Refleksi Hari Perempuan Sedunia 8 Maret 2020

Perempuan sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki peran dan tanggung jawab yang sama. Hal tersebut setidaknya sama dalam hal penciptaan untuk beribadah. Informasi tersebut terlihat dalam Q.S. al-Thur (52): 56. Atas dasar itulah, Islam  menghargai perempuan dalam ajaran-ajarannya.

 

Muhammad saw. sebagai utusan Allah swt. memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas akhlak. Setidaknya setelah Nabi Isa a.s. selesai mengemban amanah kenabian, keadaan masyarakat semakin jauh dari kebaikan. Tujuh abad lamanya kejadian terus berlangsung yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin, ketauhidan tidak lagi ada dan banyak masyarakat menyembah berhala.

 

Reformasi Islam antara lain telah merubah budaya Arab. Hal tersebut terkait erat rasa malu masyarakat atas kelahiran anak perempuan sehingga sosok anak tersebut dikubur hidup-hidup. Rekaman kejadian dimuat dalam Q.S. al-Nahl (16): 58. Informasi kelahiran anak perempuan menjadikan setiap orang tidak menyukainya.

 

Islam telah membebaskan segala bentuk kemunduran. Syed Ameer Ali (1849-1928) dalam bukunya The Spirit of Islam memberikan ilustrasi bahwa ajaran Islam mampu menghilangkan  perbudakan dan sejumlah kekerasan atas perempuan lainnya.  Tafsir poligami menjadi empat isteri adalah tafsir terbaik pada zamannya di saat pernikahan dengan banyak isteri masih merajalela.

 

Islam mengangkat derajat perempuan dengan ajaran di dalamnya. Jika ada hal yang berlawanan atas pesan kerasulan haruslah dipahami dengan mengkontekstualisasikannya dengan baik. Pendekatan secara tekstualis harus dilihat dengan pendekatan keilmuan lain. Upaya ini untuk menangkap bagaimana risalah kenabian yang merupakan bagian rhmat untuk alam semesta. (MAS)

608 total views, 3 views today

Posted in Kolom Ketua ASILHA.