Aksara Incoeng Warisan Peradaban Krinci yang Harus Dijaga

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar didunia yang terdiri dari 17.000 pulau yang dihuni oleh sekitar 255 juta penduduk. Sudah kita ketahui bersama bahwasanya Indonesia memiliki keanekaragaman budaya, etnis (suku), maupun agama ditiap daerahnya. Semua tersebar dari Sabang hingga Merauke. Luasnya wilayah dan keanekaragaman budaya Nusantara tersebut memberikan kepada kita berbagai macam warisan budaya yang melimpah ruah sehingga memberi corak dalam kehidupan bangsa Indonesia. Satu diantara keberagaman budaya di Indonesia ialah warisan peradaban masa silam yang terdapat di Sumatera Tengah tepatnya suku Kerinci, yakni aksara Incung daerah Kerinci.

Peradaban tua masyarakat Kerinci ini memiliki ‘aksara’ sendiri di antara suku tua yang ada di Sumatera khususnya, seperti aksara Batak, aksara Rejang dan aksara Alas Gayo – Aceh. Aksara Incung merupakan bahasa Kerinci yang berarti miring atau seperti terpancung. Aksara Incung Kerinci dibentuk oleh garis-garis lurus, patah terpancung dan melengkung. Kemiringan garis pembentuk huruf itu diperkirakan rata-rata 45˚. Meskipun demikian, dalam Aksara Incung Kerinci ini tidak berarti aksara yang ditulis miring, seperti dalam penulisan huruf latin yang ditulis miring bersambung.(H. Aulia Tasman : 2016)

Kemudian, setelah masuknya agama Islam ke Kerinci sekitar abad ke 14 M (Hafiful hadi: 2012), hal ini berpengaruh pula pada penulisan naskah secara bersamaan menggunakan dua aksara yaitu aksara “incung” dan “aksara arab”. Naskah-naskah kuno yang terkait dengan penulisan aksara sastra Incung Kerinci bernilai klasik, baik dari segi bentuk maupun dari segi media dan teknik penulisan yang digunakan. Kebanyakan naskah-naskah tulisan Incung yang disimpan orang Kerinci fungsinya sebagai pusaka yang dikeramatkan (disakralkan).

Sampai tahun 1825 M,
Orang Kerinci masih menggunakan aksara incung dalam tradisi penulisan naskah. Barulah awal abad XX, aksara incung menghilang. Penyebabnya, Belanda melarang penggunaan aksara incung ini. Belanda menilai aksara incung bisa jadi alat pemersatu sehingga sangat merugikan dalam menguasai alam Kerinci. Selain itu, Belanda juga mengembangkan aksara latin yang memudahkannya dalam menguasai daerah jajahan.

Di wilayah alam Kerinci terdapat 134 naskah yang menggunakan aksara incung. Naskah itu tersebar di 10 wilayah mendapo yang masuk dalam lingkup Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Di Mendapo Limo Dusun 14 naskah, Mendapo Rawang 26 naskah, Mendapo Depati Tujuh 16 naskah, Mendapo Kemantan 11 naskah, Mendapo Hiang 9 naskah, Mendapo Seleman 1 naskah, Mendapo Keliling Danau 1 naskah, Mendapo Tanah Kampung 8 naskah, dan Mendapo Penawar 3 naskah.(Dedi Arman:2018)

Latar belakang lahirnya
naskah kuno Aksara Incung Kerinci ini sebagai hasil budaya yang memiliki nilai filosofis, simbolik, fungsi dan nilai sejarah yang berwawasan budaya lokal dan bernilai tradisi. Yang kemudian merupakan usaha masyarakat Kerinci mendokumentasikan rekam jejak berbagai peristiwa kehidupan, kemasyarakatan, sejarah dan kejadian pada masa itu atau pada masa lalu sesuai konteks pada zamannya. Mengutip perkataan Philip August B mengemukakan bahwa pengkajian terhadap teks yang tersimpan dalam tulisan peninggalan masa lampau adalah suatu gerbang untuk mengetahui khazanah masa lampau atau L’etalage de savoir (pameran ilmu pengetahuan).

Naskah kuno ini dipakai oleh suku Kerinci dahulunya sebagai wahana untuk menulis sastra (syair-syair), hukum adat, dan mantera-mantera yang ditulis pada media berupa kulit kayu, tanduk kerbau, tanduk sapi, daun lontar dan bambu. Tulisan aksara Incung Kerinci yang ditulis di atas kulit kayu dan tanduk kerbau diperkirakan umurnya jauh lebih tua dari kebanyakan tulisan Incung yang didapati pada lempengan bambu, daun lontar dan kertas (Husni Mubarat,2015).

Aksara Incung yang merupakan tulisan asli suku Kerinci, saat ini nyaris punah dikarenakan tidak adanya perhatian dari masyarakat didaerah setempat atas eksistensi aksara incung itu sendiri. Jangankan hanya untuk peduli, bahkan sedikit sekali penduduk pribumi yang masih bisa membaca dan memahami. Iskandar Zakaria seorang budayawan Kerinci juga menuturkan bahwasanya generasi sekarang tidak mengetahui apa dan bagaimana bentuk dari Tulisan Kuno Kerinci yang disebut Incung itu. Sekarang hanya ada beberapa orang tokoh yang bisa membaca Tulisan Incung ini di Sungai Penuh. Sedangkan generasi muda sedikit sekali keinginan mereka untuk mempelajari dan menggali lebih dalam lagi.

