Mengapa Hadis Memerlukan Teori Sosial

Dimas Maulana Sutopo Putra Mahasiswa Ilmu hadis

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Telah kita ketahui bahwasanya di setiap daerah dan zaman memiliki adat istiadat maupun kebiasaannya masing-masing. Yang mana semua itu, pastinya dikarenakan keyakinan dan tindakan yang dihasilkan oleh setiap individu pada setiap daerah pasti memiliki perbedaan. Disini, Hadis merupakan perkataan maupun perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Dimana Nabi Hidup dan Tinggal di Arab Saudi pada saat Tahun 571 M. Yang artinya Hal yang dilakukan Nabi tersebut (yakni Hadis) secara langsung juga ada yang menyinggung maupun terkena akan dampak dari sosial di mana nabi tersebut berada. Seperti hukuman potong tangan bagi pelaku pencurian, kemudian seorang pria boleh memiliki istri yang banyak dan lain-lainnya yang terpengaruh oleh faktor di tempat nabi berada.

Disinilah teori sosial menjadi jalan yang tepat untuk dapat memahami dan mengetahui maksud dari suatu hadis dan juga latar belakang dari hadis nabi tersebut. Teori sosial sendiri adalah ide, pemikiran maupun argumen yang membahas tentang bagaimana dan mengapa hubungan sosial di dalam suatu masyarakat tersebut dapat terjadi. Tujuan Teori sosial adalah untuk memahami bagaimana dan mengapa hubungan sosial pada suatu masyarakat dapat terjadi. Sehingga di dalam memahami maupun mempelajari hadis yang merupakan perkataan dan perbuatan yang dilakukan nabi Muhammad SAW di tanah Arab dan di abad 6-7 Masehi tentunya memerlukan teori sosial.

Baik itu perkataan maupun perbuatan Nabi Muhammad SAW yang terdapat di dalam hadis terpengaruh dengan keadaan sosial di sekitarnya, contohnya adalah poligami yang nabi lakukan. Pada suatu hadis kita dapat mengetahui bahwa nabi memiliki istri yang berjumlah lebih dari satu. Jikalau kita tidak memperhatikan teori sosial dalam memahami hadis tersebut, kita akan langsung menyatakan bahwa poligami merupakan perbuatan yang baik untuk dilakukan semua pria Karena termasuk sunnah (perbuatan yang dilakukan oleh nabi). Tentunya pernyataan itu salah dan tidaklah bisa diterima begitu saja.

Dikarenakan bila poligami dikatakan perbuatan yang baik bila dilakukan semua pria, tidak dipungkiri akan banyak pria yang dari orang kaya maupun miskin, sanggup maupun tidak, akan melakukan yang namanya poligami ini. Maka bila orang yang miskin maupun tidak sanggup ini melakukan poligami, dapat dipastikan makin bertambahnya tingkat kemiskinan dan kekerasan yang terjadi pada daerah tersebut. Dan tentu saja hal tersebut bertentangan dengan ajaran Islam, karena Islam bukanlah agama yang menjadikan penganutnya menjadi miskin dan hancur.

Lain bila kita memahami hadis tersebut menggunakan teori sosial dengan memperhatikan aspek sosiologisnya, maka dapat diketahui bahwa benar Nabi Muhammad memiliki istri lebih dari satu, namun hal itu dikarenakan tradisi orang Arab yang sudah biasa memiliki banyak istri. Faktor yang menjadikannya adalah kondisi lingkungan Arab yang bisa sangat panas saat itu sehingga menyebabkan nafsu para prianya menjadi lebih tinggi. Sehingga bila pria hanya memiliki seorang istri, belum bisa memuaskan nafsu prianya. Tetapi masalahnya sekarang para pria waktu itu kelewat batas dalam memiliki jumlah istrinya. Dan karena itu, Nabi Muhammad hadir dengan Agama Islamnya berperan untuk membatasi para pria jangan sampai kelewat batas dalam memiliki jumlah istri maupun memperlakukan istrinya.

 

 

Dengan begini kita mengetahui apa alasan sebenarnya dibalik jumlah istri yang Nabi Muhammad SAW miliki kenapa lebih dari satu, terlepas jika hal itu merupakan tuntunan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang pastinya Nabi Muhammad SAW memiliki Istri berjumlah lebih dari satu, Dikarenakan hal itu memiliki kebenaran dan bertujuan baik yang hanya Allah swt sajalah yang tahu maksud semuanya. Dan menjadi bukti bahwa Islam merupakan agama Rahmatan lil ‘Alamin yang akan selalu membawa kesejahteraan bagi seluruh alam.

Dari kasus tersebut kita dapat mengambil kesimpulan, terkait mengapa dalam mempelajari hadis memerlukan teori sosial. Salah satunya Supaya kita tidak hanya berusaha memahami hadis hanya dengan melihat satu faktor saja, tetapi kita memahami hadis dengan melihat dan mempertimbangkan berbagai faktor yang penting dan juga membantu dalam menghasilkan pemahaman yang benar terhadap Hadis. Salah satunya adalah faktor sosiologis hadis tersebut. Dikarenakan dalam memahami Hadis kita perlu mengerti faktor sosial apa yang telah mempengaruhi dan terjadi pada saat hadis itu terjadi. Sehingga akan menghasilkan pemahaman dan pembelajaran yang tidak keliru terhadap hadis Nabi Muhammad SAW tersebut.

 1,072 total views,  2 views today

Posted in Kajian.