Maulid Nabi saw. dan Makna Simbolik dalam Tradisi Ma Maulu’ Masyarakat Bugis

Muhammad Yahya 17105030048@student.uin-suka.ac.id

Peringatan maulid Nabi Muhammad saw. merupakan salah satu tradisi keislaman masyarakat Indonesia dalam memperingati hari lahir Nabi saw. yang sekaligus juga merupakan hari wafat beliau. Peringatan maulid Nabi saw. dilaksanakan dengan tujuan agar menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah saw. serta memperkuat ukhuwah di antara kaum muslimin. Tradisi maulid ini biasanya secara rutin dilaksanakan pada tanggal 12 Rabiul Awal atau sepanjang bulan maulid setiap tahunnya yang dilaksanakan di hampir semua daerah di Indonesia.

Bentuk tradisi peringatan maulid Nabi saw. di Indonesia sangat beragam. Setiap daerah memiliki tradisi unik masing-masing dalam pelaksanaannya. Masyarakat Aceh dengan tradisi Meuripee, kesultanan Yogyakarta dengan tradisi Grebeg Maulid, di Madiun ada tradisi Sebar Udikan, di Mojokerto ada tradisi Keresan, dan masih banyak yang lain. Begitupun masyarakat suku bugis juga memiliki tradisi peringatan maulid yang unik. Peringatan maulid di Bugis lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan istilah Ma Maulu’.

Acara ma maulu’ ini pada umumnya sama dengan peringatan maulid Nabi saw. yang lain. Biasanya acara ma maulu’ akan diisi dengan ceramah agama mengenai sirah hidup Nabi saw. serta uswah-uswah hasanah yang sekiranya dapat dipetik dan diambil hikmahnya. Yang menjadikan ma maulu’ ┬ábeda dari tradisi yang lain adalah adanya hiasan telur rebus warna warni yang ditusukkan atau digantungkan pada bilah bambu yang kemudian ditancapkan pada batang pohon pisang. Biasanya batang pohon pisang yang telah ditancapkan telur-telur akan diberi wadah di bawahnya berupa ember kecil yang berisikan songkolo (beras ketan yang telah dimasak). Pada akhir acara, telur dan songkolo tersebut akan diberikan kepada tamu-tamu yang diundang dan selebihnya akan dibagikan kepada jamaah yang hadir.

Adanya telur, batang pohon pisang, dan songkolo pada acara ma maulu’ tersebut merupakan hasil akulturasi budaya masyarakat bugis dengan ajaran Islam. Pernak-pernik tersebut dipercaya sebagai simbol yang mengandung falsafah hidup dan nilai-nilai keislaman.

Telur dimaknai sebagai simbol kehidupan. Bentuknya yang bulat melambangkan dunia tempat kita menjalani hidup. Selain itu telur juga dimaknai sebagai simbol kemandirian. Sebagaimana telur setelah menetas menjadi anak ayam, maka ia akan mencari makanannya sendiri. Rasulullah saw. dalam sejarah hidupnya pun adalah pribadi yang mandiri sejak kecil. Begitulah kira-kira kita sebagai umatnya mengambil contoh dari beliau.

Telur yang memiliki 3 unsur yaitu kulit telur, putih telur, dan kuning telur juga diartikan sebagai 3 prinsip utama dalam agama yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Ketiga prinsip tersebut tidak dapat dipisahkan dari diri seorang muslim. Kemudian telur yang ditancapkan pada bilah bambu bermakna bahwa Iman, Islam, dan Ihsan haruslah ditegakkan dan disatupadukan sebagaimana bambu yang tumbuh tegak dan kokoh.

Adapun batang pohon pisang dimaknai sebagai simbol kebermanfaatan. Pohon pisang adalah salah satu tanaman yang seluruh bagiannya dapat kita manfaatkan. Mulai dari akar, batang, daun, dan buahnya semuanya dapat kita pergunakan. Sebagaimana Rasulullah saw. yang selalu memberikan manfaat kepada seluruh manusia bahkan hingga saat ini manfaatnya masih bisa kita rasakan. Begitulah seharusnya kita mencontoh baginda Nabi saw. yaitu berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Nabi saw. bersabda “Sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak memberikan manfaat”.

Selain itu, pohon pisang jika kita cermati ia tidak akan mati sebelum memunculkan tunas-tunas yang baru. Dari hal ini kita belajar untuk mempersiapkan generasi yang akan nantinya akan bermanfaat bagi masyarakat, agama, dan negara.

Adapun songkolo merupakan simbol ukhuwah yang kuat dan kokoh. Sebagaimana sifat songkolo yang akan tetap merekat dan bersatu walaupun dihempaskan. Begitulah sekiranya yang kita upayakan dalam kehidupan bermasyarakat. Kita harus menjaga ukhuwah, persatuan, dan sifat gotong royong antar sesama.

Dari simbol telur, batang pohon pisang, dan songkolo tersebut merupakan pesan dan nilai-nilai kehidupan yang coba disampaikan oleh masyarakat suku Bugis kepada seluruh umat Islam agar senatiasa dilakukan, diterapkan, dan dijaga dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Dengan peringatan maulid Nabi Muhammad saw. kita berharap agar kedepannya kita semua semakin cinta kepada Nabi serta dapat mencontoh beliau dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh lagi, sebagaimana makna simbolik yang terkandung dalam tradisi ma maulu’ masyarakat Bugis, kita senantiasa berupaya menjadi pribadi yang mandiri, bermanfaat bagi orang lain, serta selalu menjaga ukhuwah Islamiyyah.

 8,434 total views,  4 views today

Posted in Kajian.