PENTINGNYA KONTEKSTUALISME DAN KONSEKUENSI TEKSTUALISME DALAM MEMAHAMI HADIS

(Oleh: Amelia Nailul Fauziyah)

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Hadis atau As-Sunnah menjadi salah satu diantara sumber dalam Islam. Sebagai sumber kedua, hadis berperan sebagai bayan (penjelas) al-Quran dari ayat-ayat yang mujmal (global). Sebagai sumber hukum, hadis sangat menetukan dalam ketetapan hukum. Hukum sendiri terlahir dari kondisi atau keadaan yang berkaitan. Bila dikaitkan dengan epistimologi Islam, telaah ini berkaitan erat dengan penalaran bayani, dimana bayani ini hanya menitik beratkan pada teks. Pendekatan ini dinilai kaku dan kurang kompeten dalam menanggapi perubahan zaman.

Pemahaman hadis dinilai sebagai suatu hal yang tidak mudah, dikarenakan hadis merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW. baik perkataan, perbuatan, persifatan maupun ketetapan. Persoalan ini di zaman Rasulullah bukan merupakan perkara yang sukar, karena bila mana salah seorang dari sahabat mengalami kesukaran dalam memahami hadis, maka para sahabat dapat langsung menayakannya pada Rasulullah, begitupun pada masa-masa setelahnya, didukung dengan permasalah hidup yang terbilang cukup sederhana. Tentu berbeda bila dikaitkan dengan era sekarang, peradaban zaman yang kian maju, penciptakan berbagai inovasi kehidupan baru sehingga lahir problem kehidupan yang elusif. Perihal ini menjadi pengaruh pada pola pemahaman hadis. (AW, 2011)

Dalam melakukan upaya ini tidak bisa misal hanya dengan menggunakan metode tekstual maka dari itu dalam rangka menanggapi perkara ini perlu dihadirkan pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual sendiri dalam KBBI memiliki kata dasar konteks yang mempunyai arti bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna atau bisa diartikan sebagai situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. (KBBI Web, n.d.). adapun pendekatan tekstual berarti ragam pemahaman hadis yang condong dengan memumpunkan pada informasi riwayat dengan mengedepankan analisis dari segi paramasastra atau fonologi melalui cara nalar episteme bayani (AW, 2011).

Pada misi tektualisme pemahaman hadis kerapkali belum terselesaikan, maka dalam rangka pemecahan ini mengangkat sistem kontekstualime. Mediasi kontekstualime dalam pemahaman hadis berarti pemahaman hadis dengan memperhatikan uraian kalimat yang dapat mendukung atau keutuhan makna atau dengan meninjau peristiwa yang berkaitan dengan suatu fenomena yang bersandar dari Rasulullah baik itu berupa perbuatan, perkataan, persifatan dan ketetapan. (AW, 2011). Secara historitas pada kajian ilmu hadis, perihal ini memiliki kaitannya dengan ilmu asbab wurud al-hadis, yakni ilmu yang menerangkan tentang sebab-sebab turunnya hadis, hal ini juga berkaitan erat dengan peritiwa atau kejadian apa yang mendorong hadis ini muncul. Namun faktanya, hanya terdapat beberapa hadis yang mempunyai asbab al-wurud. Dalam telaah hadis adakalanya menggunakan pendekatan tektualis dan kontekstualis, namun lebih patut bila memadukan dengan berbagai mempertimbangan keduanya.

Pemahaman hadis terbagi menjadi dua model. Model pertama hanya berdasar pada teks dan model kedua berdasar pada konteks, dalam artian hal apa yang mendorong sesuatu itu ditetapkan. (Shamad, 2016). Pada mode pendekatan ini Ulama Fiqih dan Ulama Hadis cukup relevan. Ulama Fiqih condong menggunakan pendekatan kontekstual, hal erat kaitannya dengan penetepan hukum, maka diperlukan aspek lain. Sementara itu Ulama Hadis lebih condong dengan pendekatan kontekstual. (Arifin, 2014)

Dalam mengahadapi kasus-kasus hadis yang saling bertolak belakang, tidak dicukupkan jika hanya berpegang dengan pendekatan tekstual saja. Pada kasus serupa, masih banyak dijumpai beberapa hadis yang secara tekstual saling bertentangan. Tentu hal ini perlu memperhatikan dalam versi kontekstualnya. Dalam mengatasi perkara ini, kajian ilmu hadis memiliki komponen diantara yakni dengan mengkrompomikan keduanya atau mengunggulkan salah satunya. Pada fokus kajian ini dikenal dengan ilmu mukhtalif al-hadis. (Anas & Rosyadi, 2013)

Berdasarkan pemaparan di atas, sudah jelas mengenai hal-hal termasuk dari dampak atau konsekuensi pemahaman hadis dalam menggunakan pendekatan tekstual. Kemajuan peradaban zaman menjadi faktor yang mendanlasi atas konsekuensi tekstualisme pemahaman hadis. Dalam pandangan ini diperlukan juga menggunakan pendekatan kontekstual.

Penarapan hadis kerapkali tidak sesuai dengan konteks yang dimaksud terhadap apa yang dilakukan di masyarakat. Pemahaman hadis secara tekstual dan kontekstual ini kemudian dipraktikkan pada lini masyarakat lantas keduanya ini dikorelasikan pada kajian living hadis. Pengkajian living hadis terstruktur dalam tiga unsur, dimana ketiga unsur ini saling berhubungan satu sama lain. Adapun ketiga unsur ini adalah tulis, lisan dan praktek. (Muhsin, 2015)

 1,894 total views,  2 views today

Posted in Kajian.