Pengaruh Globalisasi terhadap Perubahan Praktik Budaya keagamaan Islam pada Masyarakat Indonesia

Perkembangan teknologi informasi disertai keilmuan yang terus mengalami perubahan membuat pola kehidupan masyarakat ikut terpengaruhi. Kehidupan masyarakat global saat ini memberikan dampak tersendiri terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Berbagai macam perubahan yang cukup signifikan dapat kita lihat ditengah-tengah kehidupan kita.

“Dunia dalam genggaman”, itulah istilah yang sangat populer dan menggambarkan kehidupan saat ini. Semua informasi dan peristiwa dapat kita saksikan hanya dalam genggaman dan dalam waktu yang relatif singkat serta mampu menyebar hingga ke seantero dunia. Begitupun dengan kecanggihan teknologi tersebut juga memberikan perubahan terhadap praktik keagamaan yang selama ini berjalan ditengah masyarakat indonesia.

Kebiasaan sistem keagamaan yang telah berlangsung secara turun-temurun di masyarakat indonesia perlahan mulai tersingkir akibat pengaruh globalisasi yang memasuki setiap lini kehidupan masyarakat. Kegiatan mengaji bersama diperkampungan misalnya yang saat ini mulai ditinggalkan oleh generasi sekarang. Hal ini terlihat jelas, yaitu generasi sekarang yang disibukkan dengan gadget yang ada di genggaman mereka. Kebersamaan ini seakan hilang ditengah generasi muslim hari ini.

Indonesia terkenal dengan budaya ketimurannya yang memiliki sopan santun, murah senyum serta peduli terhadap sesama. Begitupun dalam ajaran keagamaan juga diajarkan hal yang demikian. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mnyebutkan dalam sebuah hadis:

لا يؤمن احدكم حتي يحب لأخيه ما يحب لنفسه

“tidaklah beriman seseorang diantara kalian, hingga dia mencintai saudaranya seperti ia mencintai diri sendiri”(H.R Bukhari Muslim).

Kecintaan seorang muslim terhadap muslim lainnya merupakan implementasi dari keimanan yang ada dihatinya. Saling tolong menolong serta meringankan beban yang sedang dirasakan oleh saudaranya. Dalam istilah keindonesiaan ini dikenal dengan “semangat gotong royong”.

Tradisi gotong royong telah muncul ditengah masyarakat Indonesia jauh sebelum kemerdekaan. Seiring dengan perkembangan zaman, semangat gotong royong ini mulai dibumbuhi dengan nilai-nilai keagamaan yang berkembang pada saat itu, yaitu nilai-nilai keislaman. Para tokoh pejuang nasional yang memilki latar belakang keagamaan memberikan semangat perjuangan untuk merebut kemerdekaan dengan menanamkan sikap cintah tanah air. Sehingga dengan semangat ini rakyat Indonesia bersatu memperjuangkan kemerdekaan dan kadaulatan bangsa.

Suatu ungkapan yang hingga saat ini masih populer ditengah masyarakat Indonesia, yaitu Hubbul wathan minal iman yang merupakan konsep kebangsaan yang dituangkan oleh Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari dalam upaya meningkatkan semangat cinta tanah air dan bela negara. Slogan yang digagas oleh kyai NU ini yang kemudian dijadikan dalam bentuk syair yang diciptakan dalam sebuah lagu oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah.

Kehidupan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama islam selalu bercermin terhadap nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga norma-norma yang dianggap baik ialah norma-norma yang sesuai dengan tuntunan agama.

Perkembangan zaman yang begitu pesat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pola kehidupan masyarakat indonesia dengan khas budaya ketimurannya. Kecanggihan teknologi dan lajunya penyebaran informasi memiliki dampak positif sekaligus dampak negatif terhadap sistem yang selama ini berjalan ditengah masyarakat.

