Konsep Reward dan Punishment dalam Pendidikan ala Rasulullah saw.

Cesilia Prawening
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

20204031014@student.uin-suka.ac.id

Anak sebagai salah satu karunia terbesar yang Allah titipkan kepada orang tua. Anak yang terlahir bisa menjadi fitrah bahkan menjadi ujian bagi orang tua bahkan keluarga, itu semua tergantung bagaimana orang tua menuntun dan mendidik titipan Allah. Dalam ajaran Islam dijelaskan bahwasanya orang tua diberi tanggung jawab untuk mendidiknya menjadi anak yang bertakwa kepada Allah, mengikuti ajaran rosul, serta berbakti kepada kedua orang tuanya. Memang sudah menjadi kodrat orang tua, kewajibannya, dan bentuk rasa ungkapan cinta kepada putra putrinya untuk senantiasa mendidik.

Rumah, orang tua, dan keluarga merupakan kesatuan dari komponen utama pendidikan awal bagi seorang anak sekaligus lembaga pendidikan utama. Anak yang terlahir dalam keadaan suci dan bersih perlu dibuatkan sketsa dan garis-garis bernuansa Islami dalam mengenalkan berbagai pengetahuan kepada anak. Rumah dan keluarga sampai kapan pun akan menjadi tempat anak belajar lebih lama dari pada sekolah. Anak menghabiskan 900 jam setahun disekolah dan 7.800 jam di luar sekolah. Sekolah hanya memberikan 8% sumbangsih pada pendidikan anak, sisanya anak dapatkan dilingkungan keluarga dan masyarakat. Tersimpan waktu kurang lebih 7.800 jam pertahun waktu di rumah bagi seorang anak untuk mendapatkan pendidikan umum dan keagamaan.

Cara dan model dalam orang tua mendidik anak,bermacam model pilihan, model, dan kesepakatan yang dibuat. Dan dari semua rencana dan keputusan yang orang tua pilih, dapat di buat garis besar kurikulum mendidik anak yakni pendidikan penganut model era dulu atau pendidikan penganut era modern. Perbedaannya yakni apabila era dulu anak dikendalikan penuh oleh orang tua sedangkan era sekarang orangtua bebas memberikan pilihan kepada anak, era dulu anak dipaksa untuk selalu mendengarkan orang tua era sekarang orang tua mendengarkan keinginan anak, era dulu orang tua menuntut anak berprestasi di bidang akademik sedangkan era sekarang orang tua membebaskan anak berprestasi dalam bidang apa pun, era dulu orang tua lebih menerapkan sistem punishment sedangkan era sekarang orang tua lebih menerapkan sistem reward, era dulu pendikan tinggi hanya untuk anak laki-laki sedangkan era sekarang siapapun mendapatkkan hak yang sama dalam pendidikan.

Rosulullah saw, merupakan suri tauladan bagi seluruh umat Islam. Karena itu, sudah sepatutnya orang tua meneladani cara rosulullah dalam mencontohkan memberikan praktik baik dalam mendidik keluarga dan para sahabat. Reward dan punishment termasuk kedalam cara rosulullah mendidik putra-putrinya di lingkungan keluarga.

Reward atau hadiah sebagai salah satu hal yang dapat membawa pengaruh terhadap semangat dan motivasi anak untuk mempelajari berbagai hal. Karena bersamaan dengan hadiah teriring kasih sayang, cinta, tanda penghormatan, dan kebanggan orang tua kepada anak. Dalam model pendidikan pemberian hadiah, hal ini sesuai dengan riwayat hadits yang artinya “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai” (HR Al Bukhari). Ketika timbul rasa saling mencintai antara anak dan orang tua, maka orang tua dalam memberikan pengajaran kapada anak akan lebih mudah. Rasul pun menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan hadiah meskipun itu sederhana dan sedikit. Anak akan sangat merasa bahagia dan puas dengan apa yang mereka dapatkan.

Bentuk-bentuk pengharagaan yang dicontohkan oleh rosulullah diantaranya reward dalam bentuk materi. saat anak telah malakukan perbuatan baik, orang tua dapat memberikan hadiah berupa materi dalam bentuk benda atau makanan yang dapat dieterima oleh anak. selanjutnya dapat berupa non materi. Saat anak telah berhasil menyelesaikan tugas atau menunjukan perilaku terpuji, orang tua dapat memberikan kata ekspresi verbal berupa kata pujian atau kata-kata sanjungan seperti masyallah pinternya anak Ibu. Memberikan ekspresi non verbal seperti mengacungkan dua jempol, mengusap kepala anak, tersenyum dengan menatap sang anak.

Selain reward, rasulullah juga menetapkan model punishment dalam mendidik. Namun perlu di garis bawahi bentuk punishment yang diberikan bersifat mendidik untuk anak. Punishment atau hukuman berfungsi untuk membuat anak jera terhadap perbuatan yang menyimpang atau tidak sesuai dengan ajaran. Bentuk-bentuk punishment yang dicontohkan oleh rasulullah dalam mendidik anak diantaranya hukuman dalam bentuk verbal berupa menasihati sebagaimana rasulullah pernah memberi nasihat dan petunjuk kepada Umar bin Abi Salamah ketika sedang makan “Nak, sebutlah nama Allah. Makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada di hadapanmu” (HR Bukhari-Muslim); memberikan teguran kepada anak secara fisik namun tidak menyakiti dan meninggalkan luka serta trauma sebagaimana yang telah rasulullah anjurkan dalam hadis “Jika salah seorang memukul, maka jauhilah muka”(HR. Abu Daud). Bentuk lainnya adalah hukuman non verbal dapat berupa menunjukkan ekspresi masam sebagai bentuk kecewa atau ketidak setujuan orang tua pada perilaku anak.

Dari sekian macam bentuk model mendidik ala rosulullah, telah tergambar pada perpaduan cara mendidik yang sempurna orang tua kepada anaknya. Ibarat anak sebagai tanaman yang tumbuh dan berkembang di sebuah lahan bernama lingkungan keluarga, yang mana orang tua sebagai pemilik lahannya. Bagaimana anak dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal tergantung dari sang pemilik merawat, memelihara, dan menjaga tanaman tersebut. Orang tua dan keluarga merupakan cerminan dari dalam diri anak dalam bertumbuh dan berkembang. Menumbuhkan semangat dan motivasi mendasar dan kuat dalam belajar bagi seorang anak dimulai dari lembaga pendidikan pertamanya yakni keluarga.

180 total views, 3 views today

Posted in Opini.