Nadia El-Huda Anza
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
20204031023@student.uin-suka.ac.id
Memperingati kelahiran Rasulullah Saw, tepatnya 12 Rabiul awal atau yang tahun ini jatuh pada 18 Oktober 2020. Momentum ini menjadi peringatan bagi kita dalam mengingat kembali sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw di zaman zahiliyah. Memperingati kelahiran Nabi Muhammad merupakan sebuah kegembiraan bagi umat Islam. Namun peristiwa ini bukanlah semata disemarakkan dalam kegembiraan saja, akan tetapi sebagai pendorong keimanan kita.
Meningkatkan keimanan dapat diaplikasikan dalam bentuk meneladani perilaku Rasulullah Saw. Dapat diartikan bahwa momentum maulid Rasul merupakan kesempatan kita dalam menambah kecintaan pada Rasulullah dan memperbaiki diri sebagai umat Nabi Muhammad Saw dengan menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan agama.
Pendidikan agama pada anak usia dini wajib mulai dikenalkan sejak dini. Salah satunya adalah mengenalkan tradisi agama yaitu memperingati hari kelahiran Rasulullah. Dalam hal ini menjadi sebuah pertanyaan bagaimana mengenalkan tentang Rasul pada anak usia dini, khususnya mengenai kelahiran Nabi Muhammad Saw. Tentunya persoalan ini dapat dikatakan mudah, dapat pula dikatakan sulit bagi sebagian orangtua dan pendidik. Beberapa fakta yang ada rata-rata orangtua dan pendidik mengenalkan momen kelahiran Rasulullah Saw dengan memeriahkan atau menyemarakkan.
Mengenalkan tradisi kelahiran Nabi Muhanmmad Saw pada anak usia dini seharusnya dilandasi unsur-unsur ketauladanan kepada Rasulullah Saw. Jangan sampai tidak menyelipkan hakikat sebenarnya dalam momen kelahiran Rasulullah Saw. Karena sebagian orang mungkin menganggap anak usia dini hanyalah anak kecil yang tidak mengerti tentang keagamaan, maka dari itu sebagian orang hanya mengenalkan arti sambutan kegembiraan saja mengenai momen maulid Rasululllah Saw. Menyadari pentingnya mengenalkan tradisi kelahiran Rasulullah dengan tidak melupakan unsur agama dengan menanamkan hikmah dibaliknya.
Mengingat kemampuan anak usia dini yang terbatas dan berbeda dari anak usia remaja, khususnya aspek kognisi yang berbeda pada usia dini. Tentunya hal ini diperlukan pengetahuan dalam mengenalkan konsep sederhana sesuai kemampuan anak.
Memberikan pengajaran pada anak usia dini harus memerhatikan beberapa cara, yang pertama adalah kesederhanaan bahasa dalam menyampaikan. Menyesuaikan dengan karakteristik anak yang memiliki daya pemahaman minim dari orang dewasa, maka memilih perkataan atau bahasa yang mudah dipahami anak adalah poin pertama. Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah memberikan pemahaman konsep maulid yang tidak sulit, atau sesuai dunia anak.
Misalnya, terlebih dahulu memperkenalkan anak pada sosok Nabi Muhammad Saw dengan gambaran sederhana. Melalui kisah tentang Nabi Muhammad dengan menceritakan sifat-sifatnya sehingga tumbuh cinta dan kekaguman anak pada Rasul. Mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari anak tentang hal baik dan buruk.
Misalnya mengajarkan mengenai kejujuran dalam perkataan maupun perbuatan. Setelah memasukkan rasa cinta tentang Rasulullah pada jiwa anak, maka secara otomatis orangtua atau pendidik dapat dengan mudah membimbing anak dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad dengan meneladani akhlak Nabi Muhammad sebagai hikmah dibalik maulid Nabi Muhammad Saw.
Menjajaki nilai-nilai sosok Rasulullah yang dikenalkan pada anak dengan tujuan menumbuhkan rasa cinta terlebih dahulu. Kemudian memberikan konsep sederhana dalam menyikapi hari kelahiran Rasulullah dengan menumbuhkan keteladanan anak pada Rasulullah Saw.
Dalam sebuah hadis yang dikutip oleh Imam Nawawi dalam bukunya Shahih Muslim Syarahat al-Kamilu lin-Nawawi, yang artinya: “Mulailah dari diri Sendiri” (H.R. Muslim). Hadis ini menerangkan bahwa sebuah perubahan diawali dari diri sendiri, berkaitan dengan memperingati maulid Nabi Muhammad Saw yang artinya memperingati kelahiran Rasulullah jangan sampai melupakan hikmah yang sesungguhnya yang akan dikenalkan pada anak, yakni menambah pengetahuannya tentang keagamaan sejak dini, menumbuhkan rasa cinta pada Rasulullah dan menanamkan ketauladanan Rasulullah di kehidupan sehari-hari.
12,877 total views, 2 views today

Sebagai sebuah ijthad dalam rangka mengembangkan kajian Studi Hadis di Indonesia dibentuklah sebuah perkumpulan yang dinamakan dengan Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Sebagai sebuah perkumpulan ASILHA menghimpun beragam pemerhati hadis di Indonesia. Himpunan ini terdiri atas akademisi dan praktisi hadis di Indonesia dengan memiliki tujuan yang sama.

