Tabarruk dengan Sahih al-Bukhari untuk Mengangkat Balak: Refleksi atas Hari Kelahiran Imam Bukhari ke 1247

Pengantar

Di berbagai kesempatan, ketika mengajukan satu pertanyaan yang sama kepada beberapa orang, “Selain nama Rasulullah SAW, nama siapa yang langsung terbetik dalam hati ketika mendengar kata hadis?”

Pada umumnya, jawaban yang diajukan seragam, yaitu Imam al-Bukhari.

Popularitas imam al-Bukhari dalam bidang hadis, secara khusus dalam periwayatan hadis sungguh tidak diragukan lagi. Beliau adalah salah seorang ulama yang sangat populer, bahkan boleh jadi paling populer dalam periwayatan hadis.

Beliau dilahirkan 1247 tahun yang lalu, tepatnya pada hari Jumat tanggal 13 Syawwal tahun 194 H.

Maka sebagai refleksi atas hari kelahiran Beliau, saya menuliskan tulisan yang memuat biografi singkat tentang Imam al-Bukhari, sekilas tentang kitab Sahih-nya dan terakhir kutipan pernyataan beberapa ulama tentang Tabarruk dengan kitab tersebut untuk mengangkat bala’ sesuai dengan kondisi yang di alami oleh dunia saat ini.

Biografi Imam al-Bukhari

Nama lengkapnya adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari.

Beliau dilahirkan di Bukhara, salah satu kota kuno yang eksotik dan merupakan kota yang termasuk dalam negeri yang dikenal dengan sebutan *buldan ma wa wara an-nahr* (negeri-negeri di seberang sungai). Sungai yang dimaksud adalah sungai panjang yang mengairi negeri-negeri di Asia Tengah. Orang Yunani menyebutnya sungai Oxus, orang Arab menyebutnya sungat Jeyhun, sementara pujangga Persia memujanya dengan sebutan Mulyan.

Mulai menghapal hadis sejak usia 10 tahun di kuttab (tempat belajar baca tulis). Dalam usia remaja, Beliau telah menghapal kitab-kitab hadis dari Ibn al-Mubarak dan Waki’.

Pada umur 16 tahun, bersama ibu dan saudaranya, Ahmad bin Ismail, Beliau mengadakan perjalanan haji ke Makkah. Ketika ibu dan saudaranya kembali ke Bukhara, Beliau memilih untuk tinggal demi mempelajari hadis.
Dari Makkah, Beliau kemudian bertolak ke Madinah dan di kota Nabi inilah, Beliau menulis kitab Tarikh, di samping kubur Nabi saw.

Beliau juga mendatangi beberapa kota besar lainnya untuk mempelajari hadis, seperti Khurasan, kota-kota di Iraq, seperti Baghdad, Bashrah. Selain itu juga ke Hijaz, Syam dan Mesir.

Beliau menerima hadis dari 1080 guru, di antaranya Imam Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’in dan ‘Ali ibn al-Madini.

Imam al-Bukhari adalah seorang ulama yang sangat produktif dalam menulis kitab. Dalam kitab A’lamul Muhadditsin wa Manahijuhum yang ditulis oleh Prof. Dr. Izzat ‘Ali ‘Ied ‘Athiyyah dan Prof. Dr. Yahya Isma’il disebutkan 21 Kitab yang ditulis oleh imam al-Bukhari.
Adapun kitab-kitab yang disusun di antaranya: at-Tarikh al-Kabir, at-Tarikh al-Ausath, at-Tarikh as-Shaghir, al-Jami’ as-Shaghir, Khalqu Af’alul ‘ibad, adh-Dhu’afa’ as-Shaghir, at-Tafsir al-Kabir, Kitabul Hibah, Asami as-Sahabah,

Kecerdasan dan kekuatan hapalan imam al-Bukhari diakui oleh banyak ulama dan Beliau mendapatkan banyak pujian atas hal tersebut. Salah satunya dari sejawat dan murid beliau, Imam Muslim. Suatu hari Imam Muslim menemui imam al-Bukhari dan mencium dahinya sambil berkata: *”Izinkanlah saya untuk mencium kedua kakimu wahai Ustadzal ustadzin (Ustadznya para Ustad, Sayyidal Muhadditsin (Penghulu para ahli hadis dan Tabibal Hadis fi ‘Ilalihi (Dokter dalam masalah cacat hadis yang tersembunyi).*
Imam Muslim kemudian melanjutkan: *”Tiadalah yang membencimu kecuali orang yang iri dan saya bersaksi bahwa tidak ada di dunia (orang) sepertimu”.*

Kecerdasannya terutama dalam bidang hadis menarik banyak orang untuk berguru kepadanya dan mengambil hadis darinya. Sebagian riwayat menyebutkan lebih dari 20.000 orang yang menghadiri majelisnya. Riwayat lain menyebutkan lebih dari 70.000 orang yang meriwayatkan hadis darinya. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa murid-muridnya sangat banyak dan tak terhitung jumlahnya.

