Ilmu Sebelum Bertanya, Adab Sebelum Berbicara
حَدَّثَنَا أَبُو اليَمَانِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ، فَقَامَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حُذَافَةَ فَقَالَ: مَنْ أَبِي؟ فَقَالَ: «أَبُوكَ حُذَافَةُ» ثُمَّ أَكْثَرَ أَنْ يَقُولَ: «سَلُونِي» فَبَرَكَ عُمَرُ عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ: رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا فَسَكَتَ
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar, lalu Abdullah bin Hudzafah menghadap kepadanya dan berkata: “Siapakah bapakku?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bapakmu Hudzaafah”. Ketika semakin banyak pertanyaan, Nabi bersabda: “Bertanyalah kalian kepadaku?” Maka Umar turun berlutut seraya berkata: “Kami ridla Allah sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama kami dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi Kami.” Maka Abdullah bin Hudzafah terdiam.
HR. Bukhari No. 91
Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?
Hadis ini memberikan pelajaran penting tentang etika dalam menerima ilmu dari seorang guru, ulama, mau pun pemimpin. Peristiwa yang melibatkan Umar bin al-Khattab, Abdullah bin Huzafah, dan beberapa sahabat lainnya menunjukkan bagaimana Rasulullah saw. mendidik para sahabat agar memiliki adab dalam bertanya.
Pada saat itu, sebagian sahabat terlalu banyak mengajukan pertanyaan yang tidak memiliki urgensi, bahkan pertanyaan tersebut tidak berkaitan dengan kebutuhan utama mereka. Sikap demikian membuat Rasulullah saw. menunjukkan ketidaksenangan. Beberapa riwayat menggambarkan bahwa perubahan wajah Rasulullah saw.
tampak sebagai tanda bahwa beliau merasa kurang nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Umar bin al-Khattab yang memahami kondisi tersebut segera mengambil sikap dengan bersimpuh di hadapan Rasulullah saw. dan memohon ampun kepada Allah Swt. sebagai bentuk penyesalan atas keadaan yang terjadi.
Hal tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy‘ari bahwa suatu ketika para sahabat banyak bertanya kepada Rasulullah saw., tetapi sebagian pertanyaan tersebut dianggap berlebihan dan tidak memberikan manfaat yang besar. Kondisi itu membuat Rasulullah saw. tampak kurang nyaman, bahkan tanda-tanda ketidaksenangan terlihat pada wajah beliau.
Umar bin al-Khattab yang menyaksikan hal tersebut segera berkata, “Kami rida Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai nabi kami.” Ungkapan Umar tersebut merupakan bentuk permohonan agar para sahabat tidak terus-menerus mengajukan pertanyaan yang tidak diperlukan. Rasulullah saw. melalui peristiwa tersebut mendidik para sahabat agar memahami bahwa bertanya juga memiliki etika dan harus mempertimbangkan manfaat, situasi, serta kebutuhan (al-Bukhari No. 7291, 1422 H).
Salah satu contoh yang sering dijelaskan oleh para ulama adalah pertanyaan Abdullah bin Huzafah tentang siapa sebenarnya ayah kandungnya. Pertanyaan tersebut muncul karena adanya persoalan nasab yang berkaitan dengan dirinya. Namun, persoalannya bukan semata-mata terletak pada isi pertanyaan, melainkan pada waktu dan konteks penyampaiannya.
Saat itu Rasulullah saw. sedang menjelaskan perkara besar mengenai hari kiamat dan berbagai peristiwa yang berkaitan dengannya. Pertanyaan mengenai nasab pribadi dianggap kurang tepat karena tidak berkaitan dengan pembahasan yang sedang berlangsung. Bahkan, ibu Abdullah bin Huzafah merasa tersinggung dengan pertanyaan anaknya tersebut karena khawatir hal itu dapat membuka aib keluarga.
Abdullah kemudian menjawab bahwa sekalipun dirinya dinisbatkan kepada seorang budak berkulit hitam, ia tetap akan menerima dengan lapang dada karena yang terpenting adalah kebenaran, bukan sekadar status sosial (Ibnu Battal, t.t.).
