Ketika Jodoh Datang Di Kala Pandemi

Menikah adalah salah satu sunnah yang dianjurkan oleh nabi saw. bagi yang sudah mampu sesuai dengan ketentuan. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فمَن رغب عن سنَّتي فليس منِّي

“Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.” HR. Bukhari [5063] dan Muslim [1401]

Bagi seorang yang beriman dan menaati rasulallah,menikah adalah sebuah pembuktikan bahwa ia adalah umat nabi shallallahu’alaihi wasallam,dan bukan berarti yang belum menikah bukan ummat Muhammad saw. juga ya akan tetapi menikah itu lebih banyak keutamaannya dari pada sendiri,karena menikah adalah ibadah paling lama dan dengan menikah berarti seseorang itu telah menyempurnakan separuh dari agama.

Menikah adalah sebuah ikatan suci yang membuat dua orang yang tadinya berdosa apabila bersentuhan dan menjadi fitnah apabila berdua-duaan menjadi halal dan berpahala apabila dilakukan setelah menikah.Menikah juga berarti menyatukan dua hati,dua kepribadian berbeda,dua pasang kaki menjadi satu langkah yaitu langkah yang menuju kepada sakinah,mawaddah dan warahmah.

Setiap insan pasti mendambakan sebuah pernikahan yang sangat indah karena setiap mereka juga berharap hanya akan melangsungkan momen sakral ini sekali dalam seumur hidup.Momen sakral yang bisa menghadirkan semua sahabat kerabat,keluarga dan sanak saudara menjadi satu perkumpulan yang penuh dengan suka cita,dan orang-orang banyak mengatakan bahwa pengantin itu bak raja sehari dan ratu semalam.

Gagal Resepsi Karena Pandemi

Resepsi atau yang biasa dikenal oleh masyarakat kampung pelayang baru,tempat saya tinggal sebagai “Lek/Alek” adalah sebuah majlis yang dihadiri oleh tamu undangan sebagai acara besar pernikahan,dimana pengantinnya duduk bersanding dipelaminan,ada banyak sekali hidangan prancis yang disajikan,kemudian ditambah lagi dengan hibungan musik yang menambah meriah acara.

Tradisi kampung pelayang baru ketika ada acara pernikahan yaitu bersama-sama atau bergotong royong membantu semua hal demi berlangsungnya acara dengan baik,masyarakat pelayang baru biasanya bersama-sama memasak makanan untuk para tamu,dan juga tradisi yang sudah lama dan masih dilestarikan hingga saat ini adalah “Tarintak Kudo”.Tarintak kudo sendiri artinya adalah menari bersama-sama,nenari dengan menghentakkan kaki seperti kuda dengan diiringi oleh musik(lagu khas daerah),baik laki-laki maupun perempuan,tua maupun muda, disebuah lapangan atau tempat yang lumayan luas sehingga semua bisa berkumpul ditempat yang sama,dan “tarintak kudo” ini biasanya dilakukan pada malam hari hingga menjelang subuh.

Akan tetapi,saat ini dunia sedang dilanda pandemi,atau covid-19 yang mengharuskan agar setiap individu menjaga jarak dengan individu yang lain.

Berita yang saya baca pada jum’at,20 Maret 2020 tentang social distancing,termasuk disana bahwa tidak boleh ada resepsi karena itu akan mengundang keramaian.Seperti kasus pernikahan sekitar tiga minggu lalu di desa semurup(desa yang ada dikerinci jambi),pengantin nekat menggelar resepsi pernikahan dan hasilnya resepsi tersebut dibubarkan oleh pihak dari kepolisian.

Banyak sekali warga kampung pelayang baru yang kecewa karena harus mengurungkan niatnya untuk membuat sebuah resepsi atau pesta pernikahan yang mewah pada pernikahannya.Mereka yang sudah terlanjur menyebarkan undangan pun terpaksa harus tetap melangsungkan akad nikah tanpa resepsi di KUA yang hanya boleh dihadiri oleh enam anggota keluarga terdekat saja,dan tentunya juga dengan menjaga jarak antara satu dengan yang lain.Beberapa calon pengantin juga harus menanggung kerugian karena sudah memesan tenda dan membeli keperluan untuk resepsi.

