Lebaran tanpa Perayaan dan Keunikan Tradisi Di Kabupaten Kampar Riau

Ramadhan telah berlalu dalam waktu seminggu lamanya. Dengan segala kemuliaannya, beragam keagungan pun telah berlalu. Kebiasaan dalam menahan lapar dan dahaga di mulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari selama kurang lebih tiga puluh hari juga berlalu.

Kemuliaan bulan yang dilipat gandakan pahala dari segala amalan dan setan di belenggu. Bulan yang penuh rahmat magfirah dan doa akan di mustajab.

Dan sampailah kita pada hari kemenangan. Hari yang fitri, 1 syawal yang sangat penuh arti. Semua orang yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh pada bulan Ramadhan, menahan hawa nafsu, lapar dan dahaga, menyelesaikan misinya dan menjadi hamba yang putih bersih , suci dan fitri, seperti kain putih tak bernoda dosa karna telah diampuni oleh Allah swt.

Idul itri disambut suka cita oleh kaum muslimin, saling bermaafan dan silaturrahmi di jalin dengan sesama manusia. Dan juga ada perayaan dan tradisi dalam merayakan kegembiraan idul fitri.

Biasanya bulan Ramadhan di sambut dengan perayaan oleh umat Islam. Masyarakat kabupaten Kampar misalnya, di tahun tahun sebelumnya, sebelum memasuki bulan suci Ramadhan masyarakat sudah bersiap dengan berbagai tradisinya. Begitu juga ketika idul fitri.

Tradisi yang sudah di lakukan oleh masyarakat setiap tahun ini seolah di jadikan sesuatu yang harus di lakukan bagi mereka ketika akan memasuki bulan suci Ramadhan dan idul fitri.

Namun pada tahun ini ada perbedaan yang sangat besar dan signifikan yang terjadi pada masyarakat kabupaten Kampar. Dimana tradisi dan ritual yang biasa mereka lakukan setiap tahun itu pada tahun ini tidak dapat dilaksanakan di karenakan dampak dari adanya pandemi virus corona atau Covid-19 yang mewabah di hampir seluruh dunia termasuk Indonesia.

Virus corona atau Covid-19 yang menjadi pandemic di dunia saat ini di yakini berasal dari Wuhan, China. Virus ini menyerang organ pernafasan yang mengakibatkan gejala salah satunya adalah sesak nafas.

Pertama kali virus ini di temukan pada akhir tahun 2019 dan terus menyebar hingga saat ini. Penyebaran virus ini sangat cepat dan massif hingga sangat membahayakan jika ada satu orang yang tertular, maka akan sangat besar kemungkinan orang-orang yang berinteraksi dengan nya juga ikut tertular.

Menyikapi hal ini, pemerintah mengambil langkah cepat dengan beberapa kebijakan untuk memutus penyebaran Covid-19. Pemerintah menetapkan status darurat wabah korona dan mewajibkan masyarakat untuk memakai masker ketika berada di luar rumah.

Pemerintah Juga menganjurkan agar sering mencuci tangan serta tidak melakukan kontak fisik atau menyentuh sesuatu yang berpotensi terjadi penularan virus corona, termasuk menghindari berjabat tangan. Selain itu, juga pemerintah melarang kegiatan yang memungkinkan berkumpulnya banyak orang.

Hal ini tentu berdampak pada kegiatan di masyarakat di berbagai bidang, baik bidang ekonomi, pendidikan, dan sosial masyarakat. Banyak karyawan dan buruh yang bekerja dari rumah, diliburkan bahkan di PHK karna perusahaan tidak beroperasi.

Sekolah tidak melakukan kegiatan belajar megajar secara tatap muka, tapi diganti dengan kegiatan belajar mengajar secara daring atau online.

Masyarakat juga di minta untuk tidak melakuakan ritual ibadah secara berjamaah, karna di khawatirkan tempat ibadah yang masih melaksanakan ritual ibadah secara kolektif dapat terjadi penularan virus Corona atau
Covid-19.

