumat dan weh-wehan akbar pun sedikit berbeda. Untuk weh-wehan setiap hari Jumat biasanya warga membagikan jajanan ringan, seperti kue, pisang goreng, mie goreng porsi kecil, kolak, dll. Sedangkan pada weh-wehan akbar masyarakat membuat makanan spesial yakni berupa makanan khas ataupun makanan lain yang dikreasikan sedemikian rupa sehingga mempunyai ciri khas yang membedakan makanan tersebut dengan makanan lainya.

 

Sekarang makanan yang dibagikan di weh-wehan sudah bermacam-macam. Ada nasi lengkap dengan lauknya, siomay, sate, dll. Namun, ada satu makanan khusus yang jarang ditemukan selain di budaya weh-wehan ini, yakni makanan sumpil. Sumpil merupakan makanan yang mirip ketupat namun teksturnya lebih lembut. Ukuranya kecil-kecil.  Bungkusnya yang menggunakan daun bambu membuat makanan ini berbeda dengan makanan lainya. Akan tetapi, sulitnya mencari daun bambu membuat makanan ini susah ditemukan. Perkebunan bambu yang dulunya sering dijumpai kini sudah berubah menjadi wilayah perumahan. Oleh karenanya, makanan tersebut sekarang sudah jarang ditemukan.

 

Walaupun begitu, masyarakat Kaliwungu tetap melaksanakan acara weh-wehan ini dengan penuh suka cita. Anak-anak menyiapkan baju terbaik mereka untuk dikenakan saat acara weh-wehan ini. Layaknya lebaran, dengan mengenakan baju terbaik dan menyiapkan makanan terbaik, masyarakat saling memberi dan mengunjungi satu sama lain. Hal ini merupakan implementasi dari nama budaya ini. Weh-wehan yang berarti saling memberi dan ketuwin yang berasal dari kata “tuwi” yang artinya mengunjungi.

 

Masyarakat membagikan maknanan sebagai tanda rasa syukur atas kelahiran Rasulullah saw. Mereka juga menjadikan budaya ini sebagai ajang silaturrahim. Budaya ini dapat membangun tingkat kepedulian masyarakat terhadap sesama. Masyarakat yang keseharianya bekerja untuk kebutuhan masing-masing, kini dihari istimewa dilatih untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk memberi tetangga dan sanak saudara. Oleh karenanya, weh-wehan ini bisa meningkatkan kerukunan dan sikap saling memberi. Sehingga weh-wehan juga mampu meningkatkan ukhuwah yang erat pada seluruh lapisan masyarakat yang ada.

 2,875 total views,  2 views today

Posted in Kajian.