Mengajarkan Larangan Marah Sejak Dini dalam Perspektif Hadis

Dera Puspawati

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

20204031016@student.uin-suka.ac.id

Beberapa bulan yang lalu Alhamdulillah saya diberikan kesempatan oleh Allah SWT menjadi guru PAUD disalah satu yayasan PAUD. Pengalaman pertama saya menjadi guru setelah saya menyelesaikan kulaih S1 PAUD di salah satu Universitas negeri, saya merasa sangat senang berada di tengah anak-anak yang unik dan tentu nya sangat menyenangkan berada di lingkungan tersebut.

Saya menyebut dia adalah anak istimewa, dia terlihat sangat aktif bermain dengan teman-teman nya. Ketika ada anak lain yang mengganggu permainan nya anak tersebut seperti membentak dan marah. Salah satu dari anak tersebut berkata jangan marah-marah kata ibu guru, dan anak yang lain membacakan hadist larangan marah “jangan lah marah karna surga untuk mu” begitulah anak-anak.

Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda- beda, ada yang berkembang sangat baik di bidang kongnitif, bahasa, seni, motorik, sosial emosional dan Agama. Terkadang anak-anak juga perlu untuk mengeluarkan emosi yang sedang dia rasakan, seperti emosi rasa senang, sedih atau pun marah ketika dia merasa sedang dalam keadaan kecewa.

Apa bila marahnya anak tersebut berlebihan, hal tersebut bisa berakibat buruk bagi perkembangan dan pertumbuhan si anak. Oleh karna itu sebagai orang tua atau guru kita harus bisa meredakan amarah dan membantu anak dalam mengelola emosi anak tersebut.

Ada beberapa cara untuk memahami emosi anak. Pertama perhatikan makanan dan kesehatan anak jika anak dalam keadaan lapar atau tidak sehat tentu wajar anak tersebut merasa marah, Kedua mencari tau sebab anak tersebut marah bisa jadi anak tersebut ada masalah dengan temannya, ketiga berikan perhatian dan rasa kasih sayang yang cukup kepada anak, keempat memberi nasehat diwaktu yang tepat agar anak bisa menerima nasehat tersebut dengan baik, kelima pahami perasaan anak pada saat itu.

Nabi Muhammad SAW berpesan agar umatnya menjauhi sifat amarah. Dari Abu Hurairah RA, diketahui, Rasulullah bertemu dengan seseorang yang minta nasehat kepadanya perintahkan aku untuk melakukan perbuatan baik, lalu Rasulullah bersabda “jangan marah, Jangan marah, Jangan marah” berkali-kali.

Marah bisa menimbulkan perbuatan yang tidak terpuji, seperti memukul, menyiksa dan meyakiti perasaan orang lain, berkata yang tidak baik seperti mencaci maki, berkata kotor sampai ingin membalas dendam kepada orang lain. Marah tersebut dilakukan karena menuruti hawa nafsu dan menimbulkan kerusakan. Al-Hafizah Ibnu Hajar berkata, “adapun hakikat marah tidaklah dilarang karena perkara tabi’at yang tidak bisa hilang dari perilaku kebiasaan manusia.

Rasa marah tidak bisa kita hilangkan sama sekali, akan tetapi kita bisa menahan amarah denagn cara latihan terus menerus, sebaiknya kita membiasakan diri untuk bersikap lemah lembut dan menjauhi sifat marah.

Sabda nabi Rasulullah apabila dalam keadaan marah segera lah berwudhu. Apa bila kita mampu menahan rasa marah berarti kita termasuk dalam golongan orang-orang yang takut kepada Allah, karna kita mampu mengalahkan godaan setan, karna marah adalah sifat ya setan.

Allah juga telah berjanji akan memberikan rasa aman atau melindungi kita dari api neraka bagi orang-orang yang berhasil menahan rasa marah. Rasulullah bersabda “barang siapa menahan marahnya, maka Allah akan menahan siksa api neraka kepada orang tersebut.”

Karna itulah kita dianjurkan untuk bersikap lemah lembut dan bisa menahan rasa marah. Pada masa anak usia dini ini kemampuan untuk meniru dan daya tangkap nya sangatlah kuat, maka dari itu kita sebagai orang tua harus bisa mencontohkan perilaku-perilaku yang baik, dan juga kita ajarkan untuk bisa menghargai pendapat orang lain, bisa menahan emosinya, tidak suka marah-marah sejak dini agar nanti diwaktu dia dewasa dia terbiasa untuk menahan rasa marah.

225 total views, 6 views today

Posted in Opini.