Reaktualisasi Konsep ar Riwayah bi Al Ma’na terhadap Pemberitaan di Media Digital

Periwayatan  Bi al Ma’na

Pada masa Rasulullah SAW. kegiatan periwayatan hadis dari Nabi kepada sahabat tidak selalu melalui tahap penulisan. Ini dikarenakan budaya pada saat itu terbiasa dengan transmisi secara oral daripada dengan tulisan. Aspek lain yang memengaruhi periwayatan secara lisan adalah perintah awal Nabi SAW. untuk tidak menulis hadis, karena ada kekhawatiran tercampurnya hadis dengan al Quran yang saat itu belum sempurna turun. Akan tetapi ada beberapa sahabat yang tetap mempunyai mushaf pribadi yang berisi hadis-hadis Nabi SAW.

Periwayatan hadis menemui pelbagai macam problematika saat dihadapkan pada sebuah fenomena yang dialami Nabi SAW. dengan tidak mengeluarkan statement berupa sabda. Hal inilah yang melatarbelakangi para sahabat untuk melakukan ar riwayah bi al ma’na, karena hal tersebut sangat mungkin untuk dilakukan.

Namun, periwayatan secara makna ini tidak serta-merta hanya karena Nabi SAW. tidak mengeluarkan sebuah pernyataan lisan. Akan tetapi, aspek pengetahuan, penangkapan pemahaman (kecerdasan) dari para sahabat sangat ditentukan. Sangat dimungkinkan riwayat dari sahabat yang dinilai kesulitan untuk meriwayatkan secara lafal harfiah, akan berbeda redaksinya dengan sahabat yang mampu menghafal serta memahaminya sekaligus. Dalam kondisi seperti inilah, para sahabat ada ruang untuk meriwayatkan secara makna.

Menurut jumhur ulama, periwayatan secara makna diperbolehkan asal teks literal tidak bermuara pada makna ganda dan sanad dari masing-masing hadis berkualitas sahih. Secara gamblang, lafal yang disajikan dalam ar riwayah bi al ma’na adalah rumusan menurut para sahabat, yang selanjutnya diriwayatkan oleh para tabiin. Dalam hal ini, kualitas periwayat pun menjadi titik fokus yang perlu diperhatikan. Sebab perbedaan lafal tidak berarti selalu diriwayatkan bi al ma’na, namun terdapat kemungkinan bahwa yang meriwayatkan hadis adalah periwayat yang kualitasnya tidak tsiqah.

Para Ulama berbeda pendapat menyikapi fenomena ini, ada yang secara ketat dan longgar dalam mempraktikannya. Misal Ibn al ‘Arabiy yang tidak memperkenankan thabaqat selain sahabat untuk meriwayatkan secara makna. Ia menambahkan kembali bahwa sahabat yang dimaksud disini pun juga harus memiliki penguasaan bahasa yang tinggi dan menyaksikan langsung kepada Nabi SAW. Terhitung seperti Ibn Sirrin, Raja’ bin Haywah, Qasim bin Muhammad, Sa’lab bin Nahwiy dan Abu Bakr ar Razi turut sependapat dengan Ibn al ‘Arabiy. (Ajjaj al Khatib: 1975) Sedangkan golongan ulama’ yang memberikan persyaratan tertentu (lima butir) dalam ar riwayah bi al ma’na adalah Ibn as Salah dan Jamaluddin al Qasimi.

Pada tahap selanjutnya, akan muncul pertanyaan bagaimana dengan pemenggalan atau peringkasan matn hadis. Melihat ini, ada ulama yang melarang, ada yang memperbolehkan tanpa syarat, ada pula yang memperbolehkan dengan syarat. (Syuhudi Ismail: 2014) Pendapat yang terakhir inilah yang banyak diikuti oleh kebanyakan ulama. Setidaknya Ibn as Salah pun menyajikan lima syarat yang harus diperhatikan dalam permasalahan ini (Ibn as Salah: 1972).

Reaktualisasi Konteks Pemberitaan Media

Dalam menyikapi fenomena yang terjadi  di masyarakat saat ini, perlu adanya sikap kehati-hatian dalam menyebarkan suatu informasi publik dari sumber tertentu. Menjadi sangat fundamental apabila informasi yang beredar secara masif di masyarakat, dapat membantu untuk menciptakan situasi yang kondusif apabila muatannya berupa opini positif untuk dikonsumsi.

Pernyataan diatas sejalan dengan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers pada pasal 6, yangmana dewan pers (dalam hal ini media) dapat mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar. Revitalisasi terhadap informasi yang pantas disuguhkan kepada masyarakat seharusnya menjadi tujuan utama daripada kepentingan pribadi atau sekelompok golongan saja. Karena hasil dari opini yang dapat mengkonstruksi pemahaman publik terhadap sesuatu, adalah suatu maqashid dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam hal ini, menyampaikan suatu berita atau informasi kita analogikan dengan transmisi periwayatan hadis. Definisi dari “Informasi” menurut KBBI adalah untuk menerangkan, tentu hal ini sejalur dengan sumber hukum islam kedua, yakni hadis, sebagai panduan hidup yang mencerahkan.

Terlepas dari segala problematika hadis yang berbeda-beda dalam memahaminya, tentu sikap bijak perlu digunakan untuk melihat segala tragedi yang terjadi di sekeliling kita. Penangkapan yang berbeda terhadap suatu berita, akan membuka ruang pada pemahaman yang juga akan berbeda pula. Apalagi kebebasan dalam berpendapat telah diatur dalam UUD 1945 Pasal 28E ayat 3, ini tentu akan memberikan peluang besar bagi setiap warga negara untuk mnyampaikan aspirasi dan informasi yang didapat. Berbeda dengan prasyarat dalam periwayatan hadis yang harus melibatkan orang-orang khusus (tsiqat) untuk dapat dipercaya akan keabsahan periwayatannya.

Menyikapi hal ini, tentu perbedaaan ini adalah sebuah anugerah Tuhan Yang Maha Esa, namun sangat naif apabila suatu perbedaan dalam memahami sesuatu, akan bermuara pada sebuah tatanan yang ekstrem dan menyimpang, yang tidak menimbulkan kemaslahatan di ruang publik.

Perlu adanya reduksi makna dan argumentasi yang dicanangkan oleh para ulama ahli hadis, seperti yang sudah dicantumkan diatas, untuk dapat kita realisasikan dan praktikkan dalam transimisi informasi yang baik dan tepat. Selain itu, sikap kehati-hatian menjadi fokus utama dalam penyampaian informasi. Karena dari titik inilah, suatu informasi tidak akan mudah dikonsumsi masyarakat, apabila kita terlebih dahulu mempunyai kesadaran untuk berbagi dan mendakwahkan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama, khususnya untuk semua warga negara.

 

Perdana Putra Pangestu

616 total views, 6 views today

Posted in Berita.