Kestabilan Emosi Orang Tua di Masa Pandemi

Nadia El-Huda Anza
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

20204031023@student.uin-suka.ac.id

Menuju puncak akhir tahun 2020, dunia masih dihadapkan dengan wabah covid-19. Satu tahun ini adalah tahun yang terbilang sulit untuk dijalani. Seluruh penduduk bumi menghadapi wabah ini dengan proses yang tidak mudah. Entah sampai kapan situasi ini meresahkan kehidupan, tentu hal ini bukanlah hal yang mudah bagi kehidupan manusia.

Beberapa aspek kehidupan terkena tumpah ruah dampak dari situasi covid-19. Sekian juta penduduk bumi menghadapi dukanya kehilangan keluarga, sahabat dan orang-orang yang mereka cintai. Dunia tidak hanya menghadapi guncangan duka nyawa, ternyata duka merayap pada aspek ekonomi hingga sosial dan budaya.

Mengamati sekaligus merasakan kesulitan yang tiada habisnya dalam menghadapi situasi pandemi. Faktanya dampak yang sangat besar pada akhirnya tertumpah pada kehidupan keluarga. Segala aspek yang berpengaruh pada akhirnya menjadi duka pada sebuah keluarga. Duka tidak hanya dirasakan kehilangan nyawa sebab covid-19. Hal yang lebih menggetarkan dada adalah duka yang menimpa manusia yaitu kejahatan dikarenakan hawa nafsu manusia yang tidak terkendalikan. Tidak jarang kita mendapati berita kekerasan dalam keluarga dikarenakan dampak dari perubahan kehidupan di masa pandemi ini. Kesehatan fisik menjadi perhatian utama di era covid-19 ini. Orang-orang berburu segala macam usaha demi menjaga kesehatan, meningkatkan imunitas tubuh, melindungi diri dari tertularnya wabah covid-19. Namun, banyak diantara mereka yang melupakan kesehatan jiwa, padahal hal ini merupakan poin utama agar mereka dapat dengan tenang menghadapi kondisi ini. Kesehatan jiwa sangatlah penting, kesehatan jiwa berpengaruh besar pada sistem imunitas tubuh. Jika jiwa terguncang hebat karena tekanan dalam menghadapi suatu situasi, maka kesehatan fisik secara otomatis juga berdampak buruk.

KONDISI MENTAL ORANGTUA DI MASA PANDEMI

Bukanlah hal yang mudah menghadapi perubahan tatanan kehidupan kini. Perubahan kehidupan yang merubah pula tingkat kestabilan emosi manusia. Dalam hal ini khususnya para orangtua yang begitu merasakan perjuangan ekstra dalam mengelola kondisi kehidupan keluarga. Mulai dari mengurus pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan finansial hingga mengurus pekerjaan rumah tangga. Ternyata kondisi ini tidak hanya menguras tenaga namun juga menguras pikiran.

Perubahan yang dirasakan adalah mengurus anak dalam proses pembelajaran online. Bagi kita yang tidak merasakan situasi itu memang terdengar tidak rumit, “toh hanya di rumah saja, tinggal sediakan kuota internet, anak duduk di depan layar sudah selesai”. Sayangnya tidak semudah yang diduga, proses ini membutuhkan kesabaran ekstra, belum lagi kendala sinyal yang tidak mendukung di daerah tempat tinggal, belum lagi tugas sekolah anak yang kebanyakan orangtua yang malah menangani.

Hal di atas tentu membuat tingkat kestabilan emosi orangtua terguncang. Jika tidak diperhatikan maka akan berdampak negatif pada kesehatan mental. Tentu ini sngat berbahaya jika dianggap sepele, tidak hanya pada diri sendiri namun juga berpotensi negatif pada orang-orang sekitar.

ANJURAN MENJAGA KESEHATAN JIWA DALAM ISLAM

Rasulullah saw. bersabda “Barang siapa yang melihat kejahatan biarkan dia mengubahnya dengan tangannya, dan jika tidak mampu melakukannya, maka dengan lidahnya, dan jika tidak mampu melakukannya, maka dengan hatinya, dan itu adalah iman yang paling lemah (HR. Muslim). Dalam hadis tersebut diartikan bahwa segala situasi yang menimpa manusia pada akhirnya manusia itu sendiri yang merubahnya. Jika ia tertimpa kesulitan maka hanya dirinya sendirilah yang dapat mengontrol situasi itu.