Di antara muridnya, bahkan juga menjadi periwayat hadis yang terkenal seperti imam Muslim, imam at-Tirmidzi dan imam an-Nasai.

Beliau diwafatkan oleh Allah swt pada malam iedul fithri tahun 256 H di daerah Samarqand, saat ini termasuk salah satu kota di negara Azebaijan. Beliau dikuburkan di daerah tersebut dan sampai saat ini kuburannya diziarahi oleh banyak orang.

Sekilas tentang kitab Sahih al-Bukhari

Dari sekian banyak kitab yang ditulis oleh imam al-Bukhari, kitab yang paling terkenal adalah kitab al-Jami’ al-Musnad as-Sahih al-Mukhtashar min Umuri Rasulillah saw wa Sunanihi wa Ayyamihi, lebih dikenal dengan nama Sahih al-Bukhari.

Jumlah hadis yang terdapat dalam Sahih al-Bukhari menurut Ibn Hajar sebanyak 7397 hadis termasuk yang berulang. Adapun tanpa pengulangan sebanyak 2602 hadis. Hadis sebanyak itu adalah hasil seleksi dari 600.000 hadis.

Untuk menulis kitab tersebut, Beliau menghabiskan waktu sebanyak 16 tahun dan tidaklah Beliau menuliskan satu hadis, kecuali mandi terlebih dahulu dan melaksanakan shalat dua raka’at.

Begitu berharganya kitab ini, sehingga ia disyarah oleh banyak ulama setelahnya. Menurut imam al-Mubarakfuri, sekitar 80 sampai 100 kitab yang ditulis dalam bahasa Arab untuk memberikan penjelasan (syarah) terhadap kitab ini. Di antaranya adalah kitab A’lamus Sunan oleh imam al-Khattabi, kitab pertama yang ditulis untuk mengsyarah sahih al-Bukhari. Kemudian Syarah ibn Batthal, Syarah Ibn at-Tin, Syarah ibn al-Munir, al-Mutawari ‘ala Tarajum Sahih al-Bukhari, Syarah Sahih al-Bukhari li al-Halabi, Majma’ul Bahrain wa Jawahirul Bahrain, ‘Umdatul Qari, Hidayatul Bari, dan Irsyadus Sari. Namun dari sekian banyak kitab yang mengsyarah sahih al-Bukhari, kitab yang paling mendapatkan pujian adalah kitab Fathul Bari yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibn Hajar al-Asqalani.

*Tabarruk dengan Sahih al-Bukhari*

Di antara amalan para ulama hadis dan tasawwuf ketika menghadapi suatu permasalahan hidup adalah berdoa kepada Allah swt dengan wasilah membaca kitab Sahih al-Bukhari sebagai bentuk tabarruk.

Berikut pernyataan beberapa ulama:
Syekh Abu Muhammad bi Abi Jamrah berkata: “Tiadalah kitab ini dibaca ketika terjadi kesusahan, melainkan kesusahan itu akan diangkat. Tiadalah ia dibawa di perahu, melainkan ia diselamatkan. Imam al-Bukhari adalah ulama yang dikabulkan doanya dan Beliau telah mendokan pembaca kitabnya.

Ibn Katsir berkata: “Dengan membacanya awan akan mencurahkan hujan”.

al- ‘Allamah ‘Abdul Haq ad-Dahlawi berkata:
“Para Masyayikh Hadis yang tsiqah melakukan muthala’ah Sahih al-Bukhari untuk memperoleh apa yang mereka inginkan, meraih cita-cita, memenuhi kebutuhan, menolak bala’, ketika menghadapi kesusahan dan kesempitan, maka mereka memperoleh apa yang mereka inginkan dan meraih tujuan mereka. Hal yang seperti sangat populer di kalangan ulama hadis”.

Al-Muhaddits Ashiluddin berkata: “Saya membaca Sahih al-Bukhari sekitar 120 kali dalam berbagai peristiwa dan keinginan untuk diriku dan untuk orang banyak, maka dengan niat apapun saya membacanya tujuan saya tercapai dan keinginan saya terpenuhi”.

Imam al-Mubarakfuri berkata: “Banyak di antara ulama masa kini yang membolehkan membaca Sahih al-Bukhari dan mengkhatamkannya dengan niat kesembuhan bagi orang yang sakit, menolak musibah dan meraih keinginan”.

Melihat kondisi yang dialami berbagai belahan dunia saat ini, maka salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah berdoa kepada Allah swt dengan ber-tabarruk kepada kitab Sahih al-Bukhari.
Semoga Allah swt memberikan rahmat yang selalu melimpah kepada Amirul Mukminin fil Hadis, Imam al-Bukhari dan semoga Allah memberikan keselamatan, kekuatan dan kesehatan kepada pembaca, pengkaji dan pengamal kitabnya.

Makassar, 12 Syawwal 1441 H

Penulis:

Pelayan Hadis Nabi
Syahrir Nuhun

741 total views, 6 views today

Posted in Berita.