Urgensi Teori Sosial dalam Pemahaman Hadis-Hadis Nabi

Dandy Syauqy M (19105050040@student.uin-suka.ac.id)

 

Islam merupakan agama rahmatan lil a’lamiin, sebuah diin yang menjadi panduan bagi seluruh alam. Islam memiliki dua panduan utama dalam memahami ajarannya yaitu kitab suci al-Qur’an dan hadis Nabi Saw . Dua sumber ajaran ini akan senantiasa relevan dengan segala zaman dan akan berlaku hingga hari akhir nanti. Maka teks-teks didalam dua sumber ajaran tersebut tidak akan pernah berubah, melainkan hanya penyesuaian konteksnya saja yang akan berubah.

Selaku umat Islam pasti sudah sangat paham bahwa kondisi saat ini sangatlah berbeda dengan saat teks hadis itu lahir. Teks yang lahir pada zaman Nabi pasti terkait dengan kondisi yang terjadi di wilayah sekitar Nabi dan para sahabat hidup. M. Syuhudi Ismail berkata bahwa “hadis memiliki ajaran yang besifat universal namun sekaligus temporal dan lokal”(Ismail, 1994). Dengan kata lain ajaran yang ada didalam hadis berlaku untuk seluruh umat Islam di berbagai penjuru dunia, namun konteks atau tata cara pengaplikasian hadisnya antara satu tempat dengan tempat lain dapat berbeda.

Maka salah satu cara memahami teks hadis yang merupakan penjelasan lanjutan dari yang telah Allah Swt firmankan dalam kitabnya dan dengan kondisinya yang berbeda dengan zaman Nabi ialah dengan ilmu-ilmu sosial. Teori-teori yang ada dalam segala cabang ilmu sosial sangat dibutuhkan dalam memahami teks hadis untuk menyesuai-kan teks dengan realita yang ada dan terjadi di masyarakat.

Tujuan dari pengintegrasian rumpun ilmu sosial dengan hadis Nabi ialah supaya hadis mampu kembali dimengerti sesuai dengan spirit zaman sekarang. Maksudnya ialah dengan diintegrasikanya hadis dengan rumpun ilmu sosial maka diharapkan adanya reinterpretasi makna hadis agar hadis dapat relevan dengan segala ruang dan waktu, karena sumber ajaran Islam harus dan pasti shahih likulli zaman wa makan(Afwadzi, 2017).

Rumpun ilmu sosial dibutuhkan dalam memahami kembali makna hadis dikarenakan objek penelitiannya ialah manusia dan masyarakat itu sendiri. Berbeda dengan ilmu alam yang objek penelitiannya ialah alam atau lingkungan tempat manusia tinggal. Rumpun ilmu sosial cenderung lebih dirasakan secara langsung oleh manusia daripada rumpun ilmu alam, selain itu ilmu sosial tidak melihat fenomena yang terjadi di dunia ini dengan pandangan hitam atau putih tetapi melihat fenomena tersebut dengan sudut pandang yang beragam(Afwadzi, 2017).

Untuk memahami konteks yang ada dalam suatu hadis, diperlukan berbagai pendekatan dalam rumpun ilmu sosial contohnya ialah pendekatan linguistik, sejarah, sosiologis, sosio-historis, antropologis dan juga psikologis seperti yang ditawarkan dan dikemukakan oleh Nizar Ali (Afwadzi, 2016). Pendekatan-pendekatan seperti ini diharapkan mampu membawa pengertian hadis yang akurat, apresiatif, dan akomodatif kepada dinamika perubahan zaman (Suryadilaga, 2012).

Kita tahu bahwa pengaplikasian hadis antara zaman nabi dan zaman kontemporer terdapat banyak perselisihan. Banyak faktor yang mempengaruhi perbedaan pengaplikasian hadis di Indonesia dengan Saudi Arabia tempat hadis itu lahir. Faktor-faktor seperti geografis, budaya, bahasa dan lain sebagainya yang menurut analisis resepsi disebut-kan bahwa jika masyarakat berada dalam posisi sosial yang berbeda dari penghasil nash, memungkinan masyarakat memaknai suatu nash dengan cara yang berbeda (Qudsy, 2016).

Integrasi antara teori sosial dengan hadis-hadis nabi berpegang kepada prinsip pergeseran paradigma sebagaimana yang diungkapkan oleh M. Amin Abdullah bahwa aktifitas ilmu pengetahuan bersifat historis yaitu terikat oleh tempat dan zaman, dipengaruhi oleh pemikiran serta dinamika kehidupan sosial yang berlangsung dalam rentang masa tertentu. Maka sangatlah mungkin adanya pergantian, peralihan, pemorfulasian kembali serta perbaikan epistemologi keilmuan. Jika hal tersebut tidak terjadi maka aktifitas keilmuan akan tersendat alias bersifat statis (Abdullah, 2001).

Hal-hal seperti diataslah mengapa integrasi teori sosial dengan studi hadis sangat dibutuhkan. Begitu juga dengan pemahaman kembali hadis-hadis nabi dengan menggunakan rumpun ilmu sosial. Jika tidak melakukan pengkajian ulang maka kajian studi hadis dan pemahaman hadis-hadis nabi akan “jalan ditempat”, hanya terpaku dengan hasil pemahaman hadis yang diperoleh para ulama klasik terdahulu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Rerensi

Abdullah, M. A. (2001). Studi Agama, Normativitas atau Historisitas? Pustaka Pelajar.

Afwadzi, B. (2016). Membangun Integrasi Ilmu-Ilmu Sosial dan Hadis Nabi. Jurnal Living Hadis, Vol.1 No. 1.

Afwadzi, B. (2017). Integrasi Ilmu-Ilmu Alam dan Ilmu-Ilmu Sosial dengan Pemahaman Hadis Nabi: Telaah atas Konsepsi, Aplikasi, dan Implikasi. Jurnal Theologia, Vol. 28 No. 2.

Ismail, M. S. (1994). Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma’anil Hadis tentang Ajaran Islam yang Termporal dan Lokal. Bulan Bintang.

Qudsy, S. Z. (2016). Living Hadis: Genealogi, Teori dan Aplikasi. Jurnal Living Hadis, Vol. 1 No.1.

Suryadilaga, M. A. (2012). Metodologi Syarah Hadis. SUKA Press.

 844 total views,  2 views today

Posted in Kajian.