Budayawan yang merupakan pensiunan Kepala Seksi Kebudayaan Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Kerinci itu, menyebutkan jika kondisi seperti sekarang dibiarkan maka Tulisan kuno ini bisa punah, karena tidak ada upaya untuk memperkenalkan tulisan yang disebut Incung itu. Sekarang aksara Incung Kerinci ini, hanya dijadikan sebagai barang pusaka, yang hanya bisa dilihat pada saat kenduri SKO dan Penobatan para Depati.(Wartanews:2017)

Perkembangan zaman pada saat ini sangat memberi efek yang memprihatinkan terhadap kebudayaan Aksara Incung Kerinci. Semakin lama eksistensi Aksara Incung Kerinci semakin memudar saat banyak dari generasi muda yang mulai lengah dan melupakan budaya mereka sendiri. Generasi muda kian hari kian tak acuh terhadap seluk beluk kebudayaan Kerinci seperti Aksara Incung yang ada di dalamnya. Kebanyakan generasi muda sekarang banyak yang malu akan kebudayaan yang ia miliki dan lebih bangga meniru budaya asing (orang luar). Generasi muda sekarang bisa dikatakan sangat minim dengan nilai moral serta nilai kebudayaan. Keadaan ini tentu begitu mengiris hati dan perasaan. Bagaimana tidak warisan budaya itu hampir diambang kepunahan, jika masyarakatnya sendiri enggan mengenal dan melestarikan budayanya sendiri.

Untuk itu kita sebagai generasi penerus bangsa sudah sepatutnya mengambil peran dalam melestarikan, membudayakan dan menghormati warisan peradaban yang sudah ada sejak zaman dahulu. Agar tidak punah dizaman modern ini, dan juga untuk menjaga sebaik-baiknya agar tidak direbut/diklaim hak patennya oleh orang luar, dan yang paling utama adalah selalu memegang teguh amanat dari para pendahulu untuk generasi penerus karna kebudayaan ini menjadi akar dari semua kehidupan. Hendaknya generasi sekarang ini membulatkan tekadnya untuk dapat menyatukan visi bersama dalam menjaga adat dan kebudayaan agar tetap utuh di tengah masyarakat.

Menyoroti keberadaan aksara Incung Kerinci akan membawa kita untuk membayangkan bagaimana peradaban nenek moyang zaman dahulu yang telah membangun simbol-simbol identitas kolektif, yakni identitas sebagai sebuah etnisitas yang mendiami dataran tinggi Jambi, simbol tersebut juga merepresentasikan wujud dari local jenius yang dimiliki oleh komunitas masyarakat Suku Kerinci. Atas local jenius itu sudah sewajarnya generasi saat ini menempatkan penghargaan dari capaian masa lalu dalam bentuk usaha melestarikan aksara Incung tersebut dengan mempelajari dan mewariskannya agar tidak punah termakan usia. (Kerinci Institute:2018)

Untuk menjaga kelestariannya, Aksara Incung Kerinci yang lama tenggelam dibangkitkan lagi dengan berbagai cara. Salah satunya yang telah dilakukan oleh Ibu Erni seorang pengrajin batik di Kota Sungai Penuh yang menjadikan Aksara Incung Kerinci sebagai motif pada batik buatannya. Bersamaan dengan itu, Aksara incung Kerinci kini makin dikenal karena dijadikan sebagai motif batik yang dipakai pejabat pemerintahan baik itu di Kota Sungai Penuh maupun Kabupaten Kerinci. Penggunaan nama jalan pun menggunakan Aksara Incung.

Selain itu, aksara incung juga menjadi pelajaran muatan lokal di sekolah sekolah. Bahkan saat HUT Kota Sungai Penuh ke 10 pada 8 November 2018 lalu penulis sendiri juga pernah ikut serta dalam memeriahkan acara ini dalam lomba melukis aksara incung yang diselenggarakan oleh Pemkot Sungai Penuh. Meskipun belum beruntung menjuarai perlombaan ini tapi ada kebanggaan tersendiri mampu mengenal budaya sendiri dan mewakili sekolah pada saat itu. Harapan pemerintah menyelenggarakan ini agar timbulnya antusias masyarakat terutama generasi muda terhadap warisan peradaban budaya Kerinci.

Daftar Referensi :
http://tasman1959.blogspot.com/2016/01/malpu-193-aksara-tulis-peradaban-kuno.html
https://hafifulhadi.blogspot.com/2012/03/perkembangan-islam-di-kerinci.html

Aksara Incung Kerinci Kalau Tidak Dipedulikan Bisa Punah


http://kerinciinstitute.blogspot.com/2018/02/menyelamatkan-aksara-incung-kerinci.html

Incung, Dari Aksara hingga Jadi Motif Batik

Dinda Duha Chairunnisa’
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Ilmu Al-Qur’an & Tafsir Angkatan 2019

390 total views, 3 views today

Posted in Kajian.