Kemurkaan Rasulullah saw. dalam peristiwa tersebut bukanlah bentuk kemarahan yang bersifat emosional atau pribadi. Rasulullah saw. dikenal sebagai pribadi yang lembut dan tidak mudah marah. Beliau bahkan mengajarkan umatnya untuk mengendalikan amarah dan selalu memilih jalan yang paling mudah selama tidak bertentangan dengan syariat. (al-Bukhari no. 3560, 1422 H)
Oleh karena itu, sikap Umar bin al-Khattab ketika melihat perubahan sikap Rasulullah saw. menjadi contoh keteladanan dalam menghormati guru dan pemimpin. Umar tidak berusaha membela diri atau memperdebatkan keadaan tersebut, tetapi segera meredakan suasana dengan menunjukkan kerendahan hati.
Sikap Umar menunjukkan bahwa seorang pencari ilmu harus memiliki kepekaan terhadap kondisi gurunya, memahami batas-batas dalam bertanya, serta menerima arahan dengan penuh penghormatan. Dari peristiwa ini dapat dipahami bahwa ilmu bukan hanya diperoleh melalui banyak pertanyaan, tetapi juga melalui adab, ketenangan, dan kemampuan memahami situasi.
Budaya Dialog dalam Tradisi Islam Indonesia
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, persoalan etika bertanya menjadi semakin penting, terutama di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial. Banyak ditemukan pertanyaan yang disampaikan tanpa mempertimbangkan kesopanan, konteks, maupun dampaknya terhadap orang lain.
Tidak jarang pertanyaan diajukan bukan untuk mencari pemahaman, tetapi untuk membuka aib, mempermalukan seseorang, atau menggiring opini tertentu. Fenomena tersebut dapat dilihat dalam berbagai ruang publik, mulai dari forum diskusi, pengajian, hingga media sosial. Padahal, hadis Rasulullah saw. mengajarkan bahwa bertanya merupakan bagian dari proses mencari ilmu yang harus dilakukan dengan kebijaksanaan.
Baca Juga: Mengikis Salah Paham, Lewat Islam yang Disalahpahami
Selain itu, muncul pula fenomena memperdebatkan persoalan agama dengan cara mengambil sebagian teks tanpa memahami konteks secara utuh. Sebuah pernyataan ulama atau tokoh agama terkadang dipotong, disebarkan, kemudian menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Baca Juga: Mengapa Mengutip Ayat Al-Quran Tanpa Ilmu Bisa Berbahaya dan Menyesatkan?
Akibatnya, pertanyaan yang seharusnya menjadi jalan menuju pemahaman justru berubah menjadi sarana perdebatan dan konflik. Nilai yang diajarkan Rasulullah saw. melalui hadis ini adalah pentingnya membangun budaya dialog yang sehat: bertanya dengan niat mencari kebenaran, menghormati orang yang memberikan jawaban, dan memahami bahwa tidak semua hal harus dipertanyakan apabila tidak memiliki manfaat yang jelas.
Dalam tradisi pendidikan Islam di Indonesia, khususnya pesantren, prinsip tersebut sebenarnya telah lama menjadi bagian dari budaya keilmuan. Santri diajarkan untuk menghormati guru, memilih waktu yang tepat untuk bertanya, serta mempertimbangkan manfaat dari setiap persoalan yang diajukan. Sikap ta‘zim kepada guru bukan berarti membatasi kreativitas berpikir, tetapi membentuk karakter agar ilmu diperoleh dengan cara yang penuh keberkahan.
Refleksi Hadis Nabi tentang Etika Pengetahuan
Islam tidak hanya mengajarkan pentingnya mencari ilmu, tetapi juga mengajarkan adab dalam proses mencarinya. Rasulullah saw. memberikan teladan bahwa seorang pencari ilmu harus mampu membedakan antara pertanyaan yang bermanfaat dan pertanyaan yang tidak memiliki urgensi.
Dalam konteks masyarakat Indonesia modern, hadis ini menjadi pengingat agar kebebasan bertanya tetap berjalan bersama nilai kesantunan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap orang lain. Dengan demikian, ilmu tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak yang baik.
15 total views, 15 views today

