REFLEKSI KEILMUAN PASCA 24 TAHUN WAFATNYA MUHAMMAD AL GHAZALI

Muhammad al Ghazali adalah salah satu ulama terkemuka yang berasal dari Buhairah-Mesir, tempat dimana tokoh-tokoh besar islam lahir dan masyhur pada zamannya. Seperti Mahmud Syaltut, Hasan al Banna, Muhammad al Madani, Abdullah al Musyid. Pemberian nama Muhammad al Ghazali yang lahir pada tahun 1917 M. tersebut, konon adalah atas petunjuk dari Abu Hamid al Ghazali (Imam al Ghazali) kepada ayah dari Muhammad al Ghazali sewaktu bermimpi di malam hari.

Al Ghazali menempuh pendidikan berjenjang dari sekolah agama dasar hingga perguruan tinggi. Jelajah keilmuan yang ia tekuni, membawanya kepada berbagai penghargaan dan jabatan prestisius dari beberapa lembaga. Penghargaan dan jabatan tersebut seperti diangkat menjadi imam besar di masjid al Utba’ al Khadra, Kairo; Wakil Menteri Wakaf dan Urusan Dakwah Mesir; Menjadi dosen pada beberapa fakultas di Al Azhar Kairo, Univesitas Qatar dan Universitas King Abdul Aziz Jeddah; Hingga menerima penghargaan luar biasa di bidang pengabdian dan dakwah islam dari pemerintah Mesir, Arab Saudi dan Aljazair. (Suryadi: 2008)

Karirnya di bidang perjuangan terhadap kebangkitan islam pun direalisasikan dalam berbagai aktivitas seperti berdakwah. Dalam menyampaikan gagasan-gagasannya, ia aktif dalam dunia kepenulisan, seminar hingga menjadi seorang orator handal dalam ceramah-ceramah keagamaannya. Secara khusus di kawasan Timur Tengah, al Ghazali dikenal sebagai seorang da’i yang sangat terkemuka.

Muhammad al Ghazali merasa bertanggungjawab untuk melawan pihak-pihak yang ingin memecah belah umat islam. Menurut al Ghazali, setidaknya ada dua target dakwahnya, yaitu kelompok eks-islam yang meliputi Zionisme, Kristen dan Komunisme yang saat itu gencar-gencarnya untuk saling meruntuhkan Islam. Yang kedua adalah pihak di dalam tubuh agama islam sendiri, yakni orang-orang yang tidak memahami hakikat islam, namun merasa sangat lihai dalam urusan agama. Kelompok terakhir inilah yang menurutnya lebih berbahaya dari kelompok pertama.

Karyanya di dunia keilmuan islam, rasanya tidak perlu diragukan lagi. Al Ghazali aktif menulis berbagai artikel yang termuat di beberapa majalah ternama di timur tengah. Tak hanya itu, karya berwujud buku pun melimpah di pasaran, terhitung ada 59 buku yang menghiasi kiprah keilmuannya. (Suryadi, 2008) Adapun karya al Ghazali yang sangat masyhur dan populer adalah buku yang berjudul al Sunnah al Nabawiyyah baina Ahl al Fiqh wa Ahl al Hadits.

Dalam buku tersebut, al Ghazali mengutarakan sekaligus menyajikan pemahamannya terhadap hadis dengan proporsional dan tepat. Buku al Sunnah al Nabawiyyah baina Ahl al Fiqh wa Ahl al Hadits adalah sebuah wujud pengalaman al Ghazali yang berhasil terkodifikasi. Ia merasa sangat prihatin dengan keadaan umat islam yang mulai melupakan sendi-sendi keagamaannya, seperti politik, pemerintahan, sosial budaya, hingga problem khilafiyyah yang dibesar-besarkan secara berlebihan.

Karya-karyanya mendapatkan royalti berupa sambutan yang luar biasa, baik dari kalangan agamawan maupun akademisi. Akan tetapi, bukan tanpa hambatan dan kekurangan, karyanya dikritik tajam sehingga memunculkan berbagai pihak yang pro maupun kontra. Fenomena tersebut dilatarbelakangi oleh sebuah argumentasi Muhammad al Ghazali yang mencoba mempertanyakan kembali sahihnya sebuah hadis. (Al Ghazali, 1989) Berbagai kritikan tajam tersebut mengantarkan tuduhan-tuduhan yang keras kepada al Ghazali. Pihak yang merasa menolak pernyataan al Ghazali, kemudian menjustifikasi al Ghazali sebagai pengingkar sunnah.

Akan tetapi, ulama sekaligus ilmuwan muslim tersohor seperti Yusuf Qardlawy meluruskan bahwa hadis yang dipermasalahkan al Ghazali sangat sedikit dan penolakan tersebut tidak didasari atas hawa nafsu, kurangnya wawasan dalam beragama, ataupun maksud untuk mengurangi nilai wahyu. Namun maksud dari al Ghazali adalah hanya untuk membela agama dari kelompok sekuler serta ateis yang mendiskreditkan islam, supaya islam menjadi lemah. (Yusuf Qardlawy, 1995)

Kiprah Muhammad al Ghazali dalam keilmuan islam menemui titik ujungnya saat serangan jantung dan pembekuan darah menyerangnya. Ia meninggal pada tanggal 9 Maret 1996 di Riyadh, tepat saat ia meyampaikan sebuah ceramah sekaligus seminar yang bertajuk “Islam dan Barat”.

Dengan wafatnya al Ghazali, umat islam kehilangan salah satu tokoh yang sangat berani memperjuangkan hakikat agama dengan jalan keilmuan islam yang kuat. Merefleksikan perjuangannya di masa ini, menurut penulis adalah salah satu bentuk usaha dalam menghidupkan kebesaran islam, tentu dibarengi kontribusi pada bidang dan keahlian masing-masing.

 

Oleh Perdana Putra Pangestu

239 total views, 3 views today

Posted in Kajian.