Asma Wati
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
19105031003@student.uin-suka.ac.id
Pendemi covid-19 ini telah membawa pengaruh besar bagi bergam kehidupan manusia. Hal tersebut setidaknya adanya larangan berkumpul dalam jumlah yang besar. Ibadah shalat berjamaah dengan beragam oraang sebagai makmum pun dibatasi baik shalat lima waktu maupun Shalat Jum’at. Salah satu peringatan agama Islam yang melibatkan banyak orang juga di batasi seperti dalam peringatan kelahiran baginda Muhamad saw. Setiap peringatan diikuti banyak orang bahkan jumlahnya mencapai ribuan.
Upaya pencegahan dengam mengurangi aktivitas di luar menjadi penting. Atas dasar itulah, sekolah dan kuliah dilaksanakan secara daring. Demikian juga dengan bekerja dilaksanakan di rumah tidak di kantor lagi. Sehingga, kejadian pendemi corona di tahun 2020 ini merupakan kejadian yang luar biasa karena menular dengan cepat. Virus yang bermula dari negara China tersebut telah menjalar ke berbagai negara sala satunya Indonesia. Kurang lebih delapan bulan seluruh kegiatan/aktivitas masyarakat di hentikan untuk mencegah penyebaran pendemi corona ini.
Pada tanggal 12 Rabiul Awal atau lebih tepatnya jatuh pada tanggal 29 oktober 2020 tahun ini, seluruh umat Islam di penjuru dunia seharusnya merayakan hari kelahiran sang kekasih Allah swt. Peringatan kepada sang pembawa cahaya dan rahmat bagi umat Islam dengan penuh gembira dengan melaksanakan tradisi-tradisi seperti pembacaan syair Barzanji, atau tradisi-tradisi daerah seperti sekaten di Yogyakarta tradisi pajang dan jimat Cirebon. Perayaan kalahiran tersebut dalam tradisi-tradisi itu terpaksa harus di laksanakan secara sederhana bahkan terancam ditiadakan.
Corona-19 adalah salah satu bentuk wabah yang pernah terjadi pada masa Islam awal. Virus seperti Corona-19 dalam hadis disebutkan dengan “Tha’un (wabah penyakit menular). Lebih lanjut Nabi saw. memberikan tips agar terhindar dari wabah seperti tersebut. Selain penyakit sebagai sebuah ujian, maka harus di hindari agar tidak terkenanya.
Rasulullah saw. menjelaskan bawha adalah suatu peringatan dari Allah Swt. untuk menguji hamba-hambanya dari kalangan manusia. Apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk kenegeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya. Hadia tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitabnya melalui Usama bin Zaid.
Rasulullah saw. juga menganjurkan untuk isolisasi bagi yang sedang sakit dengan yang sehat agar penyakit yang di alaminya tidak menular kepada yang lain. Hal ini sebagai mana hadis: ” janganlah yang sakit di campurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dri Abu Hurairah)
Hadis di atas dapat dipahami agar menjaga jarak. Peringatan kelahiran masih ada kemungkinan untuk bisa tetap terlaksana dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang sudah di tetapkan. Model ini mengantarkan masyarakat tidak perlu khawatir akan terjangkirnya virus mematikan ini. Walaupun demikian, lebih baik dalam peringatan dibatasi yang hadir secara luring dengan memanfaatkan sosial media agar tetap berjalan hidmat. Seperti pengajian virtual,seminar hadis yang membahas sejarah kemaulidan Nabi siapa yang pertama kali melakukan maulid nabi ataupun bisa juga solawat di rumah masing-masing bersama keluarga.
Cara ini dilakukan tentunya agar kita bisa tetap memperingati hari kelahiran baginda Muhamad saw tanpa ada rasa takut karna ancaman virus yang mematikan ini. Sebenarnya esensi memperingati hari kelahiran Nabi muhamad saw sendiri bukan semata mata karena gembira dan berkumpul bersama tetapi, sebagai pendorong untuk bertambahnya keimanan dan kecintaan kita kepada baginda Muhamad saw.
Kecintaan kepada baginda bisa kita lakukan dengan cara menjauhi apa yang di larang oleh islam. Dan jika kita ingin meningkatkan keimanan kita,bisa di lakukan dengan cara meneladani akhlak beliau yang sangat mulia. Kekasih Allah sekaligus Nabi akhir zaman ini memiliki akhlak yang sangat mulia. Sehingga patut untuk kita contoh dalam kehidupan kita saat ini.
2,075 total views, 2 views today

Sebagai sebuah ijthad dalam rangka mengembangkan kajian Studi Hadis di Indonesia dibentuklah sebuah perkumpulan yang dinamakan dengan Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Sebagai sebuah perkumpulan ASILHA menghimpun beragam pemerhati hadis di Indonesia. Himpunan ini terdiri atas akademisi dan praktisi hadis di Indonesia dengan memiliki tujuan yang sama.

