Tradisi ‘Kupatan’ atau ‘Bodo Kupat’ di Kecamatan Durenan Kab. Trenggalek Pada Masa Pandemi

Ketupat adalah salah satu makanan khas hari raya yang tebuat dari nasi yang dibungkus dengan kantong berbentuk segi empat terbuat dari anyaman daun kelapa muda. Namun ternyata ketupat tidak hanya sekedar hidangan semata, melainkan memiliki makna tersendiri. Kupat adalah singkatan dari ngaku lepat yang dalam bahasa Indonesia artinya mengakui kesalahan. Ketupat sebagai simbol kita saling memohon maaf antar umat muslim, itu sebabnya ketupat sering kita jumpai pada saat idul fitri lebih tepatnya tanggal 1 syawal. Tradisi ini pertama kali di perkenalkan oleh beliau Sunan Kalijaga atau yang bernama kecil Raden Said.

Selain ngaku lepat, ketupat juga berarti laku papat yang mempunyai filosofi yang pertama, mencerminkan banyaknya kesalahan umat manusia, yang dapat dilihat dari proses pembuatan ketupat yang sangat rumit dan banyaknya kesalahan terutama bagi pemula.

Yang kedua, sebagai simbol permohonan maaf, karena pada umumnya ketupat dihidangkan dengan sampingan yaitu lauk bersantan yang dalam pantun jawa biasanya disebut dengan kupa santen yaitu singkatan dari kulo lepat nyuwun pangapunten (saya salah mohon maaf).

Yang ketiga, mencerminkan kesucian hati, dimana di dalam ketupat berisi beras putih yang melambangkan kebersihan, kesucian hati setelah kita saling memohon maaf dari berbagai kesalahan.

Dan yang keempat yaitu mencerminkan kesempurnaan, kesempurnaan tersebut tercermin dari bentuk ketupat yang berhasil terbentuk sempurna setelah melalui proses yang begitu rumit dan melambangkan kemenangan umat muslim setelah melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Sunan Kalijaga membudayakan tradisi kupatan dalam 2 event yaitu bodo lebaran dan bodo kupat. Bodo lebaran yaitu sebagaimana yang telah menjadi tradisi kebanyakan masyarakat umat muslim, Indonesia khususnya, ketupat akan dibuat dan dihidangkan pada puncak perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Sedangkan bodo kupat yaitu seperti tradisi yang telah lama dilaksanakan di Kabupaten Trenggalek ini, puncak dari kemerihan bukan pada tanggal 1 syawal yaitu jatuh pada tanggal 8 syawal. Bodo kupat atau lebaran ketupat dilaksanakan setelah sebagian umat muslim melaksanakan puasa Sunnah syawal selama enam hari setelah hari raya pertama Idul Fitri.

Sebagaimana yang telah di anjurkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini telah diceritakan oleh sahabat Abu Ayyub al-Anshari:
عنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya : Abu Ayyub al Anshari bercerita bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian dia melanjutkan enam hari pada bulan syawal maka jadilah puasanya seperti satu tahun”.
Hadits ini diriwayatkan oleh banyak ulama’ hadis, diantaranya adalah Imam Ahmad, Muslim, Ibnu Majjah, Ibnu Hibban, al-Tirmidzi, an Nasa’I dan Abu Daud.

Tradisi Kupatan di Kabupaten Trenggalek ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Masyarakat saling bersilaturahmi ke rumah tetangga, sanak dan saudara untuk saling bermohon-maaf. Perayaan Bodo Kupat ini dilaksanakan dengan diawali kirab tumpeng raksasa yang disusun dari ribuan ketupat dengan berbagai lauk pauk dari Pondok Pesantren Babul Ulum. Kemudian tumpeng ketupat raksasa ini dibawa berkeliling kampong dan dibawa ke lapangan yang kemudian akan menjadi rebutan baik warga sekitar maupun pengunjung dari luar daerah yang ingin ikut serta memeriahkan bodo kupat ini.

Menurut pengasuh pondok pesantren Babul Ulum Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek K.H Abdul Fatah Muin, asal usul tradisi kupatan yang ada di desa Durenan ini bermula dari leluhur kiai Abdul Masir yang diteruskan oleh anak beliau Kiai Imam Mahyin, yang pada saat itu beliau rutin melaksanakan puasa Sunnah syawal selama 6 hari setelah hari pertama idul fitri sehingga para masyarakat yang ingin silaturahmi ke ndalem beliau sungkan, sehingga masyarakat biasanya sowan ke ndalem beliau pada saat bodo kupatan.

Tradisi kupatan yang ada di desa Durenan ini sudah berkembang pesat sejak tahun 2000. Selain adanya kirab tumpeng raksasa, masyarakat Trenggalek juga merayakannya dengan menyediakan aneka olahan ketupat dengan berbagai sayuran pendamping seperti sayur nangka muda (dala bahasa jawa :tewel), sayur papaya muda atau bahkan ayam lodho khas Trenggalek. Lebih sedap lagi di temani dengan bubuk abon kedelai yang di taburkan diatas ketupat. Tidak jarang masyarakat luar daerah berbondong-bondong berkunjung ke Trenggalek untuk menikmati sajian kuliner ketupat secara gratis dan menikmati perayaan kirab tumpeng raksasa.

Virus corona atau corona severe acute respiratory syndrome coronavirus (covid-19) ini sudah mulai tersebar ke Indonesia pada awal maret kemarin, dan kurva covid-19 di Indonesia masih terus menerus terjadi perkembangan yang fluktuatif sampai dengan saat ini. Oleh karena itu, seluruh elemen harus ikut serta mendorong inisiatif Pembatasan Sosial Berbasis Komunitas (Lokal) tidak cukup dengan Pembatasan Sosial Berbasis Besar (PSBB) saja. Hal ini dirasa perlu adanya karena selama ini sebenarnya komunitas adalah garda terdepan yang selama ini sering kita lalaikan. Pembatasan Sosial Berbasis Komunitas inilah yang sangat berdampak, dan dengan mematuhinya adalah hakekat dari gotong royong dan membangun solidaritas gotong-royong.

Maka dari itu, untuk tradisi kupatan pada tahun ini di tiadakan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi tingkat penanjakan kurva positif covid-19, dan agar tidak menjadi cluster baru penyebaran covid -19. Walaupun dengan begitu tidak sedikitpun mengurangi rasa hormat dengan tradisi leluhur ataupun menghilangkan rasa budaya lokal, melainkan demi kesehatan dan kebaikan bersama. Adapun masyarakat yang ingin merayakan tradisi kupatan sendiri dirumah, harus tetap mengikuti protokol kesehatan dengan pyshical distancing dan memakai masker serta cuci tangan.

Semoga pandemi ini segera berakhir sehingga kita dapat melaksanakan aktivitas seperti biasa. Memang wabah covid-19 masih belum juga usai, semakin hari semakin menyulitkan. Namun, Diatas semua ikhtiar kita, tiada daya dan upaya melainkan sepenuhnya dari Yang Maha Kuasa.

Hesti Ludla’In Nafwa Mahasiswi Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga

1,485 total views, 3 views today

Posted in Opini.