Impresi Akulturatif Santri Nurul Jadid Probolinggo Atas Covid- 19

World Health Organization (WHO) menetapkan corona virus disease (Covid-19) sebagai pandemi pada tanggal 11 Maret 2020. Hal tersebut didasarkan karena secara geografis, penyebaran virus dilansir dari media online TribunJogja.com sudah mencapai 210 negara dan penyebaran tersebut masih terjadi hingga Kamis 14 Mei 2020.

Indonesia terkonfirmasi sebagai salah satu negara terdampak setelah d ua orang warga negara Indonesia dinyatakan positif corona. Untuk merespon hal tersebut Pemerintah Pusat mengeluarkan himbauan kepada masyarakat untuk menerpakan social distancing, yang meliputi bekerja dari rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah.

Dengan adanya kebijakan tersebut, tidak sedikit masyarakat merasakan dampaknya. Mulai dari segi ekonomi, pendidikan, agama dan lain sebagainya. Namun yang saya fokuskan dalam tulisan ini adalah dampak terhadap umat beragama khususnya santri Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan masyarakat disekitarnya.

Santri secara umum adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di Pesantren, biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai. Berbagai kegiatan keagamaan diatur sedemikian rupa untuk bisa diikuti oleh para santri, mulai dari kegiatan rutinan, mingguan, bulanan bahkan hari-hari besar Islam.

Salah satu kegiatan rutinan para santri Pondok Pesantren di berbagai wilayah tentunya adalah pelaksanaan shalat berjama’ah di Masjid. Hal tersebut seolah-olah sudah menjadi satu dari sekian banyak ciri tersendiri bagi para thalibul ‘ilmi di Pondok Pesantren. Begitu juga dengan santri Nurul Jadid, yangmana pelaksanaan shalat 5 waktu dilakukan dengan berjama’ah.

Suasana Pesantren di bulan Ramadhan begitu ramai, berkesan dan membekas karena kegiatan-kegiatan yang ada didalamnya. Momen ini dijadikan peluang untuk para santri dan alumni untuk mengikuti PESROM (Pesantren Romadhan) di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Namun berbeda dengan Ramadhan kali ini yang terasa sepi dan hampa sebab segala aktivitas ditiadakan. Mengaca pada kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja disebabkan adanya penularan Covid-19 yang begitu cepat, mendorong diperlukannya langkah pencegahan dan antisipasi agar virus ini tidak semakin menyebar luas menginfeksi masyarakat.

Beberapa langkah pencegahan di upayakan oleh pihak pesantren sejak pandemi, seperti menetapan lockdown dengan meniadakan segala aktivitas santri yang sifatnya terdapat pertemuan orang banyak (sekolah umum, sekolah diniyah, ekstrakulikuler, dan lain sebagainya), para santri dilarang untuk di jenguk oleh keluarganya untuk sementara waktu. Bahkan untuk mengantisipasi agar tidak ada orang yang keluar masuk Pesantren, hingga saat ini SATGAS (Satuan Tugas) Pondok Pesantren Nurul Jadid tetap bertugas seperti biasa walaupun sedang dalam masa liburan.

Selain upaya-upaya tersebut, pemulangan santri kedaerahnya masing-masing pun dilakukan lebih awal. Hal ini berdampak pada kegiatan keagamaan pada PESROM (Pesantren Romadhan) di Pondok Pesantren Nurul Jadid yang biasanya rutin diselenggarakan setiap 15 hari pertama di bulan Ramadhan. Namun demikian, masih banyak para santri yang tidak bisa pulang kedaerahnya disebabkan beberapa alasan. Baik alasan pribadi maupun tuntutan tanggung jawab dari Pesantren.

Disamping peniadaan aktivitas santri yang sifatnya terdapat pertemuan orang banyak, lain halnya dengan shalat berjama’ah di Pondok Pesantren yang tetap dilaksanakan. Tak hanya para santri, masyarakat sekitar pun turut serta dalam kegiatan tersebut. Tak heran, karena letak Pesantren Nurul Jadid berada ditengah-tengah pemukiman.

Maraknya penyebaran Covid-19 tidak membuat pihak pesantren kehilangan akal untuk bisa tetap melaksanakan ibadah shalat berjama’ah tanpa melanggar kebijakan dari pemerintah, berbagai upaya dilakukan. Hal tersebut secara tidak langsung melahirkan sebuah proses akulturasi ditengah-tengah santri dan masyarakat sekitar, yang mana secara umum akulturasi sendiri merupakan sebuah proses sosial dimana masuknya suatu kebiasaan baru secara perlahan dan dapat diterima tanpa menghilangkan kebiasaan lama suatu masyarakat.

Alasan Pondok Pesantren Nurul Jadid tetap melaksanakan shalat berjamaah di masjid ialah karena pihak pesantren tetap menjadikan kebijakan pemerintah mengenai pencegahan Covid-19 sebagai acuan utama dalam melaksanakan kegiatan keagamaan. Pihak pesantren menerapkan banyak peraturan yang harus diterapkan, mulai dari pemberian jarak saat shalat berjamaah, penyediaan handsanitizier, penyemprotan masjid dengan disinfektan sebelum shalat berjamaah dimulai, sampai penggunaan masker untuk setiap jama’ah. Jadi pihak Pesantren merasa sudah menaati himbauan pemerintah dan hingga saat ini masyarakat serta santri merasa aman dan nyaman dalam menerapkannya.

Menurut salah satu Pengurus Pesantren yang saya wawancarai mengenai tanggapan tentang shalat berjamaah dengan shaf berjauhan, dihadapi dengan kondisi yang seperti ini, awalnya beliau merasa aneh dan tidak khusyu’. Sebab yang kita tahu anjuran yang terbaik dalam melaksanakan shalat berjama’ah adalah merapatkan shaf. K.H. Zuhri Zaini, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid pun setiap melaksanakan shalat berjama’ah tidak pernah lupa untuk mengingatkan jama’ahnya untuk merapatkan shaf. Namun melihat keadaan yang genting seperti saat ini, mengharuskan kita untuk menanggapinya dengan serius. Banyak juga para ulama menjelaskan bahwa tedapat beberapa hukum dalam Islam yang dianjurkan namun di ma’fu untuk tidak mengerjakannya dalam masa pandemi ini.

Kegiatan keagamaan yang tetap berlangsung dibarengi dengan anjuran-anjuran dari pemerintah yang tidak ditinggalkan merupakan keputusan kepala Pesantren K. Hamid Wahid, atas dasar persetujuan K.H Zuhri Zaini. Mengaca pada kehidupan di lingkungan Pondok Pesantren yang sangat kompleks dan besarnya kemungkinan penyebaran Covid- 19 jika ada salah satu yang terinfeksi.

Selain itu dari pihak Pesantren berharap semua santri baik yang berada dirumah maupun yang masih menetap di Pesantren dalam keadaan sehat, tetap bisa menjalankan aktivitas keilmuan yang telah disediakan oleh pihak Pesantren. Berbagai upaya yang dilakukan pengurus Pesantren dan jajaran pengasuh tidak lain merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama, mengambil peran dalam menghadapi pandemi. Hal tersebut telah dilakukan oleh pemerintah dengan membuat regulasi. Paramedis mengobati dan masyarakat harusnya menaati. Melanggar aturan bukanlah jalan keluarnya, justru hal tersebut akan memunculkan permasalahan baru. Kita dapat memadukan hal lama dan yang baru secara bijak untuk bisa tetap menjalani kebiasaan kita seperti pada kasus pembahasan ini.

Irsya Atsna Nur Sabila

Mhs Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

474 total views, 6 views today

Posted in Kajian.