Trend Khuruj Tiga Hari Sebagai Sarana Tarbiyah Hijrah Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau

Muhammad Iqbal

19105050101@student.uin-suka.ac.id

 

PENDAHULUAN

Tidak bisa disangkal, perkembangan sosial begitu pesat, lambat atau cepat, mau atau tidak, masing-masing kita dituntut untuk turut andil dalam kontruksi sosial yang ada. dalam kehidupan kita semua mempunyai tujuan yang berbeda-beda, keinginan, maksud hidup, tujuan, bahkan keyakinan yang berbeda. Begitulah kehidupan, kita diciptakan didunia ini dengan ribuan bahkan sampai jutaan makhluk baik dibumi maupun dilangit memiliki tujuan inti yakni sebagaimana yang termaktub dalam kitab suci Al-quran surat Az-Zariyat ayat 56 :

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya : “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi (menyembah) kepadaku”.

Mujahid berkata maknanya adalah “melainkan aku akan memerintahkan mereka dan melarangnya”. Pendapat lain mengatakan yakni “agar mereka tunduk dan patuh kepadaku”. Sebab ibadah secara harfiah adalah tunduk dan patuh. Ya begitu lah kira-kira tujuan pokok kita hidup didunia ini, yang lainnya adalah sebagai batu loncatan, perbekalan kita untuk mengabdi/menghambakan diri kepada Allah SWT.

Kemudian Allah SWT tidak serta merta hanya memerintahkan hambanya untuk taat dan patuh kepadanya, namun ia mengirimkan para Nabi dan Rasul utusannya yang membawa risalah, masing-masing memiliki kitab pedoman untuk menjalankan syariatnya Taurat diwahyukan kepada Nabi Musa as, Zabur kepada Nabi Daud as, injil kepada Nabi Isa as dan alquran kepada Sayyidul mursalin (pimpinan para Rasul) yakni Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai penyempurna pedoman dan syariat yang telah lalu.

Harusnya tujuan kita menjadi terang benderang, semangat dalam menjalankan syariat agama, jauh sebelumnya para utusan tersebut telah menyampaikan risalah nya, namun lagi-lagi ada saja hambatan, keingkaran yang terjadi terhadap arahan dari pada utusan Allah SWT. Hingga sampai saat ini terus saja terjadi fitnah, kebaikan diperjuangkan namun kezhaliman terus berjalan, inilah ujian mau tidak mau harus kita emban, saling ingat mengingatkan antar sesama tentang kebaikan, tunduk dan patuh kepada Allah SWT, firman Allah berbunyi :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. Q.S. ALI IMRAN AYAT 110

Lewat ayat diatas Allah SWT memberitahukan kepada kita tentang pentingnya usaha dakwah, mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Hingga mendapatkan janji Allah SWT. Tak bisa kita bayangkan bila usaha dakwah ini tidak diperjuangkan oleh para utusan Allah apakah amal-amal kebaikan bisa kita jalankan, rasakan hingga saat ini. Mungkin saja kezhaliman akan merajalela bila tidak adalagi orang yang memperjuangkan usaha dakwah ini. Alhamdulillah hingga saat ini tidak henti-hentinya usaha dakwah terus berkembang, berevolusi, ya mengikuti perkembangan zaman, muncul lah berbagai ekosistem yang dikemudian harinya dominan bergerak dibidang dakwah ini. Salah satu yang akan focus kita bahas adalah jamaah tabligh.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di tanjung balai karimun, kabupaten karimun, kepulauan Riau. Objek analisiasnya adalah jamaah tabligh yang kini diwakili oleh simpatisan/orang yang terkesan dengan jamaah tabligh, beberapa aktivis jamaah, amir (orang yang di tuakan dalam jamaah tabligh/orang yang awal terjun dalam usaha dakwah). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan penentuan informan dengan purpossive sampling/sample penilaian (salim,2006).  Pengumpulan data dengan teknik wawancara mendalam (indepth interview), pengamatan langsung/observasi, yang kemudian penarikan kesimpulan.

