Saat Agama Terasa Berat, Mungkin Cara Kita yang Keliru
حَدَّثَنَا عَبْدُالسَّلَامِ بْنُ مُطَهَّرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُمَرُبْنُ عَلِّيٍ عَنْ مَعْنِ بْنِ مُحَمَّدٍالْغِفَارِيِّ عَنْ سَعِيدِبْنِ أَبِي سَعِيدٍالْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌوَلَنْ يُشَادَّالدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِيْنُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ
Telah menceritakan kepada kami Abdus Salam bin Muthahhar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Umar bin Ali, dari Ma’n bin Muhammad al-Ghifari, dari Sa’id bin Abi Sa’id al-Maqburi, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang mempersulit agamanya, kecuali ia sendiri yang akan dikalahkan oleh sikapnya (semakin berat dan sulit). Maka bersikap luruslah kalian, mendekatlah kepada kesempurnaan, bergembiralah (atas pahala yang menanti), dan manfaatkaanlah kesempatan pada pagi dan sore hari serta sebagian waktu malam.”
HR. Bukhari No. 38
Makna Kemudahan dalam Agama Menurut Para Ulama
Maksud dari lafaz ad-dīnu yusr adalah bahwa Islam merupakan agama yang penuh kemudahan. Islam disebut sebagai agama yang mudah karena Allah Swt. tidak membebankan kesulitan-kesulitan sebagaimana yang pernah dibebankan kepada umat-umat terdahulu.
Baca juga: Islam itu Agama yang Mudah, Mana Dalilnya?
Misalnya, pada sebagian umat sebelum Islam, bentuk tobat dilakukan dengan cara yang sangat berat, bahkan sampai harus membunuh diri. Sementara dalam Islam, tobat cukup dilakukan dengan meninggalkan dosa, menyesalinya, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Kemudahan dalam Islam juga ditegaskan dalam firman Allah Swt: “Dia sekali-kali tidak menjadikan kesempitan untukmu dalam agama.”
(QS. al-Ḥajj [22]: 78)
Karena itu, seseorang yang terlalu memaksakan diri dalam menjalankan ibadah tanpa memperhatikan prinsip kemudahan justru akan kesulitan menjalankan agama secara konsisten. Ibn al-Mundzir menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan kedalaman hikmah para nabi. Menurutnya, banyak orang yang bersikap terlalu keras terhadap dirinya dalam beragama, tetapi pada akhirnya tidak mampu menjalankan ajaran agama secara sempurna.
Namun, hadis ini bukan berarti melarang seseorang untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah. Yang dilarang adalah sikap berlebihan hingga menyebabkan kebosanan, kelelahan, atau bahkan membuat seseorang meninggalkan kewajiban karena terlalu sibuk mengejar amalan-amalan sunah.
Sabda Nabi ﷺ, “fasaddidū wa qāribū” berarti berusahalah menjalankan agama dengan benar dan proporsional. Jika tidak mampu mencapai kesempurnaan, maka lakukanlah semampunya dan mendekati kesempurnaan tersebut. Adapun kata “wa absyirū” bermakna bergembiralah, karena Allah tetap memberikan pahala atas amal yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit. Selama kekurangan itu bukan karena kesengajaan, maka hal tersebut tidak mengurangi pahala seseorang.
Dalam penjelasannya, Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī menerangkan bahwa sabda Nabi ﷺ tentang memanfaatkan waktu pagi, sore, dan sebagian malam mengandung anjuran agar seorang Muslim memanfaatkan waktu-waktu terbaik untuk beribadah secara konsisten. Dalam Faiḍ al-Bārī, Syekh al-Jaunjūrī menjelaskan bahwa waktu-waktu tersebut sangat baik digunakan untuk berzikir dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Kata ghadwah bermakna waktu pagi hari, rawḥah berarti waktu sore menjelang malam, sedangkan duljah berarti sebagian waktu malam. Ada pula ulama yang memaknai duljah sebagai malam secara umum, tetapi penggunaan kata min dalam hadis menunjukkan bahwa yang dimaksud hanyalah sebagian malam saja, sebab ibadah malam lebih berat dibandingkan ibadah pada siang hari.
Para ulama juga mengibaratkan perjalanan hidup manusia seperti seorang musafir. Seorang musafir tidak akan mampu berjalan terus-menerus tanpa istirahat. Ia memerlukan waktu-waktu tertentu yang paling nyaman untuk melanjutkan perjalanan. Demikian pula manusia dalam menjalani kehidupan dunia menuju akhirat; ia memerlukan ritme ibadah yang seimbang agar mampu istiqamah dan tidak mudah lelah dalam beragama.
Islam yang Mudah di Tengah Kehidupan Modern Indonesia
Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Tidak sedikit orang yang semangat beragama pada awalnya, tetapi kemudian merasa lelah karena menjalankan agama secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kemampuan diri. Akibatnya, ibadah yang awalnya dilakukan dengan penuh semangat justru berubah menjadi beban.
Fenomena ini dapat dilihat dalam berbagai bentuk, seperti memaksakan ibadah sunah hingga melalaikan kesehatan, keluarga, atau pekerjaan. Ada pula yang mudah menyalahkan orang lain hanya karena perbedaan cara beribadah, seolah agama harus selalu dijalankan dengan keras dan kaku. Padahal, Rasulullah ﷺ justru mengajarkan keseimbangan, kemudahan, dan konsistensi dalam beragama.
Baca juga: Fenomena Ghuluw (Melampaui Batas) Dalam Agama
Di sisi lain, hadis ini juga menjadi pengingat bahwa Islam bukan agama yang memberatkan manusia. Prinsip kemudahan dalam Islam tampak dalam banyak aspek, seperti rukhsah bagi orang sakit, keringanan bagi musafir, serta anjuran beribadah sesuai kemampuan. Spirit utama dari hadis ini adalah agar umat Islam mampu menjalankan agama secara istiqamah, tenang, dan penuh harapan kepada rahmat Allah Swt.
Menjalani Agama dengan Seimbang dan Istiqamah
Hadis ini menegaskan bahwa Islam dibangun di atas prinsip kemudahan, bukan kesulitan. Seseorang yang memaksakan diri secara berlebihan dalam beragama justru berpotensi merasa lelah dan tidak mampu istiqamah.
Karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar umat Islam menjalankan agama secara seimbang, mendekati kesempurnaan sesuai kemampuan, serta memanfaatkan waktu-waktu terbaik untuk beribadah. Dengan sikap yang proporsional dan konsisten, seseorang akan lebih mampu menjaga semangat ibadah dan tetap dekat kepada Allah Swt.
13 total views, 13 views today