Dalam hal tingkah laku, kehidupan remaja indonesia saat ini banyak terpengaruhi oleh tontonan yang tidak mendidik. Sehingga mengakibatkan dekadensi moral dan terkikisnya nilai-nilai yang selama ini ada dimayarakat. Diantara contoh yang terjadi pada generasi muda saat ini, hilangnya rasa malu diakibatkan tren yang sedang marak ditengah kawula muda, yaitu aplikasi Tik Tok yang tak jarang menjadi konten untuk melecehkan ajaran-ajaran agama. Seperti video yang sedang viral saat ini, seorang remaja putri yang bermain serta menari dalam sholatnya. Ini merupakan diantara dampak negatif globalisasi terhadap kehidupan beragama.

Dalam kehidupan bermasyarakat juga sangat kontras terlihat sikap egoisme. Banyak masyarakat yang memiliki kecukupan hidup atau memiliki ekonomi menengah keatas tidak memperhatikan nasib fakir miskin yang berada dilingkungannya. Ditengah pandemi corona saat inipun masih banyak para publik figur yang memamerkan harta kekayaannya.

Semangat gotong royong milik bangsa Indonesia perlahan sirna dari jati diri bangsa. Hal ini salah satunya diakibatkan oleh sikap hidup yang hedonisme dan egoisme, sehingga tidak lagi memikirkan nasib saudaranya yang sedang terkena musibah dan dampak dari pandemi ini. Seharusnya, ditengah pandemi seperti ini yang menjadi musuh Negara, hendakya kita kembali berangkulan tangan, saling bahu membahu dalam membasmi dan memerangi pandemi ini. Sebagaimana para leluhur bangsa ini dahulu bersatu dalam mengusir penjajah. Semangat inilah yang harus kita tumbuhkan kembali. Karena cinta tanah air merupakan wujud keimanan, seperti yang dikatakan oleh KH. Hasyim Asy’ari.

Perkembangan kehidupan bangsa yang juga dipengaruhi oleh arus perkembangan dunia membuat agama juga ikut terpengaruh. Kehidupan keagamaan saat ini sangat marak diperbincangkan. Ditambah lagi ditengah pandemi corona ini Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan berbagai macam Fatwa mengenai aktivitas keagamaan. Sehingga juga menimbulkan berbagai macam polemik antar umat beragama.
Pengaruh globalisasi terhadap agama, khususnya islam tidak dapat dielakkan lagi. Hal ini merupakan dampak penguasaan teknologi. New social movement, menjadi bukti bahwa islam telah terasimilasi dengan perkembangan dunia saat ini. Manakala negara-negera maju melakukan ekspansi moral dan ide-ide, maka dalam hal ini islam pun ikut melakukan pembaharuan-pembaharuan terhadap hukum-hukum kontemporer. Sehingga adanya ijtihad dan inovasi baru dalam hukum islam. Misalnya saja fikih kontemporer yang mengadopsi hukum islam tradisional dengan peradaban modern.

Perubahan-perubahan ini tentu merupakan dampak dari adanya perubahan tatanan kehidupan dunia. Karena islam merupakan agama sholihul likulli zaman wa makan, maka hukum yang pada zaman klasik atau permulaan belum ada, sedangkan pada era modern menimbulkan polemik serta problem kekinian perlu dilakukannya ijtihad oleh para ulama. Ini semua merupakan dampak dari globalisasi terhadap kehidupan beragama.

Namun, bentuk ijtihad semua ini juga harus berdasarkan terhadap tuntunan agama yaitu Al-qur’an dan Hadis. Misalnya: fatwa pelarangan Shalat jum’at bagi masyarakat yang berada didaerah yang terkena pandemi covid19 harus mengacu terhadap kejadian yang pernah menimpa kaum muslimin dimasa lampau dan mempertimbangkannya berdasarkan konsep maqasidussyari’ah. Adapun bagi daerah yang masih berada dikawasan zona hijau masih diperbolehkan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan oleh tim kesehatan.

Jadi, problemasasi globalisasi ini memiliki dampak positif dan negatif bagi kehidupan budaya serta beragama di indonesia. Maka, dalam menanggapi arus globalisasi ini masyarakat harus dibekali kecerdasan secara intelektual serta kecerdesan secara spritual sehingga mampu memfilter berbagai macam arus globalisasi yang masuk ke Indonesia.

 

Ahmad Jumaidi

  1. Mahasiswa Ilmu Hadis angkatan 2019

357 total views, 3 views today

Posted in Kajian.