 

PEMBAHSAN

Jamaah tabligh, menurut pemahaman dangkal saya (karena saya pernah ikut langsung dalam usaha dakwah jamaah tabligh selama kurang lebih 40 hari di provinsi Kalimantan barat) adalah suatu kelompok, jamaah, anggota yang didalamnya berkumpul dari berbagai kalangan (awam,Alim, kaya, miskin, rakyat biasa, maupun pejabat negara), organisasi (NU,Muhammadiyah), mazhab(Syafi’I, maliki, Hanafi, hambali), dll. Dimana mereka memliki kerisauan melihat keadaan yang semakin jauh dari Sunnah Nabi Muhammad SAW, dan mereka terjun langsung dalam usaha tersebut yakni dakwah dari pintu ke pintu, dari pulau ke pulau masjid ke masjid, dengan bekal yang disiapkan masing-masing.

Jadi untuk nama jamaah tabligh sendiri itu hanyalah sebutan dari orang-orang saja, bahkan ada yang menamakannya dengan sebutan jamaah kompor, ya kompor, karena biasanya jamaah Ketika akan bergerak mesti membawa perlatan masak lengkap beserta kompornya, ya saya pribadi pernah mendapat tugas membawa peralatan masak sesuai jatah tugas. Dan ada juga yang lain menyebut jamaah jenggot, jamaah sunnah, dll itu semua hanyalah spekulasi dari orang yang melihat dan menilai.

Ditinjau dari legitimasinya jamaah tabligh bukanlah Lembaga resmi, lahir bukan atas dasar politis dan menjauhi hal-hal yang berhubungan dengan politik bahkan melarang anggotanya untuk tidak terlibat dalam politik (Nisa, Husaini, dan Alamsyah,2017). Ya begitulah yang saya rasakan tidak pernah saya mendengar kajian didalam jamaah terkait masalah politik. Akan tetapi lebih kepada meningkatkan kualitas iman dan amal sholeh. Jamaah tabligh memiliki ciri khas bila berdakwah tidak membicarakan masalah politik dan khilafiyah (mustofa,2016). Pergerakan jamaah tabligh mampu masuk ke seluruh pelosok dunia, bahkan sampai ke seantero dunia internasional, bagaimana tidak Gerakan tersebut mulai berkembang sejak tahun 1920-an yang dipelopori oleh seorang syekh dari india Syekh Maulana Ilyas Al-khandahlawi, yang kemudian mulai masuk di Indonesia  dan berkembang begitu pesat, dengan anggota yang terhitung cukup banyak namun secara administratif tidak memiliki data anggotanya, begitupun dengan struktur nya tidak ada, yang ada hanya amir(ketua rombongan) dan bagian-bagian yang membantu program kerja dari jamaah.

Diindonesia sendiri pusat jamaah atau yang biasa di sebut dengan  markaz berada di Jakarta, khususnya di masjid kebon jeruk dijalan Hayam Wuruk Jakarta kota. Mulailah jamaah menyebar keseluruh pelosok yang ada diindonesia ini, hampir setiap sudut kota, desa, kampung, pernah dijamah oleh jamaah tabligh. Sampai lah akhrirnya jamaah tabligh diprovinsi Kepulauan riau, tepatnya di kabupaten karimun. Sekitar tahun 2000 (Nazaruddin, 2020) beliau sebagai orang tua markaz, Ketika diskusi menjelaskan sedikit kronologi pergerakan jamaah tabligh di Karimun.

Perjuangan pergerakan jamaah cukup berat karena awal-awal pada tahun itu memang kebanyakan masyarakat karimun masih asing dan tabu dengan jamaah semacam ini, mereka lebih dekat dengan pengajian terjadwal dan ditempat bukan berpindah pindah dari rumah ke rumah dsb, seperti yang dicontohkan oleh jamaah tabligh. Bahkan tak sedikit yang menuduh jamaah membawa ajaran sesat, parah lagi ada yang mengatakan ini pergerakan teroris, miris. Padahal mereka hanya mengajak untuk memakmurkan masjid dan terus semangat untuk beramal sholeh.

