Nilai Bercerita Yang Tidak Bisa Diwakilkan Oleh Teknologi

Sofia Rizki Julianti
UIN SUNAN KALIJAGA YOGJAKARTA

20204031022@student.uin-suka.ac.id

Perkembangan teknologi yang semakin maju, ditandai dengan perkembangan media pembelajaran yang beragam dan semakin canggih. Mempermudah manusia dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Banyaknya media-media pembelajaran yang ditawarkan seperti media audio-visual, buku elektronik yang semakin maju dan mudah diakses. Membuat beberapa metode pembelajaran lama sudah mulai dikesampingkan seperti bercerita.

Seperti yang kita ketahui bahwa kegiatan bercerita sudah di lakukan sejak dulu. Tetapi, dapat kita lihat untuk saat ini orang tua lebih memilih teknologi untuk menggantikan kegiatan bercerita tersebut. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, apakah kegiatan bercerita masih diperlukan oleh anak?.

Bercerita biasanya kegiatan yang sering dilakukan oleh orang tua dan anak atau guru dan murid. Bercerita identik dengan kegiatan yang menyenangkan untuk berbagi cerita, yang bertujuan menciptakan pengalaman bersama.

Pada zaman dahulu kegiatan bercerita selalu dinantikan oleh anak. Melalui kegiatan bercerita anak diperkenalkan kepada pola tingkah laku manusia yang tujuannya anak siap untuk dunia yang lebih luas. Setiap keluarga biasanya memiliki karakter cerita yang khas dan nantinya di ceritakan secara turun-temurun.

Adapun Hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah memberikan suatu gambaran kejadian dengan melalui bercerita. Seperti Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, menjelaskan bahwa Rasulullah memberikan suatu gambaran kejadian.

Rasulullah menceritakan kisah seorang laki-laki yang memiliki sifat penolong. Sehingga dengan sifat mulia yang dimilikinya, Allah menjadi senang dan mengampuni dosanya. Tujuan Rasulullah menceritakan kisah tersebut agar para Sahabat yang mendengarkan dapat mengambil hikmah.

Bercerita memiliki banyak nilai manfaat, khususnya untuk perkembangan anak. Beberapa manfaat bercerita yang didapatkan seperti mengembangkan imajinasi anak, meningkatkan keterampilan bahasa anak, membangun kecerdasan emosional anak dan lainnya.

Meskipun sekarang ini, sebagian besar dari orang tua sadar pentingnya bercerita bagi anak, pada kenyataannya menunjukan bahwa bercerita semakin ditinggalkan. Anggapan bahwa kegiatan bercerita memerlukan waktu yang tidak sedikit dan dapat membuang-buang waktu.

Sehingga orang tua memilih kegiatan yang lebih praktis dan tidak membuang waktu. Banyak anggapan orang tua yang jarang melakukan kegiatan bercerita kepada anak, karena bisa diwakilkan dengan alat-alat teknologi seperti tv, gadget dengan aplikasi YouTobe atau media lainnya.

Meskipun dalam menyampaikan isi cerita melalui teknologi sekarang bisa saja lebih menarik perhatian anak karena dengan media visual membuat lebih imajinatif. Tapi ada nilai yang hilang dan juga tidak bisa tergantikan, yaitu kesempatan orang tua dapat komunikasi dan berdialog secara langsung dengan anak.

Selain berkomunikasi, dalam kegiatan bercerita juga menimbulkan kehanggatan dekapan yang merupakan pendekatan secara individual antara orangtua dan anak. Sehingga anak lebih merasa diperhatikan, diberikan kasih sayang dan bimbingan secara langsung. Dan itu semua tidak bisa diwakilkan oleh teknologi.

Sebagaimana Allah berfirman: “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Hud:120)

Sekarang banyak sekali cerita-cerita Islami yang berasal dari Al Qur’an maupun Hadits sebagai rujukan orang tua untuk mengembangkan kegiatan bercerita untuk pemberian hikmah dan nasihat kepada anak.

Meskipun melakukan bercerita bukanlah kegiatan yang mudah, teknologi terkini bisa dimanfaatkan sebagai pembelajaran orang tua untuk bercerita lebih menarik lagi. Seperti untuk mendapatkan materi cerita-cerita Islami dapat diakses melalui ebook atau Youtobe.

Dapat disimpulkan bahwa kegiatan bercerita merupakan media yang mampu mendekatkan hubungan antara orang tua dan anak, yang dapat diartikan sebagai bentuk komunikasi kasih sayang.

Oleh sebab itu, orang tua tidak perlu merasa risau apabila tidak mampu tampil sebagai pendongeng yang baik, mengingat bahwa bercerita sebagai kegiatan tanda kasih sayang untuk anak.

492 total views, 3 views today

Posted in Opini.