Namun semua keputusan itu adalah demi kebaikan bersama agar tidak terjadi penulara virus, karena bisa saja dikerumunan tersebut ada yang sudah terinfeksi virus tanpa disadari dan kemudian menularkannya kepada orang lain.

Perspektif Sosio-Antropologis Mengenai Resepsi Vs Pandemi

Resepsi atau alek adalah sebuah kebudayaan yang sudah melekat dan masih dilestarikan hingga saat ini oleh masyarakat kampung pelayang baru,resepsi bagib masyarakat pelayang baru bukan hanya sekedar perkumpulan biasa,melainkan adalah sebuah ukhwah karena pada saat menjelang resepsi semua masyarakat berkumpul dan menjalin tali silaturahmi lagi,yang tadinya mungkin ada yang sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak ada waktu untuk berkumpul bersama tetangga, namun pada momen inilah semua bisa menjalin kembali tali silaturahmi,dan pada saat resepsi semua keluarga hadir disana,saudara dari perantauan jauh tak jarang selalu menyempatkan diri untuk pulang kekampung halaman guna menghadiri resepsi.

Presiden telah mengumumkan tentang social distancing yang membuat kebudayaan yang biasa dilakukan oleh masyarakat ketika resepsi tidak boleh dilakukan karena adalah sebuah pelanggaran jika nekat membuat sebuah keramaian.

Keputusan presiden ini membuat masyarakat tentunya menjadi sedih,begitu pula dengan “Depatai ninek mamak” atau pengurus adat kampung pelayang baru yang sudah biasa melangsungkan upacara ini merasa sedih karena mereka telah melestarikan budaya isi sejak dahulu kala dan harus meniadakan tradisi ini demi kepatuhan terhadap pemerintah.

Pandemi ini benar-benar membuat cidera pada kebudayaan masyarakat pelayang baru,bukan hanya pada tradisi resepsi atau alek akan tetapi juga pada rutinitas yang lain seperti;berkumpul di “umah rundo” atau yang dikenal banyak orang “pos kamling”.Beberapa warga pelayang baru biasa duduk santai ketika sore hari di “umah rundo”sambil “bediang” atau memanaskan badan dengan api unggun kecil dan duduk sambil menikmati “ ayi kawo”(daun kopi yang sudah dilayukan diatas api dan kemudian direbus).

Saya berharap agar kita semua mampu berdamai dengan keadaan dan taat akan peraturan.Tetap tenang,bersabar dan selalu waspada.Sebagaimana sebuah nasihat dari guru kita;
“Kepanikah adalah separuh penyakit,ketenangan adalah separuh obat,dan kesabaran adalah langkah awal dari kesembuhan” -Ibnu Sina

Tetaplah bersabar atas segala ujian yang datang termasuk bersabar dengan adanya wabah ini dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat.

Perbanyaklah berdo’a untuk indonesia dan dunia karena Allah bisa mengubah takdir dengan do’anya seorang hamba.

Dengan berserah diri kepada Allah maka insyaallah kita tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan karena menikah tanpa resepsi.Pernikahan yang paling berkah itu adalah yang dilaksanakan dengan sederhana.

Ambil hikmahnya,mungkin didalam resepsi kita terlalu banyak mubazir dengan menghambur-hamburkan harta, untuk itu allah tegur kita agar kita mempergunakan harta kita dengan melihat kepada saudara yang mungkin unuk makan saja susah,mungkin bisa dipergunakan dengan lebih baik lagi harta titipan allah dengan berbagi kepada sesama yang lebih membutuhkan karena sejatinya didalam harta kita memang ada hak orang lain.

Semoga kita semua bisa mengambil manfaat atau hikmah dari setiap musibah yang datang menimpa,karena setiap ujian adalah sebuah pelajaran untuk menaikkan derajat kita jika kita ridha atau memusnahkan kita jika kita tidak peka terhadap kode dari-Nya.

-Ninda syahida
-Ilmu hadist 19
-Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga | Yogyakarta

393 total views, 3 views today

Posted in Opini.