Islam begitu sempurna dalam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Menjaga kesehatan jiwa pun adalah salah satu anjuran dari Rasulullah saw. Hadis tesebut sangat jelas bahwa kunci dalam menghadapi kesulitan adalah diri sendirilah dalam berupaya. Upaya yang digambarkan berupa ikhtiar dalam berusaha menjaga diri dan berdo’a meminta penjagaan serta perlindungan Allah swt.

KIAT MENGELOLA EMOSI DI MASA PANDEMI

Memang tidak mudah bagi para orangtua dalam menyesuaikan diri di tengah kesibukan keluarga yang sudah menumpuk, lalu ditambah lagi kondisi baru yang serba rumit ini. Tidak jarang pada akhirnya para orangtua merasa tertekan atau bahkan frustasi dalam menghadapi persoalan masa kini. Para orangtua bertambah sibuk dengan memerhatikan kesehatan fisik keluarga tiada habisnya diteruskan pula kesibukan dalam memenuhi kebutuhan materi keluarga yang semakin meningkat.

Hal tersebut membuat para orangtua melupakan hal yang paling penting yaitu kesehatan jiwa dan pikiran. Tingkat emosional orangtua di masa pandemi ini jika dibiarkan akan menjadi persoalan serius yang berdampak pada diri sendiri dan keluarga. Berbagai persoalannya seperti mengurus anak dalam pembelajaran online di rumah. Bukanlah hal yang mudah menghadapi proses pembelajaran anak. Para orangtua juga ikut menangani pembelajaran online, belum lagi kendala sinyal atau bahkan sang anak yang tidak memahami tugas sekolahnya, sehingga mau tidak mau orang tua ikut andil serta dalam penyelesaian tugas.

Kesibukan pekerjaan demi memenuhi kebutuhan finansial, pekerjaan rumah, tentu tidak bisa terbayangkan betapa hal ini mengguncang pikiran para orangtua dalam menghadapi perubahan kondisi hidup dalam keluarga. Namun tentunya hal ini perlu diperhatikan, agar kondisi yang dihadapi dapat diseimbangkan dengan ketenangan.

Bagaimana orangtua mengelola emosi agar tetap stabil di masa pandemi?
Ikhtiar pertama yang dilakukan adalah menanamkan ketenangan dalam pikiran, apapun yang dihadapi berusahalah untuk tetap tenang. Memanglah tidak mudah, namun ini bisa ditangaini dengan kesungguhan niat. Kedua, komunikasi yang lancar dengan keluarga, hal ini sangatlah penting diperhatikan jika ingin kesehatan jiwa keluarga tetap stabil. Para orangtua hendaknya melakukan pola komunikasi yang hangat dengan pasangan dan anak-anak, memerhatikan intonasi suara dan cara berbicara sangatlah penting demi menjaga hubungan yang hangat. Cara ini akan efektif jika dilakukan dengan memberi waktu khusus untuk keluarga, membicarakan hal-hal yang dilakukan, mendengarkan cerita anggota keluarga yang lain.

Ketiga, jangan lupa untuk memberi waktu pada diri sendiri. Ditengah kerumitan kondisi yang dihadapi ini, wajib kiranya setiap orang memberi waktu untuk diri sendiri. Melakukan hal-hal yang membuat diri merasa santai dan senang. Orangtua setidaknya memberi jeda waktu paling sedikit tiga hari sekali untuk memanjakan diri. Hal yang dapat dilakukan misalnya membaca buku favorit, menonton film yang sempat tertunda, atau hal lainnya sesuai kesenangan masing-masing. Memberi jeda waktu untuk diri sendiri sangatlah penting. Orangtua juga manusia yang memerlukan waktu untuk menyantaikan pikiran dan jiwa. Keempat, yaitu memperbanyak ibadah.

Merefleksikan diri dengan lebih khusyuk dalam beribadah adalah cara yang sangat ampuh untuk ketenangan jiwa dan pikiran. Hal ini merupakan kiat untuk menjaga kestabilan emosi guna untuk kesehatan jiwa. Mengelola kesehatan jiwa jangan sampai dipandang sebelah mata. Kesehatan jiwa berpengaruh besar pada kehidupan dan berdampak besar pada kondisi keluarga. Jangan sampai perhatian terhadap kesehatan jiwa terurungkan karena hanya fokus memerhatikan kesehatan fisik. Kesehatan jiwa berkaitan erat dengan kesehatan fisik. Diharapkan agar kondisi kehidupan keluarga tetap terasa hangat, pola komunikasi yang baik, keakraban masih terjalin ditengah menghadapi masa pandemi covid -19 dengan mengelola kestabilan emosi sebaik mungkin.

381 total views, 9 views today

Posted in Opini.