Pelarangan berkumpul yang di keluarkan oleh pemerintah ini berdampak pada masyarakat yang berada di Kabupaten Kampar Provinsi Riau.

Biasanya masyrakat kabupaten Kampar yang biasa di sebut orang ocu ini menjelang bulan suci ramadhan melakukan tradisi Balimau Kasai.

Baliamu Kasai adalah upacara tradisional yang masih di lestarikan oleh masyarakat kabupaten Kampar sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan akan datangnya bulan ramadhan dan serta menjadi simbol penyucian diri.

Balimau berarti mandi dengan air yang sudah di campurkan dengan jeruk atau dalam bahasa masyarakat Kampar di sebut limau. Sedangkan kasai adalah wangi-wangian yang bisa di pakai ke wajah, tangan dan anggota tubuh lainnya.

Bagi masyarakat setempat wangi-wangian ini (kasai) dapat menghilangkan iri dengki dari diri seseorang sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Balimau Kasai biasanya di lakukan di sungai Kampar bagi masyarakat yang tinggal di kampung, dan di berbagai tempat tertentu bagi masyarakat yang berada di perantauan seperti sungai atau pantai di tempat tersebut.

Balimau Kasai yang dilakukan oleh masyarakat Kampar ini di lakukan secara bersama-sama, maka dengan ada nya larangan untuk berkumpul dari pemerintah, maka tradisi ini menjelang Ramadhan tahun ini tidak dilaksanakan. Masyarakat mengikuti aturan pemerintah untuk tidak melakukan kegiatan berkumpul.

Hal yang unik dari tradisi masyarakat Kampar ketika hari raya idul fitri, jika di daerah lain biasanya idul fitri di sambut dan dirayakan dengan sangat meriah, banyak yang berkunjung dan saling mengunjungi,serta saling bermaafan.

Maka berbeda dengan masyarakat disana, ketika hari raya idul fitri kita tidak akan menemukan kegembiraan dan dan kemeriahan idul fitri seperti di tempat lain. Masyarakat kabupaten Kampar merayakan idul fitri ala kadarnya. Hal ini disebabkan pada esok harinya, pada tanggal 2 syawal orang-orang ocu akan kembali berpuasa selama enam hari, sebagaimana sunnah nabi Muhammad saw. untuk berpuasa enam hari pada bulan Syawal.

Nabi Muhammad saw. Bersabda:

من صام رمضان ثم اتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر
“barang siapa yang berpuasa ramadhan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan syawal maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR.Muslim)

Setelah menyelesaikan puasa 6 hari di bulan syawal, baru akan terlihat perayaan hari raya di kabupaten kampar. Dimulai dengan sholat subuh berjamaah dengan seluruh masyarakat.

Kemudian setelah itu masyarakat akan berziarah makam, maka ada juga yang menyebut tradisi ini sebagai “hari raya ziarah”, ziarah kubur ini dikuti oleh seluruh masyarakat dengan berkeliling dari satu makam ke makam lainya.

Setelah itu di lanjutkan dengan makan bersama, tradisi makan bersama ini biasa di sebut “makan bajambau”. Dimana makan bajamba dilakukan di surau atau tempat lainnya.

Setelah itu dilanjutkan dengan perayaan pesta rakyat, seperti Tarik tambang, pacu goni, dan Tarik tambang, agar memperkuat silaturrahmi antar masyarakat.

Lebaran puasa enam juga di manfaatka oleh masyarakat Kampar dengan bersilaturrahmi keluarga, diaman masyarakat saling mengunjungi hingga seringkali membuat kepadatan lalu lintas disana.

Namun pada tahun ini keuniakan tradisi balimau kasai dan kemeriahan lebaran puasa enam yang setiap tahun dirasakan masyarakat kabupaten Kampar tidak dilaksanakan, demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Semoga badai ini segera berlalu, dan bumi segera pulih hingga tradisi-tradisi lokal yang sudah di lestarikan sejak dulu ini tidak hilang lagi di tahun berikutnya. Amiin (INAK/MAS)

Penulis:
Izmil Nauval Abd Khabiir
Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

138 total views, 3 views today

Posted in Opini.