Perdana Putra Pangestu
Nabi Muhammad SAW. sebagaimana umat islam ketahui adalah pribadi yang dijadikan ‘uswah hasanah (panutan/ teladan yang baik) bagi seluruh umat manusia. Hal ini berdasar pada Q.S. al Ahzab (21),
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya : “ _Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah_ ”
Sebagai seorang utusan Allah kepada umat manusia, Nabi SAW. pun mempunyai berbagai sifat layaknya manusia seperti biasa, yangmana sifat tersebut tidak akan bisa membuat derajat kenabian Beliau turun. Hal ini kemudian masyhur dikenal dengan istilah sifat _Jaiz_ Rasul. Sifat-sifat tersebut adalah sebuah wujud dari _اعراض البشرية_ atau sifat yang manusiawi. Dalam hal ini, sifat kemanusiaan pada diri Nabi SAW. seperti makan, minum, buang air, sedih, tertarik dengan perempuan hingga bercanda.
Pada tulisan singkat ini, kita akan sedikit menguak salah satu sifat Nabi SAW. yakni bercandanya beliau dengan seorang nenek (perempuan renta) yang meminta untuk didoakan agar dimasukkan ke dalam surga. Kisah tersebut diriwayatkan oleh al Baghawi (w. 516 H) dalam _Syarh as Sunnah_ , juz XIII, hlm. 183 no. 3606,
وَرُوِيَ أَن النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ لعجوز: إِن الجنَّة لَا يدخلهَا عَجُوز، فَوَلَّتْ تبْكي، قَالَ: ” أَخْبرُوهَا أَنَّهَا لَا تدْخلهَا وَهِي عَجُوز، إِن اللَّه سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُولُ: {إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً {35} فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا {36}} [الْوَاقِعَة: 35 – 36]
Dan telah meriwayatkan bahwa Nabi SAW. yang menceritakan bahwa pernah ada seorang nenek-nenek berkata, “ _Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah semoga Dia memasukkanku ke dalam surga_ ”. Maka Rasulullah SAW. menjawab, “ *_Hai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak akan dimasuki oleh nenek-nenek_* ”. Maka nenek tersebut pergi seraya menangis. Lalu Rasulullah SAW. bersabda, Beritahukanlah padanya bahwa dia tidak dapat memasukinya dalam keadaan nenek-nenek. Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman, “ *_Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan ciptaan yang baru (35), maka Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan (36)_* (Q.S. al Waqi’ah : 35-36)”
Hadis ini pun termaktub pula dalam _Syama’il at Tirmizi_ no. 241.
Merujuk teks hadis di atas, konteks pembicaraan saat itu adalah ada seorang nenek-nenek yang meminta didoakan agar masuk surga. Nabi SAW. menanggapinya dengan bergurau kepada nenek tersebut, bahwa di surga tidak akan ada nenek-nenek. Namun perempuan renta tersebut seakan sedih dengan jawaban Nabi SAW., sehingga nenek itu pergi sambil menangis.
Melihat kejadian ini, Allah menurunkan Q.S. al Waqi’ah ayat 35-36 seperti pada teks hadis diatas. Ayat ini diturunkan untuk menghibur nenek tersebut bahwa memang Allah tidak memasukkannya dalam keadaan yang renta (tua), melainkan Allah akan membuatnya seperti bidadari yang cantik dan perawan.
Senada dengan pernyataan ini, Ibn Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya menuturkan bahwa Allah akan mengembalikan mereka (hambanya yang tua) dalam penciptaan yang baru (muda), yang sebelumnya mereka telah tua renta. Allah akan mengembalikan keperawanan yangmana keperawanan mereka sudah tidak ada di dunia. Allah pun mengembalikan gairah cinta serta disukai oleh suami-suami mereka, karena mereka telah berubah menjadi muda, cantik dan menarik.
Dalam salah satu riwayat at Thabrani (w. 360 H) melalui Bakr bin Sahl ad Dimyati disebutkan bahwa Ummu Salamah pernah bertanya mengenai berbagai persoalan tentang nikmat yang akan didapatkan wanita di dalam surga. Nabi SAW. menjawab dengan membacakan beberapa ayat sebagai jawabannya, beberapa diantaranya yaitu Q.S. al Waqi’ah (22-23; 37), Q.S. ar Rahman (70) dan Q.S. ash Shaffat (49).
Pada riwayat at Thabrani tersebut juga dinyatakan bahwa wanita-wanita mulia di dalam surga adalah wanita yang ketika di dunia senantiasa menegakkan sholat, puasa serta ibadah mereka kepada Allah, sehingga Allah memakaikan nur pada wajah mereka. Pada tubuh mereka pula dipakaikan kain sutra yang putih dan pakaian mereka yang hijau dengan perhiasan berwarna kuning. Allah memberikan itu semua walau wanita tersebut meninggal dalam keadaan tua renta pada saat di dunia.
Kembali pada konteks pembahasan kita, bahwa Nabi SAW. menyampaikan pernyataan kepada seorang nenek yang ingin didoakan masuk surga tersebut adalah suatu kebenaran yang haq. Hal ini sesuai dengan hadis riwayat Abu Hurairah dalam Sunan at Tirmizi no. 1913 serta Musnad Ahmad no. 8125 dan 8366, yang artinya,
Para sahabat berkata, “ _Wahai Rasulullah, Engkau mencandai kami_ ”. Rasulullah SAW. menjawab, “ *_Aku tidak akan pernah mengatakan sesuatu yang tidak benar_* ”
Walaupun dalam hal ini Nabi SAW. membalutnya dengan sebuah gurauan, namun substansi yang ingin disampaikan Nabi SAW. sebenarnya adalah informasi mengenai nikmat di surga. Allah akan menjadikan semua wanita di sana dalam kenikmatan yang luar biasa, walaupun di dunia wanita tersebut meninggal dalam keadaan sudah tua renta.
_Wallahu A’lam bi as Showaab_
26,636 total views, 6 views today

Sebagai sebuah ijthad dalam rangka mengembangkan kajian Studi Hadis di Indonesia dibentuklah sebuah perkumpulan yang dinamakan dengan Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Sebagai sebuah perkumpulan ASILHA menghimpun beragam pemerhati hadis di Indonesia. Himpunan ini terdiri atas akademisi dan praktisi hadis di Indonesia dengan memiliki tujuan yang sama.