Dilihat dari culture masyarakat Karimun, memang sedikit keras mereka tak segan-segan membubarkan komunitas yang dianggap meresahkan, maka tak heran beberapa waktu jamaah tabligh pernah diusir dari sebuah desa dikarimun, bahkan ada yang melaporkan ke kantor polisi, namun setelah diinterogasi tidak ada yang dicemaskan dari pergerakan mereka, mereka hanya perlu koordinasi kepada kepala daerah bila ingin melancarkan program dakwahnya.

Perlahan para pemuka agama, tokoh masyarakat, pimpinan pondok, aktivis, mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat karimun, mulai membuka ruang untuk pergerakan jamaah tabligh, ya sih butuh waktu, karena memang dalam konteks sosial hal yang wajar bila masyarakat tabu dan risih melihat pergerakan jamaah tabligh yang model dakwahnya lebih personal pendekatan emosional begitu kental, namun lambat laun hanya masalah waktu kapan masyarakat mulai menerima model dakwah seperti ini.

Tak main-main, program dakwah jamaah tabligh di Karimun hingga saat ini menjadi akrab dengan masyarakat, banyak masyarakat mulai ikut andil dalam usaha dakwah ini. Sasaran dakwah jamaah tabligh memang umum siapa saja masuk dalam cakupan dakwahnya, al hasil mulai dari anak-anak, orang tua, muda/I, tokoh masyarakat, pejabat, dll terkesan dengan usaha dakwah, bahkan hebatnya menurut Syarif Marsidi (beliau aktivis dakwah, pernah menjadi amir jamaah tabligh yang bergerak di kabupaten Karimun) mengatakan pengikut jamaah tabligh dari kalangan preman juga tidak sedikit, ada juga pengedar narkoba, pemakai narkoba, mulai ikut usaha dakwah, setelah beberapa kali jamaah tabligh mengadakan kunjugan ke lapas karimun, dan banyak tongkrongan yang didatangi oleh jamaah tabligh berisi anak anak muda/I mereka  menghabiskan waktu dengan nongkrong dll. Dan alhamdulillah Sebagian muda/I ikut dalam program jamaah tabligh, perlahan mulai dari mengajak mereka ke masjid sholat lima waktu, kemudian mengajak meraka I’tikaf, lanjut ke tiga hari program, dan lain-lain.

Hingga mereka menjadi akrab dengan program-program positif dari jamaah tabligh, disinilah mulai tren hijrah dikalangan milenial, mulai tampak anak-anak muda/I yang semangat mengikuti pengajian-pengajian, meramaikan masjid sholat 5 waktu, dan juga tidak sedikit dari akhwat mulai memakai purdah, hijab/ cadaran, yang Ikhwan mulai banyak yang senang memakai gamis, jubah, dan sorban dll, hingga saat ini banyak anak muda yang pernah mengikuti pogram 3 hari jamaah tabligh, serasa mereka iri dengan temannya, atau juga mereka penasaran dengan program jamaah tabligh. Banyak orang tua juga mendukung program ini , karena dengan itu anaknya yang menjadi berubah, sekarang lebih suka ke masjid, patuh kepada orang tua, lebih sopan dalam berbicara dll.

KESIMPULAN

Dalam konteks sosial pergerakan jamaah tabligh memang terlihat aneh, bahkan maaf kata terlihat kuno. Sekarang adalah jaman teknologi maju edukasi keagamaan sangat mungkin didapat melalui media, namun begitulah uniknya program dakwah jamaah tabligh terkesan lebih mendalam/lebih mengena dihati, mampu membuat pegikutnya berubah, atau trennya hijrah yakni dari kehidupan yang lalai kepada kehidupan yang lebih terarah. Dengan mengikuti program dakwah 3 hari orang-orang semakin bersemangat dalam meningkatkan kualitas iman serta amal sholeh, itu lah tujuan inti daripada jamaah tabligh, hingga sekarang dikabupaten karimun semakin menjadi popular, khuruj 3 hari sebagai sarana tarbiyah hijrah,

 1,798 total views,  6 views today

Posted in Kajian.